Gerhana Bulan selalu Berkaitan dengan Gempa?

Depi Gunawan
30/1/2018 19:28
Gerhana Bulan selalu Berkaitan dengan Gempa?
(ANTARA)

GERHANA bulan total (GBT) pada Rabu (31/1) besok merupakan fenomena langka, fenomena yang dinamai sebagai Super Blue Blood Moon itu disebut langka lantaran gerhana bulan total terjadi bertepatan dengan fenomena supermoon dan bluemoon yang jarang terjadi di belahan bumi.

Namun demikian, terjadinya fenomena langit bisa diasumsikan memperparah kondisi saat terjadi ketidakstabilan tanah di bumi. Hal tersebut didasari atas adanya beberapa bencana alam yang bertepatan dengan fenomena benda langit. Meski begitu, masyarakat tidak perlu cemas, sebab tidak selamanya purnama atau gerhana bulan bertepatan dengan kejadian di bumi.

Pernyataan ini disampaikan astronom dari Observatorium Imah Noong, Hendro Setyanto. Menurut pria lulusan Astronomi Institut Teknologi Bandung (ITB) ini, kedudukan bulan, bumi, dan matahari yang posisinya sejajar biasanya cenderung menimbulkan peristiwa alam di muka bumi.

"Tidak ada kaitan secara langsung, perlu dikaji lebih jauh. Namun, ada anggapan jika terjadi gerhana, dan saat itu ada gempa, maka gempa itu akan cenderung besar. Ini baru asumsi saya, perlu dikaji lagi," kata Hendro di Imah Noong, Kampung Areng Desa Wangunsari Lembang, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat, Selasa (30/1).

Contoh beberapa kasus yang pernah terjadi di Indonesia, seperti gempa yang disertai tsunami di Aceh pada 26 Desember 2004, kemudian gempa Yogyakarta 26 Mei 2006.

Menurut dia, gempa berkekuatan 9,1 skala Richter (SR) yang berpusat di sekitar 100 kilometer sebelah barat pantai Sumatra sampai menyebabkan gunungan ombak yang menerjang pantai hingga daratan di beberapa negara di Asia Pasifik bersamaan dengan fase purnama, konjungsi, di mana matahari dan bulan berada segaris di bidang ekliptika yang sama.

Begitu pula dengan gempa Yogyakarta pada 26 Mei 2006, kebetulan juga, sehari setelah gempa tersebut, terjadi bulan mati, dengan kata lain terjadi pada saat bulan berada dalam satu garis lurus di antara matahari dan bumi.

Gempa 6,1 SR di Banten, Selasa (23/1), juga dikait-kaitkan dengan gerhana bulan yang akan terjadi pada Rabu malam besok.

"Di saat gerhana, posisi bulan, bumi dan matahari berada sejajar, terjadi saling tarik menarik karena gaya gravitasi. Semua planet tata surya punya gravitasi, semakin besar planetnya, ya semakin kuat juga daya tariknya. Nah, matahari itu punya daya tarik paling besar jika dibandingkan dengan planet tata surya lainnya. Kalau mereka (bulan, bumi, matahari) tegak lurus, mengkhawatirkan menurut saya," bebernya.

Meski demikian, lanjut dia, dalam setiap gerhana, tidak pula bisa dikaitkan langsung dengan kejadian gempa karena belum ada kajian detail tentang itu.

"Kalau ada, mungkin saya enggak tahu (sudah ada kajian). Namun kalau ada gempa saat purnama, bulan mati atau gerhana, biasanya gempanya gede. Beda sama gerhana parsial, setengah, atau bulan sabit, biasanya pengaruhnya enggak terlalu besar," tuturnya.

Oleh karena itu, imbuh dia, biasanya pada saat puncak gerhana, baik gerhana bulan atau matahari, umat islam disarankan menunaikan salat gerhana (salat khusuf) dan memperbanyak bacaan takbir, tahmid, dan tasbih agar tidak terjadi suatu hal yang berdampak di muka bumi serta untuk mempertebal ketaatan kepada yang maha pencipta, Allah SWT.

"Makanya ketika gerhana itu, orang beragama Islam dianjurkan salat gerhana. Kalau tahu dampak apa yang akan terjadi, pasti orang-orang
menunaikan salat itu (gerhana)," ucap Hendro.

Di tempat yang sama, pakar astronomi ITB, Muji Raharto, mengungkapkan, GBT pada 31 Januari 2018 merupakan salah satu kejadian langka yang hanya terjadi dua kali sepanjang abad ke-21. Fenomena tersebut baru akan berulang kembali pada 2037 mendatang.

Ketika gerhana bulan terjadi, dia menjelaskan, posisi bulan relatif dekat dengan bumi sehingga disebut supermoon. Ketika terjadi supermoon, penampakan bulan lebih besar sampai 14% dan lebih terang 30% dari pada biasanya. Hal itu terjadi lantaran orbit bulan yang berupa elips, sehingga jarak bumi-bulan tidak selalu sama.

"Jarak terjauh bulan dari bumi adalah 406.700 kilometer, sedangkan jarak terdekatnya 356.400 kilometer. Gerhana bulan 31 Januari berlangsung di bulan purnama kedua pada Januari, maka dinamakan sebagai bluemoon. Bluemoon hanyalah suatu istilah, tidak menunjukkan bahwa bulan itu berwarna biru," ungkap dia.

Menurut dia, GBT 31 Januari 2018, masyarakat bisa menyaksikan atau mengenal penampakan atau wajah bulan karena terkena sorot matahari langsung dengan temperatur sampai 100 derajat Celcius. Muji juga tidak membantah jika ada hubungannya antara gerhana bulan dan gempa, meski hal itu tak selalu terjadi.

Namun yang terpenting, dia meminta masyarakat tetap waspada serta tidak boleh takut.

"Besar kecilnya, wallahualam. Ada yang kadang-kadang besar, ada yang kecil. Besar itu kalau skalanya 6 ke atas, destruktif," terang Muji. (OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya