Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
LEMBAGA Swadaya Masyarakat (LSM), Wildlife Conservation Societies, mencatat selama delapan tahun terakhir sebanyak 26 ekor gajah ditemukan mati di dalam kawasan hutan Taman Nasional Way Kambas Lampung Timur.
Wildlife Conservation Societies (WCS) menduga kematian gajah-gajah yang sangat dilindungi ini akibat ulah pemburu liar yang mengincar gading dan giginya, kata aktivis WCS Lampung Timur, Sugio, saat dtemui di Lampung Timur, Rabu (14/2).
Ia merinci, pada 2011 sebanyak enam ekor gajah terdiri atas lima jantan dan satu betina ditemukan mati, dan 2012 satu ekor gajah betina, kemudian 2013 tiga ekor gajah (satu jantan dan satu betina).
"Satunya tidak teridentifikasi jenis kelaminnya karena saat ditemukan tinggal tulang belulang," kata Sugio.
Kemudian 2014 dua ekor gajah ditemukan mati (satu jantan dan satu betina). Pada 2015 enam ekor gajah mati terdiri atas lima betina dan satu jantan. Dan 2016 tiga ekor gajah mati, satu jantan dan satu betina yang satunya ialah bayi gajah yang mati karena sakit.
Pada 2017 empat ekor gajah mati, satu gajah betina dan tiga ekor tidak diketahui jenis kelaminnya karena tersisa tulangnya. Terbaru di tahun ini satu ekor gajah betina berusia sekitar 20 tahun ditemukan mati di wilayah resor III Kuala Penet TNWK pada Senin (12/2) pagi.
Saat ditemukan gigi dan caling (gading gajah betina) gajah ini hilang. Di bagian kepala dan dada gajah liar ini ditemukan beberapa bekas luka tembak.
"Kalau melihat gajah yang ditemukan mati umumnya rusak di bagian kepalanya, hilang gigi dan gadingnya. Kuat dugaan gajah-gajah ini mati karena diburu. Dari jumlah gajah yang mati itu kebanyakan betina," katanya.
Sugio tidak memungkiri perburuan gajah di TNWK masih sering terjadi jika melihat banyaknya gajah yang ditemukan mati secara tidak wajar setiap tahunya di kawasan hutan TNWK. Bahkan, menurut dia, tidak hanya satwa gajah yang diburu, tapi satwa kunci lainnya seperti harimau, badak, beruang, dan tapir juga terancam diburu, termasuk rusa dan burung juga menjadi incaran pemburu. Motif pemburu itu bisa karena ekonomi dan hobi.
"Penyebab maraknya perburuan itu karena banyaknya celah masuk bagi para pemburu ke dalam hutan TMWK mengingat topografi hutan Way Kambas yang datar, berdampingan dengan permukiman penduduk dan berbatasan dengan laut sehingga petugas kesulitan mengawasinya," katanya.
Ditambah lagi faktor minimnya petugas Polisi Hutan atau Polhut Balai TNWK yang tidak sebanding dengan luas hutannya. Sugio menyatakan perlu koordinasi yang kuat antar semua instansi, peningkatan patroli bersama, penegakan hukum yang tegas kepada para pelaku agar peristiwa perburuan gajah dan satwa lain di Way Kambas tidak terulang kembali.
Secara terpisah, Kepala Balai TNWK, Subakir, menyangkal data WCS yang menyebutkan adanya 26 ekor gajah TNWK yang mati akibat diburu. Namun, dia enggan menyebut data gajah yang mati akibat perburuan liar versi Balai TNWK.
"Nanti kita akan panggil WCS untuk mencocokkan datanya, data WCS kok segitu, saya kan baru menjabat dua tahun, jadi saya belum tahu semuanya," kata Subakir.
Mantan Kepala Balai Konservasi Sumber Daya Alam (BKSDA) Lampung ini mengakui pihaknya kecolongan sehingga gajah TNWK mati diburu. Ia mengatakan, Balai TNWK hanya memiliki 50 petugas Polhut, jumlah yang tidak sebanding dengan luas area hutan yang harus diawasi yang mencapai 125.621 hektare dengan batas pantai 73 kilometer dan hutan TNWK yang diapit 37 desa.
Subakir mengatakan menyusul kematian gajah betina yang ditemukan pada Senin (12/2), pihaknya bersama Polda Lampung dan Polres Lampung Timur melakukan olah TKP bangkai gajah itu untuk mencari petunjuk penyebap kematiannya dan menangkap pelakunya.
"Olah TKP oleh Polda Lampung dan Polres Lampung Timur, Balai TNWK hari ini untuk mencari petunjuk dan memastikan pelaku memakai senjata apa, mudah-mudahan ada petunjuk dan pelaku bisa ditangkap secepatnya, doakan saja semoga pelakunya cepat tertangkap," ujarnya. (Ant/OL-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved