Gelombang Tinggi Ancam Laut Selatan DIY

Ardi Teristi Hardi
16/1/2018 19:08
Gelombang Tinggi Ancam Laut Selatan DIY
(ANTARA)

KEPALA kelompok data dan informasi Stasiun Klimatologi Yogyakarta Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG), Djoko Budiyono, memperingatkan, munculnya Low Pressure Area (LPA) 1003 mb di Samudra Hindia sebelah barat laut benua Australia (dekat dengan perairan Selatan Jawa).

"Akibatnya, akan terjadi peningkatan kecepatan angin di wilayah perairan selatan Jawa mencapai 27-46 kilometer per jam," kata Djoko kepada Media Indonesia di Yogyakarta, Selasa (16/1) siang.

Gelombang laut tinggi berpotensi terjadi di Perairan Selatan DI Yogyakarta. Tinggi gelombang laut pada 15 Januari antara 2,5-4,0 meter, dan pada 16 Januari tinggi gelombang antara 2,5-3,5 meter, dan pada 17 Januari tinggi gelombang antara 2,5-4,0 meter.

Manajer Pusdalops Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) DIY, Danang Samsu Rizal, merekomendasikan agar masyarakat yang beraktivitas di pantai/laut diimbau agar menunda kegiatan penangkapan ikan secara tradisional hingga gelombang tinggi mereda.

"Tidak berenang/mandi di laut hingga kondisinya aman untuk aktivitas wisata di pantai," kata dia.

Kedua, warga mencermati kembali kondisi bangunan yang sudah tua, sehingga dapat dilakukan antisipasi lebih dini. Ketiga, kegiatan pendakian Gunung Merapi direkomendasikan hanya sampai di Pasarbubar, kecuali untuk kepentingan penyelidikan dan penelitian berkaitan dengan upaya mitigasi bencana.

"Kondisi morfologi puncak Gunung Merapi saat ini rawan terjadi longsor, sehingga sangat berbahaya bagi keselamatan para pendaki," kata dia.

Berdasarkan hasil pengamatan dan evaluasi oleh Balai Penyelidikan dan Pengembangan Teknologi Kebencanaan Geologi (BPPTKG) tentang laporan aktivitas Gunung Merapi pada 5-11 Januari 2018 disimpulkan bahwa status Gunung Merapi masih erosi

Sebelumnya, BPBD Kabupaten Bantul, DIY, mencatat, ada lima rumah di bantaran Sungai Oya di Dusun Wunut, Desa Sriharjo, Kecamatan Imogiri, terancam terdampak erosi pada Sabtu (13/1) pagi sekitar pukul 03.00 WIB. Erosi tidak hanya disebabkan hujan di wilayah Bantul, tetapi juga kiriman air hujan dari Gunungkidul.

Manajer Pusat Pengendalian Operasi (Pusdalops) BPBD Bantul, Aka Luk Luk, menjelaskan, semua penghuni rumah yang terancam terdampak erosi mengungsi ke rumah suadara.

Relawan dan warga telah bergotong royong mengamankan bangunan. BPBD juga telah menerjunkan dua personel tim reaksi cepat (TRC) untuk assesment dan koordinasi di lapangan dan mengirimkan bantuan logistik kerja bakti. (OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya