Presiden Ingin Penataan Sungai Citarum tidak Ditunda Lagi

Bayu Anggoro
16/1/2018 22:18
Presiden Ingin Penataan Sungai Citarum tidak Ditunda Lagi
(ANTARA FOTO/Raisan Al Farisi)

PRESIDEN Joko Widodo hadir langsung memimpin rapat penataan Sungai Citarum, di Bandung, Selasa (16/1) malam.

Rapat di Balai Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) di Jalan Turangga itu dihadiri sejumlah menteri terkait seperti Menteri PUPR Basuki Hadimuljono, Menteri Koordinator Kemaritiman Luhut Binsar Pandjaitan, Menteri Koordinator Politik, Hukum, dan Keamanan Wiranto, Menteri Lingkungan Hidup Siti Nurbaya Bakar, Menteri Koordinator Pembangunan Manusia dan Kebudayaan Puan Maharani, Menteri Sekretaris Negara Pramono Anung, dan Menteri Badan Perencanaan Pembangunan Nasional Bambang Brojonegoro.

Selain itu, hadir juga Gubernur Jawa Barat Ahmad Heryawan. Rapat ini membahas langkah nyata revitalisasi Sungai Citarum. Dalam pemaparannya, Presiden menyadari pentingnya sungai tersebut.

"Saya menyadari sungai ini penting, nilai sejarah, ekonomi, dan sosial yang penting bagi warga Jawa Barat dan DKI Jakarta," katanya.

Besarnya peranan ini mengharuskan Presiden 14 kali memimpin rapat rehabilitasi sungai tersebut.

"Citarum itu merupakan sumber air bagi 27,5 juta penduduk. 80% air minum Jakarta bersumber dari Citarum," katanya.

Namun, lanjut Presiden, di sisi lain terdapat 3.000 industri yang limbahnya dibuang ke Citarum. Selain akibat pencemaran limbah, Presiden pun menyebut kerusakan sungai ini akibat tidak terawatnya kawasan hulu.

"Sudah beberapa kali pengerukan. Tapi tidak memberi hasil kalau hulunya tidak baik," katanya.

Oleh karena itu, Presiden meminta agar penataan sungai sepanjang 296 kilometer ini tidak lagi mengalami kegagalan. Joko Widodo ingin rehabilitasi berjalan sesuai rencana dan tidak tertunda lagi.

"Harus dikerjakan cepat dan terus menerus. Tujuh tahun selesai," katanya.

Saat ini, kata Presiden, pemerintah pusat sudah memperbaiki kawasan tersebut. Salah satunya dengan membuat kolam retensi untuk mengurangi banjir di Dayeuhkolot.

Selain itu, menurutnya, tahun ini pun akan diselesaikan sodetan terowongan. "Semoga bisa jadi solusi," katanya.

Jika berhasil, Kepala Negara berharap penataan Citarum ini bisa menjadi contoh untuk perbaikan daerah aliran sungai lainnya.

"Jangan ditunda-tunda. Ini menyangkut hidup masyarakat banyak," kata Presiden.

Oleh karena itu, Presiden meminta seluruh pihak terkait bersama-sama dalam menata sumber kehidupan tersebut. Semua instansi baik pemerintah pusat maupun daerah harus bersinergi dalam mengerjakannya.

"Kuncinya ada di integrasi semua kementerian, pemerintah daerah provinsi maupun kabupaten/kota," katanya. (OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya