Berfoto di Daerah Bencana Cermin Hilangnya Sensitivitas

Ardi Teristi Hardi
02/12/2017 18:49
Berfoto di Daerah Bencana Cermin Hilangnya Sensitivitas
(ANTARA FOTO/Hendra Nurdiyansyah)

BENCANA banjir dan tanah longsor yang terjadi di sebagian Kecamatan Imogiri, Jawa Tengah, pada Selasa (28/11) siang lalu, masih menyisakan pekerjaan bagi warga yang terdampak.

Pada Jumat (1/12) kemarin, warga di Dukuh Sompok, Bantul, masih terlihat sibuk membersihkan rumah mereka yang dipenuhi lumpur. Upaya membersihkan lumpur semakin bertambah berat lantaran hujan yang tak kunjung reda.

Walau baru saja mendapat bencana, warga Dukuh Sompok terlihat tabah, tidak tampak isak tangis ataupun kesedihan berlebihan. Di sisi lain, relawan dari berbagai instansi turun tangan, bahu membahu membantu warga membersihkan lingkungan.

Siang itu, ketika Media Indonesia melihat situasi bencana, bantuan-bantuan sudah mulai masuk. Hal tersebut tampak dari aktivitas di posko bantuan yang ada di sekitar lokasi.

Kelompok-kelompok yang memberikan bantuan pun berdatangan ke lokasi, baik kelompok warga maupun mewakili instansi. Akibatnya, jalanan kampung yang sempit tidak mampu menampung mobil-mobil yang masuk membawa bantuan. Tidak hanya itu, kegiatan foto-foto yang dilakukan semakin membuat macet jalanan.

Hadi, salah seorang wartawan asal Bantul, mengaku miris dengan kegiatan foto-foto di daerah bencana. Bahkan, ada polisi yang sempat menghentikan arus lalu lintas agar orang yang lewat tidak mengganggu kelompok yang sedang berfoto dengan latar belakang bekas sungai yang meluap.

"Seharusnya tidak perlu berfoto-foto di daerah bencana. Itu bisa menyakiti warga yang mengalami bencana," kata dia.

Menurut Sosiolog Universitas Gadjah Mada, Arie Sudjito, perilaku foto-foto atau merekam di daerah bencana menunjukkan hilangnya sensitivitas.

"Sekarang banyak yang bergerak cepat (menuju lokasi kejadian bencana) tujuannya untuk apa? Untuk share (foto atau video). Kadang saat share, mereka kehilangan sensitivitas terhadap yang dihadapi saat itu," kata dia.

Ia mencontohkan, dalam kejadian sehari-hari, ketika terjadi kecelakaan atau perkelahian, orang akan lebih mementingkan memfoto atau merekam kejadian daripada langsung membantu.

Fenomena tersebut disebut sebagai pergeseran atau distorsi sosial. Sering kali yang individu lakukan dalam merekam dan membagikan rekaman kejadian menjadikan tindakan mereka kehilangan makna.

Mereka lebih menonjolkan diri mereka sudah sampai di lokasi dan melihat sendiri daripada tindakan menolong orang. Dengan perkembangan teknologi informasi, orang bisa sangat cepat membagi informasi.

"Namun, tanpa diimbangi dengan dimensi etis kemanusiaan, nilai sosial yang dilakukan menjadi bergeser," kata dia,

Ia menyebut, kampanye untuk memahami dimensi etika saat berada di tempat bencana harus terus disampaikan.

"Dalam artian, keteladanan dan contoh dimensi etika harus diberikan dan dihidupkan di warga, komunitas, dan keluarga," kata dia.

Sementara itu, Kepala Pelaksana BPBD Kabupaten Bantul, Dwi Daryanto, enggan menanggapi perilaku masyarakat yang berfoto dengan berlatar belakang bencana. Menurut dia, seharusnya itu menjadi kesadaran individu masing-masing.

Ia menjelaskan, saat tim relawan dari berbagai institusi masih membersihkan lingkungan akibat bencana banjir, tanah longsor, dan angin kencang. Salah satu kegiatan yang mendesak adalah menguras sumur-sumur yang tercemar.

"Ada sekitar 500-an sumur yang tercemar karena banjir. Kita kuras sumur yang tercemar, dengan menyedot air di dalam sumur menggunakan mesin diesel," kata dia.

Untuk memenuhi suplai air bersih, pihaknya memfungsikan truk-truk tangki ait dari pagi sampai pukul 7 malam.

Saat ini, di Bantul masih status tanggap darurat sampai 12 Desember mendatang. Jika tanggap darurat belum selesai, status tersebut akan diperpanjang seminggu lagi. Setelah itu, masa transisi pemulihan akibat bencana dilakukan.

Dwi memperkirakan, total kerugian akibat bencana mencapai Rp55 miliar.

"Total kerugian sekitar Rp50 M untuk infrastruktur, sedangkan kebutuhan dasar masyarakat Rp5 M," kata dia. (OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya