Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
MAKSUD Kementerian Pertanian (Kementan) meningkatkan produksi gabah petani, tetapi yang terjadi di lapangan justru sebaliknya.
Pernyataan tersebut disampaikan Wakil Ketua Kontak Tani dan Nelayan Andalan (KTNA) Kabupaten Indramayu, Jabar, Sutatang, dan anggota Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Srijaya, Desa Kertawaluya, Kabupaten Karawang, Aep Saepudin kepada Media Indonesia, kemarin.
Sutatang mengeluhkan alat mesin pertanian (alsintan) untuk meningkatkan produktivitas yang dikirim Kementan kepada petani sering kali tidak sesuai dengan harapan. Peralatan itu pun akhirnya mangkrak tidak dipakai petani.
"Mesin perontok padi misalnya. Petani itu maunya perontok padi buatan lokal. Namun, yang dikirim justru mesin merek tertentu yang tidak dikuasai petani. Ya, mesin itu nggak dipakai dan menjadi besi tua. Petani kembali lagi pada cara-cara konvensional," kata Sutatang.
Menurut Sutatang, petani di Indramayu kini sangat membutuhkan mesin pompa air. "Mesin digunakan untuk mengeluarkan air dari sawah jika volumenya terlalu banyak."
Senada dengan pernyataan anggota Gapoktan Karawang, Aep Saepudin. Aep dan sejumlah petani kerap menerima alsintan berharga ratusan juta rupiah, tetapi menganggur.
"Bantuan alsintan seharusnya disertai survei dulu. Kementan banyak memberikan bantuan berupa pompa, traktor, dan alat tandur mesin, tetapi percuma karena petani sebenarnya lebih membutuhkan bantuan permodalan untuk melanjutkan usaha," ujar Aep.
Aep pun menceritakan soal bantuan alat untuk memanen padi. "Para petani mengeluh karena banyak biji padi rusak atau tidak terambil. Selain itu, alat tandur mesin juga merugikan karena banyak melewatkan jarak tanam sehingga benih hasil semai banyak yang tidak tertanam. Kami menanam lagi secara manual. Ada alat canggih, tetapi tidak efisien."(UL/CS/X-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved