Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
SEEKOR orangutan ditemukan di Desa Teluk Pandan, Kabupaten Kutai Timur, Kalimantan Timur, Sabtu (3/2) lalu, oleh warga setempat dalam keadaan mati.
Dua hari berikutnya, tepatnya Senin (5/2)), petugas Taman Nasional Kutai (TNK) bersama warga melakukan evakuasi untuk selanjutnya dilakukan rontgen dan autopsi di Rumah Sakit Pupuk Bontang oleh tim Centre for Orangutan Protection (COP), Polres Bontang, Polres Kutai Timur, serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan.
Hasilnya sangat mencengangkan, karena ditemukan 130 peluru jenis senapan angin bersarang di tubuh orangutan tersebut. Rinciannya, di bagian kepala sebanyak 74 peluru, tangan kanan 9 peluru, tangan kiri 14 peluru, kaki kanan 10 peluru, kaki kiri 6 peluru, dan dada 17 peluru.
"Setelah dilakukan rontgen tim dokter menghitung peluru dalam tubuh orangutan tersebut dan ditemukan 130 peluru dan selanjutnya dilakukan autopsi untuk mengeluarkan peluru dan hanya 48 peluru yang bisa dikeluarkan," jelas Ramadhani, Manager Perlindungan Habitat COP, saat dihubungi Media Indonesia, Rabu (7/2).
Ia menjelaskan orangutan berjenis kelamin jantan dengan usia 5-7 tahun itu mati dalam kondisi mengenaskan. Hasil autopsi juga menemukan bahwa kedua mata kanan dan kiri buta disebabkan adanya beberapa peluru di sekitar mata. Ditemukan ada 1 lubang berdiameter 5 mm di pipi kiri. Gigi taring bagian bawah sebelah kiri patah.
Luka terbuka yang masih baru sebanyak 19 titik diperkiraan dari benda tajam. Telapak kaki kiri tidak ada tetapi merupakan luka lama.
Adapun bagian testis kanan terdapat luka sayatan dan bernanah. Lebam daerah paha kiri, dada kanan, dan tangan kiri diperkirakan akibat benda tumpul. Temuan dalam usus besar ada 3 biji buah kelapa sawit dan lambung berisi buah nanas.
"Penyebab kematian sementara diperkirakan karena adanya infeksi akibat luka yang lama ataupun yang baru terjadi. Sedangkan 130 peluru adalah yang terbanyak dalam sejarah konflik antara orangutan dan manusia yang pernah terjadi di Indonesia," tegas Ramdhani.
Ia mengungkapkan, munculnya kasus serupa karena lemahnya penyelesaikan kasus dan kurangnya kesadaran masyarakat sehingga kasus seperti ini terus terulang.
Contohnya, Mei 2016 juga telah terjadi motif kasus yang sama dengan lokasi yang tidak terlalu jauh tetapi tidak terungkap hingga sekarang. Menurut dia, kasus ini jelas sangat mencoreng di tengah upaya pemerintah melakukan strategi dan rencana aksi konservasi orangutan secara nasional.
"Kami akan berkoordinasi dengan kepolisian dan KLHK untuk sama-sama kasus ini bisa terungkap. Pengalaman dua pekan lalu pembunuhan orangutan di Kalahien, Kalimantan Tengah, bisa terungkap oleh Polda Kalteng. Sehingga kami meyakini ini hanya persoalan keseriusan dari pihak penegak hukum dalam menyelesaikan kasusĀ," tambah Ramadhani.
Terkait dengan lokasi kematian orangutan, pihaknya belum bisa memastikan apakah di wilayah Taman Nasional Kutai atau di permukiman penduduk.
"Kalau lokasi saya belum bisa memastikan nanti kami berkoordinasi dengan TNK dan warga setempat," tutupnya. (OL-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved