Menjaga Karakter Unik Arabika Gayo

FD/M-4
28/1/2018 15:40
Menjaga Karakter Unik Arabika Gayo
(kopigayo.net/Kementerian Pertanian/Tim MI)

PERUBAHAN iklim dan pembukaan lahan secara ilegal berdampak pada kualitas kopi gayo. Tingginya pemintaan kopi mengakibatkan masyarakat merajalela membuka lahan pertanian kopi baru di tengah hutan.

Pemilik Kedai Leuser Kopi di Banda Aceh, Danurfan atau yang lebih akrab disapa Gem kepada Media Indonesia, mengaku perubahan iklim semakin terasa di wilayah Aceh bagian tengah. Pasalnya, ada perubahan karakter kopi gayo. Ia menambahkan pernah membandingkan kualitas antara kopi yang tutupan hutan bagus dengan kopi yang tutupan hutan buruk. Hasilnya sangat berbeda.

"Kondisinya berbanding terbalik. Banyak karakter khas kopi arabika gayo hilang. Meski jumlahnya ketika masa panen tidak berpengaruh, tetapi berdampak pada kualitas kopi," sebutnya. Pria yang miris melihat kondisi pertanian gayo saat ini itu berkomitmen tidak membeli kopi yang ditanam di area hutan secara ilegal dan mengembalikan uang keuntungan untuk jasa lingkungan. Tidak sebatas itu, ia mengajak pengusaha kopi lain untuk memboikot kopi yang ditanam di lahan yang berada di kawasan hutan lindung. Gem juga ungkapkan kekhawatirannya akan permintaan kopikopi organik.

"Kopi organik hanya bisa tumbuh di kawasan yang belum terkontaminasi dengan zat kimia dan sebagainya. Permintaan kopi yang tinggi semakin meningkat pembukaan lahan di sana," sebutnya.

Dalam rangka pelestarian hutan, Lauser Coffee membuat kampanye pembelian satu pak Leuser Coffee, pembeli berkontribusi sebesar Rp1.000 untuk pelestarian hutan lingkungan Aceh dan Rp1.000 untuk petani kopi sebagai premium fee.

Cuaca

Sejurus dengan Gem, petani petani kopi di Gayo, Diyus Hanafi , mengaku ada semacam aktimisme kopi saat ini. Anakanak muda sekarang masuk ke dunia kopi sebagai tren, tetapi ada juga yang sadar jika pertanian dilakukan secara intensif hasilnya akan optimal dan makmur. "Sebaliknya, pola ekstensif dilakukan jika produksi kurang akan di-replanting atau tanam ulang, tetapi lebih banyak membuka lahan baru untuk kebun," sebutnya.

"Yang perlu dilakukan ialah mengintensifkan kebun yang sudah ada," harapnya. Jika diinsentifkan, satu hektare (ha) kebun bisa menghasilkan 3 ton green bean yang bisa mengcapai Rp360 juta per tahun. Bila diasumsikan di Aceh Tengah dan Bener Meriah memiliki 120 ha, bila diintensifkan bisa mendapatkan 300 ribu ton green bean.

Sayangnya karena tidak intensif tidak mencapai 100 ribu ton. Berdasarkan diskusi sesama pengiat dan petani kopi, menurutnya, dulu hama pengerek buah di ketinggian 800 mdpl tidak bisa naik, artinya hama itu tidak bisa bertahan hidup karena suhunya dingin. Akibat pembukaan lahan, suhu udara mengalami peningkatan.

"Sekarang hama itu sudah ada yang hidup di ketinggian 1.500 mdpl, maka indikasi perubahan naiknya suhu memengaruhi produktivitas kopi," terangnya. Parameter lainnya, banyak orang mengaku jika Takengon dan Bener Meriah kondisi cuacanya tidak sedingin dulu. Bila cuaca terus seperti ini, kopi gayo hanya bertahan selama 30 tahun lagi. Umumnya masyakarat Gayo menanam kopi variestas Timtim dan Ateng Super. Menurutnya, kopi bibit tintim dalam tiga tahun baru berbuah dengan masa umur bisa mencapai 25 tahun. Tetapi saat ini 15 tahun saja buahnya sudah mulai berkurang.(FD/M-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Kardashian
Berita Lainnya