BMKG Catat 46 Kali Gempa Susulan di Lebak

Depi Gunawan
24/1/2018 18:56
BMKG Catat 46 Kali Gempa Susulan di Lebak
(Antara)

DUA kali gempa susulan terjadi di Lebak, Banten, pada Rabu (24/1), tetapi skala gempa kali ini lebih kecil jika dibandingkan dengan kejadian sehari sebelumnya, Selasa (23/1).

Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Bandung, Tony Agus Wijaya, mengaku, gempa susulan dirasakan masyarakat yang tinggal di daerah Cimandiri, Panggarangan, Lebak, Cikande, Serang, Ujung Genteng, Curug Kembar, Kota Sukabumi, Jakarta, Tangerang, dan Bekasi, dalam skala intensitas II Skala Intensitas Gempabumi (SIG-BMKG).

"Masyarakat yang tinggal di Bogor, Cianjur, dan Depok juga merasakan guncangan gempa tapi dalam skala intensitas I SIG-BMKG," kata Tony di Bandung, Jawa Barat, Rabu.

Dia menyebutkan, gempa susulan terjadi pada pukul 08.49 WIB dengan kekuatan 4.2 skala Richter (SR). Pusat gempa berada di 7.15 LS, 106.08 BT atau 67 kilometer barat daya Lebak, Banten, dengan kedalaman sekitar 36 kilometer.

Sedangkan gempa kedua terjadi pada pukul 13.32 WIB dengan kekuatan 5.1 SR. Pusat gempa berada 7.16 LS - 106.07 BT atau 69 km barat daya Lebak, Banten, dengan kedalaman 42 km.

"Gempa bumi selatan Banten ini termasuk dalam klasifikasi gempa berkedalaman dangkal akibat aktivitas subduksi Lempeng Indo-Australia ke bawah Lempang Eurasia. Hasil pemodelan menunjukkan bahwa gempa tidak berpotensi tsunami," bebernya.

Tony mengungkapkan, hingga Rabu sore sudah tercatat 46 kali gempa susulan tetapi skalanya semakin mengecil. Dia berharap masyarakat tetap tenang dan tidak terpengaruh isu yang belum dapat dipertanggungjawabkan kebenarannya.

"Gempa susulan umumnya terjadi 3 hari setelah gempa utama sudah hilang, tetapi kekuatannya semakin kecil dan sebagian besar tidak dirasakan manusia. Hanya bisa tercatat di seismograf perekam gempa," ungkapnya.

Sementara itu, diduga akibat guncangan gempa yang berpusat di Lebak, Banten, seorang warga bernama Atep, warga Cililin, Kabupaten Bandung Barat, tewas karena tertimbun tanah pada Selasa sore.

Dari informasi yang dihimpun, korban baru beres menggali tanah dengan panjang 10 meter dan kedalaman 3 meter. Namun, Atep kembali ke tempat galian karena mau mengambil alat perkakas yang tertinggal, tiba-tiba material tanah longsor dan langsung menimbun tubuhnya.

Jasad korban sudah dimakamkan pada Rabu pagi di tempat pemakaman umum (TPU) Kampung Sumuput, Desa Nanggerang, Kecamatan Cililin, yang tidak jauh dari rumahnya. (OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya