Banjir dan Longsor Landa Lima Kampung di Sukabumi

Benny Bastiandy
10/1/2018 18:36
Banjir dan Longsor Landa Lima Kampung di Sukabumi
(MI/Benny Bastiandy)

LIMA kampung di Desa Cidadap, Kecamatan Simpenan, Kabupaten Sukabumi, Jawa Barat, diterjang banjir dan longsor, Selasa (9/1) malam, sekitar pukul 20.00 WIB. Akibatnya, dua rumah semipermanen mengalami kerusakan berat.

Berdasarkan informasi, bencana di Desa Cidadap terjadi di Kampung Ciseupan RT 01/13, Kampung Babakan Wareng RT 02/12, Kampung Cikadaka RT 03/14, Kampung Cibarengkok RT 01/15, dan Kampung Babakan Baru RT 04/14.

Bencana terjadi saat turun hujan deras. Warga yang rumahnya terdampak bencana mengungsi sementara waktu.

"Dari laporan relawan yang kami terima, bencana di Desa Cidadap terjadi di lima kampung," kata staf pelaksana Pusat Pengendalian dan Operasi Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Kabupaten Sukabumi, Yana Rusyana, Rabu (10/1).

Selain merusak dua rumah semipermanen, lanjut Yana, lima titik jalan tertimbun material tanah longsor. Akses jalan tak bisa dilalui kendaraan roda empat.

"Jalan hanya bisa dilalui sepeda motor," ujarnya.

Hari ini berbagai unsur Muspika setempat dibantu Koramil Palabuhanratu, Polsek Simpenan, serta relawan BPBD Kecamatan Palabuhanratu dan Simpenan berupaya membersihkan material tanah longsor.

Yana menyebutkan, tidak ada korban jiwa maupun luka akibat bencana itu.

"Kita masih terus pantau perkembangannya di lapangan," tegasnya.

Di tempat terpisah, sebuah rumah yang dihuni lima jiwa di Kampung Cidotong RT 27/06 Desa Mangunjaya, Kecamatan Waluran, ludes dilalap api, Rabu pagi sekitar pukul 10.00 WIB. Dugaan sementara penyebabnya karena hubungan pendek arus listrik.

"Rumah itu milik Komar. Kondisinya rusak berat," terang Yana.

Saat ini, penghuninya diungsikan sementara ke rumah kerabatnya. Nilai kerugian meterial akibat kebakaran itu ditaksir mencapai Rp80 juta.

"Penanganannya dilakukan bersama-sama unsur Muspika setempat," ujar Yana.

Sekretaris Daerah Kabupaten Sukabumi, Iyos Somantri, menyebut, potensi bencana Kabupaten Sukabumi relatif cukup komplet. Apalagi, dengan intensitas curah hujan relatif tinggi saat ini, potensi bencana meliputi banjir, gempa, pergeseran tanah, longsor, serta angin puting beliung.

"Bencana banjir, gempa, pergeseran tanah, longsor, serta puting beliung, paling sering terjadi di Kabupaten Sukabumi," tukas Iyos yang juga Pelaksana Tugas Kepala BPBD Kabupaten Sukabumi itu.

Saking seringnya terjadi bencana, Iyos menyebut jumlahnya bisa melebihi hitungan hari dalam satu tahun. Upaya antisipasi maupun penanganan kebencanaan bukan hanya tugas pemerintah saja.

"Masyarakat juga harus mendapatkan gambaran bagaimana cara menghadapi sebuah bencana. Warga harus dibekali pengetahuan dasar menghadapi sebuah bencana agar mereka tidak panik," tegasnya.

Iyos juga memandang perlu adanya pendampingan sosial di wilayah pascabencana di Kabupaten Sukabumi. Utamanya pendampingan dari BPBD maupun perangkat daerah teknis lainnya.

"Kita harus menyamakan persepsi bagaimana menyusun strategi penanggulangan sebuah bencana di Kabupaten Sukabumi," tuturnya.

Karena itu, lanjut dia, setiap perangkat daerah teknis harus intensif berkomunikasi dan berkoordinasi agar bisa memberikan solusi dari setiap permasalahan. Semua masukan, saran, maupun rekomendasi dari setiap perangkat daerah berkompeten tentunya menjadi bentuk gambaran yang nantinya bisa diimplementasikan sebagai upaya penanganan kebencanaan.

"Sebagai penyelenggara upaya penanganan dan penanggulangan bencana, tentunya kita harus bisa membuat gambaran utuh untuk diimplementasikan di lapangan," pungkasnya. (OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya