Rencana USBN SD Jalan Terus

Dhika Kusuma Winata
08/1/2018 07:12
Rencana USBN SD Jalan Terus
(Kemendikbud)

RENCANA pemerintah untuk menerapkan ujian sekolah berstandar nasional (USBN) di tingkat sekolah dasar (SD) dengan delapan mata pelajaran dikeluhkan sebagian kalangan. USBN dinilai akan memberatkan siswa dan guru. Meski demikian, pemerintah bertekad melanjutkan rencana pemberlakukan ujian itu.

Kepala Badan Standar Nasional Pendidikan (BSNP) Bambang Suryadi menyatakan USBN SD dilakukan karena diperlukan untuk mengukur kemampuan siswa dan ketuntasan mengajar guru.

"Kita menganut pendidikan berbasis standar. Karena itu standar maka harus diukur. Esensi USBN itu ialah penilaian oleh guru. Semua mata pelajaran SD harus dinilai guru. USBN SD semangatnya mengukur apa yang harus dikuasai murid. Kalau sudah sungguh-sungguh belajar dan guru tuntas mengajar, mestinya diuji siapa pun siap," kata Bambang saat dihubungi, kemarin.

USBN SD direncanakan menggantikan ujian sekolah (US). Jumlah mata pelajaran yang diujikan bertambah jadi delapan pelajaran, meliputi bahasa Indonesia, matematika, IPA, IPS, PKN, seni budaya, pendidikan jasmani, dan agama.

Bambang menambahkan melalui USBN, guru, siswa, dan sekolah bisa terpetakan kemampuan dan kompetensinya secara nasional. Ia memaparkan saat ini pihak Kemendikbud sedang merevisi peraturan untuk meregulasi penyelenggaraan USBN SD, yakni Permendikbud No.3/2017 tentang Penilaian Hasil Belajar oleh Pemerintah dan Penilaian Hasil Belajar oleh Satuan Pendidikan. "Revisi Permendikbud tersebut masih dibahas internal Kemendikbud."

Metode lain

Namun, pengamat pendidikan Doni Koesoema Albertus menyatakan upaya standardisasi dan pemetaan kompetensi tingkat SD melalui USBN sebaiknya diurungkan. Ia menilai USBN akan memberatkan siswa. Pun soal-soal yang dibuat dikhawatirkan tidak sesuai dengan yang di-ajarkan guru di sekolah. Jika pemerintah ingin memetakan kemampuan siswa dan guru SD, ujarnya, bisa dilakukan pemetaan yang berbeda.

"Untuk SD biarkan ujian semua diserahkan ke sekolah karena yang tahu tentang murid itu guru sendiri. Kalau pemerintah mau menguji kemampuan sekolah, buatlah assessment berbeda. Bukan di ujian akhir tahun ajaran. Misalnya seperti tes NAPLAN di Australia," ucapnya.

Sebelumnya, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Muhadjir Effendy mengatakan USBN pada 2018 sebagian besar soalnya akan menggunakan model esai atau mengisi jawaban dengan pilihan yang tidak tunggal.

"Soal ujian sekolah berstandar nasional nanti sebagian besar memakai esai," kata Menteri Muhadjir di Yogyakarta, Kamis (4/1).

Menurut dia, soal USBN yang berbentuk esai akan mendorong siswa memiliki kemampuan berpikir tingkat tinggi atau high order thinking skill (HOTS). "Itu nanti akan menggunakan HOTS," kata Mendikbud, beberapa waktu lalu.

Menurut Mendikbud, untuk mengoreksi satu per satu soal berbentuk esai, Kemendikbud akan menerapkan metode khusus dengan mengoptimalkan peran MGMP.

"Ada pedomannya. Kalau dikoreksi menggunakan prog-ram komputer belum memungkinkan," kata dia.

Untuk ujian nasional, menurut Muhadjir, penggunaan soal esai dipastikan masih dalam tahap uji coba.(Dhk/Ant/X-6)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Kardashian
Berita Lainnya