Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SENYUM semringah mengambang lebar di bibir Yoesri Nur Rajo Agam, 57, kala didapuk Presiden Joko Widodo (Jokowi) naik ke atas panggung.
Kebahagiaan tentu bukan alang kepalang, sebab dia dipilih oleh orang nomor satu di pemerintahan republik ini, di antara ratusan wartawan lain yang mengacungkan tangan.
"Alhamdulillah, kok bisa mata beliau itu melihat saya, padahal banyak yang mengacung," cerita Yoesri usai peristiwa tersebut.
Ihwalnya, Presiden Jokowi yang hadir di acara pamungkas peringatan Hari Pers Nasional (HPN) 2018 di Danau Cimpago, Pantai Padang, Sumatra Barat, Jumat (9/2), menantang wartawan, dengan meminta satu wartawan maju ke depan (atas panggung).
"Dalam rangka HPN pagi ini, saya minta satu saja wartawan ke depan. Tunjuk jari dulu. Lha banyak sekali, bingung saya. Yah boleh, silakan. Lo senior. Saya mau junior, yang datang senior. Yah gak apa-apa, silakan," kata Jokowi sambil terkekeh-kekeh.
Yoesri beruntung, sebab Presiden Jokowi melihat dia, dan langsung saja dia berjalan dari depan ke belakang, menuju pentas.
Langsung mikrofon pun diberikan kepada Yoesri untuk memperkenalkan diri. Usai perkenalkan diri yang singkat, alangkah terkejutnya Yoesri, Presiden Jokowi meminta ganti posisi. Jokowi jadi wartawan, sebaliknya Yoesri yang presiden.
"Bapak jadi presiden, saya jadi wartawannya," ujar Jokowi sembari tertawa.
Gayung pun bersambut, Yoesri menerima tantangan tersebut. Tanpa grogi sedikit pun, pria yang telah meniti karier selama 40 tahun sebagai wartawan ini, memainkan perannya sebagai presiden.
"Presiden dadakan, saya langsung membayangkan, ketika didaulat menjadi presiden, berarti saya berhadapan wartawan. Kebetulan beliau (Jokowi) langsung mau memainkan peran sebagai wartawan," beber pria kelahiran Bengkalis, Riau, 67 tahun silam ini.
Lalu, dialog pun mencair. Berikut petikannya:
"Baik, saudara wartawan, apa yang mau ditanyakan ?" ujar Yoesri sambil melirik kepada Jokowi.
"Saya aja gak berani, mengatakan kepada wartawan seperti itu, 'apa yang mau ditanyakan'," kata Jokowi menimpali.
Jokowi menanyakan, "Bapak kan punya menteri 34 orang, menteri mana yang bapak anggap paling penting?"
"Sebenarnya semua penting, tapi yang paling penting, menteri yang bisa membuat presidennya nyaman," jawab Yoesri.
"Politis banget," seloroh Jokowi.
"Berarti menteri yang bapak anggap paling penting mana. Menteri apa gitu. To the point aja pak. Bapak jangan mutar-mutar gitu. Bapak dari tadi mutar-mutar terus, saya belum bisa nangkap, belum bisa menulis," sanggah Jokowi, diikuti derai tawa hadirin.
"Baik, menteri yang mengurusi wartawan. Sekarang namanya Kominfo," kata Yoesri dengan nada optimis.
"Bapak anggap penting, kenapa?" tanya Jokowi lagi karena merasa belum puas jawaban dari Yoesri.
"Supaya informasi yang disampaikan, dari kota, hingga desa, sebaliknya, semua menerima informasi dan komunikasi," Yoesri mencoba meyakinkan 'wartawan' yang terus mendesaknya memberi jawaban detail.
Jokowi bergeming, lalu mengungkapkan, "Ini blak-blakan saja yah, kadang sebal, kadang jengkel. Pertanyaan di awal itu enak-enak, tapi sampai di tengah, ditanya yang sulit-sulit."
"Nah, sekarang saya mau tanyakan ke Presiden, media apa yang paling menyebalkan?" Jokowi yang berperan sebagai wartawan kembali bertanya.
Galak tawa membuncah, memecah deru ombak Pantai Padang.
"Yang bapak sering jengkel. Jawab blak-blakan Bapak Presiden," Jokowi terus meminta jawaban yang menarik dikutip.
"Media abal-abal," jawab Yoesri singkat padat.
Lantas, Jokowi membandingkan dengan kondisi di Istana Negara, di mana, katanya, tidak ada media abal-abal.
"Media semuanya resmi, tapi banyak menyebalkan," sambil tertawa Jokowi dalam jawaban yang begitu satire.
"Sampaikan apa adanya, apakah TV, online, cetak," Jokowi terus menagih.
Secepat kilat, Yoesri, langsung bilang, "Yang paling menyebalkan itu Rakyat Merdeka. Hahaha," katanya.
"Bapak Presiden ini blak-blakan seperti perasaan saya. Sama persis," teriak Jokowi dengan sambil tertawa pula.
"Kenapa Pak Presiden, kenapa Rakyat Merdeka?" tanya Jokowi penuh keheranan.
"Yah kalau rakyatnya merdeka, pemimpin itu kan susah. Terlalu merdeka, semua apa aja dianggap merdeka, padahal ada aturan kemerdekaan itu," Yoesri memberi jawaban.
"Sekian, yah terima kasih Pak Yoesri. Sekarang kembali Presidennya saya. Untuk keterusterangan ini saya beri sepeda satu," pungkas Jokowi.
Sepeda langsung digondol Yoesri. Yoesri pun berlalu bersama sepedanya, meninggalkan Presiden
Jokowi yang menceritakan pengalaman melewati Sumatra Barat sebelum menginjakkan kaki di atas Gunung Kerinci, pada 1983 silam.
Dengan begitu, dia menceritakan kekaguman pada Sumatra Barat, khususnya Rumah Gadang. Di puncak HPN 2018, Jokowi pun menunjukkan kekagumannya, dengan menjanjikan revitalisasi rumah gadang di kawasan Seribu Rumah Gadang Solok Selatan.
Sedangkan Yoesri yang ditemui usai keriuhan itu, mengatakan, sangat senang mendapat kesempatan dekat dengan Jokowi, apalagi mendapatkan sepeda.
Meski demikian, dia gundah melihat gelanggang pers hari ini.
"Sekarang saya lihat lebih banyak Pemred daripada wartawannya. Saya kasih contoh, saya punya media, wartawan saya adalah mereka yang sudah bekerja di media lain," ungkapnya.
Hal demikian, menjadi kerisauannya, jika pers tidak berdiri pada posisinya, membawa obor kebenaran, dengan cara profesional.
Saat ini, dia melihat, semua hal yang didefenisikan informasi yang disampaikan adalah berita. Padahal, sebutnya, ada produk media sosial tanpa verifikasi dan produk media yang harus ada verifikasi.
Sementara Dewan Pers, menurutnya, harus ada di tiap daerah, untuk mengawasi media.
"Idealnya, di daerah punya kaki tangan, atau perwaklan Dewan Pers lah namanya, atau memberi kuasa kepada konstituen," tandasnya.
Pria yang memulai karier wartawan sejak 1970 di Berita Raya (koran buruh), ini sudah kenyang dengan asam garam pewartawanan.
Sosok keturunan Minangkabau, persisnya dari Padang Lua, Aga mini, tinggal lama di Surabaya, dan meniti karier di sana. Untuk konteks wartawan masa dahulu dan sekarang, dia mengatakan, wartawan sekarang mengetahui kerja jurnalistik belajar secara otodidak melalui bermacam media.
"Dia merasa pintar sekarang melalui mbah Google, pengetahuan sedikit berdasarkan ilmu, Kalau dulu, orang menjadi wartawan mikir. karena selektivitasnya tinggi. Media sedikit, orang menjadi wartawan melamar pun pilihan. Melamar karena profesi bukan pekerjaan," terangnya.
Kalau sekarang, Yoesri menambahkan, wartawan diorientasikan untuk cari kerja, cari duit.
"Kalau profesi, dia bisa menawarkan, punya nilai tawar, sehingga laku," tukas pria yang telah bekerja lebih dari 10 media ini. (OL-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved