Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
PONDOK Pesantren Sirojul Muhlasin di Payaman, Magelang, Jawa Tengah, ternyata amat diminati warga muslim asing. Sebanyak 304 warga negara asing menjalani pendidikan menjadi santri di ponpes tersebut, berdasarkan data dari Kantor Imigrasi Kelas II Wonosobo pada 2017.
Kepala Kantor Imigrasi Kelas II Wonosobo, Soeryo Tarto Kisdoyo, menyebutkan, selama tahun ini, terdapat 395 orang asing mengajukan izin tinggal terbatas (ITAS) di wilayah Kabupaten Wonosobo, Temanggung, Kabupaten/Kota Magelang, serta Purworejo.
Dari jumlah tersebut, sekitar 70% atau sejumlah 304 orang mengajukan ITAS untuk keperluan belajar di Ponpes Sirojul Muhlasin Payaman Magelang. Adapun lainnya tinggal tersebar di Temanggung, Wonosobo, dan Purworejo untuk berbagai keperluan. Antara lain penyatuan keluarga, eks WNI yang ingin kembali, dan wisatawan mancanegara yang sudah lanjut usia.
"Mayoritas belajar di Ponpes Sirojul Muhlasin Magelang. Jumlahnya 304 orang, hampir 70%. Kebanyakan mereka dari negara ASEAN, seperti Kamboja, Thailand, Singapura, Malaysia, dan Myanmar," ujar Soeryo, Selasa (19/12).
Berdasarkan izin tinggal yang diajukan, kata Soeryo, mereka diperbolehkan berada di daerah Magelang ini selama lima tahun. Keperluannya untuk belajar agama di ponpes tersebut.
"Selama tinggal di Magelang, tidak ada masalah keimigrasian yang muncul. Mereka juga kooperatif dan rutin melapor setiap tahun. Ada yang secara online, ada pula yang langsung datang. Pihak ponpes juga aktif membantu memberikan laporan," kata dia.
Kendati demikian, pihak Imigrasi Kelas II Wonosobo tetap melakukan pemantauan terhadap aktivitas mereka. Kehadiran warga asing belajar di ponpes tersebut, kata Soeryo, ada sejak berdirinya ponpes tersebut. Pihak ponpes juga memiliki cabang ponpes serupa di Kamboja. Untuk melanjutkan pendidikan agama, mereka harus belajar di Magelang.
"Dari tahun ke tahun jumlahnya rata-rata segitu, sekitar 300-an," kata Soeryo.
Adapun dari total 395 orang yang mengajukan ITAS tersebut, disebut Soeryo, paling banyak dari Kamboja, yakni 167 orang. Lainnya dari Malaysia 87 orang, Thailand 44 orang, Korsel 21 orang, dan Tiongkok 14 orang.
Selain itu, lanjut Soeryo, selama 2017 Kantor Imigrasi Kelas II Winosobo, telah menerbitkan 23.472 paspor, ada peningkatan jika dibanding dengan 2016 yang jumlahnya 23.199 paspor, dan penundaan paspor sebanyak 303 yang diduga sebagai tenaga kerja Indonesia (TKI). (OL-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved