Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
MESKI telah dirawat di RSUD Dr Rasidin Padang, Sumatra Barat, bocah penderita gizi buruk, H, 7, tetap tidak tertolong. Pada Minggu (28/1) pagi menjadi akhir hidupnya. Sang ayah, Afrizon, 38, tidak menyangka anaknya 'pergi' begitu cepat.
"Tanpa ada tanda-tanda yang mengkhawatirkan," ujarnya kepada wartawan, Minggu.
Menurutnya, setelah dibawa ke RSUD Dr Rasidin Padang dan mendapat perawatan, kondisi H tampak semakin membaik.
"Berat badannya saja mengalami kenaikan 1,1 kg dari sebelumnya 8 kg," terangnya.
Kondisi yang kian baik itu membuat H pada akhirnya batal dirujuk ke RSUP M Djamil Padang untuk mendapatkan penanganan yang lebih baik dengan keberadaan peralatan medis yang lengkap.
Namun, sekitar tadi siang, jasad H dibawa pulang untuk disemayamkan di rumahnya, di Kelurahan Banuaran, Kecamatan Lubuk Begalung, Kota Padang, sebelum dibawa ke kampung halaman di Batang Kapas, Pesisir Selatan, untuk dimakamkan.
H ialah penderita gizi buruk pertama yang teridentifikasi tahun ini di Padang. Menurut Afrizon, anaknya sudah berkondisi demikian sejak 3 tahun terakhir. Namun ketiadaan biaya, serta bukan pemegang kartu Badan Pengelola Jaminan Sosial (BPJS), H hanya tergolek lemah di rumah dan sekali-kali mendapat perawatan dukun kampung.
"Jangankan untuk membawa anak saya berobat, untuk biaya hidup sehari-hari saja keluarga itu kepayahan. Sebagai pedagang roti bakar, saya hanya berpenghasilan kurang dari Rp100 ribu sehari, sedangkan istri sebagai ibu rumah tangga tak berpenghasilan. Sementara itu, ia mesti menghidupi empat anggota keluarganya dan menyisihkan Rp300 ribu per bulan untuk rumah ukuran 4 meter x 6 meter yang mereka tempati," tuturnya.
Kabar mengenai H kemudian sampai ke Pemeritah Kota Padang. Baznas Padang bersama pihak Puskesmas Lubuk Begalung segera membawa H ke RSUD Dr Rasidin Padang, Selasa (23/1) lalu.
Kepala Ruangan Bangsal Anak RSUD Dr Rasidin, Siska Olivia, mengonfirmasi bahwa bocah tersebut memang mengalami gizi buruk. Berdasarkan hasil pemeriksaan dokter ahli, H menderita gizi buruk tipe marasmus (kekurangan kalori dan protein) dan beberapa komplikasi penyakit lainnya.
Terkait biaya perawatan pasien, Kepala Dinas Kesehatan Kota Padang, Ferry Mulyani, mengatakan, pihaknya telah menyelesaikan urusan BPJS keluarga pasien. Sebelumnya, pasien sudah terdaftar pada BPJS tipe ketiga (premi Rp25 ribu), tetapi menunggak selama 11 bulan karena keterbatasan ekonomi.
"Tunggakan itu telah ditalangi oleh pihak DKK Padang. Untuk ke depannya, BPJS keluarga pasien akan dialihkan ke Jaminan Kesehatan Sumatra Barat Sakato yang preminya ditanggung oleh Pemda," tukasnya.
Ferry juga mengatakan, kasus yang dialami H merupakan kasus gizi buruk yang pertama di Padang tahun ini. Berdasarkan catatan DKK Padang, pada 2017 setidaknya ada 61 kasus penderita gizi buruk di Kota Padang. Dari jumlah tersebut, kata Mulyani, sebagian besar sudah beralih ke status gizi kurang, sedangkan 11 penderita lainnya masih dalam kondisi gizi buruk. (OL-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved