Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
TIDAK sampai setengah jam Gede Miyasa memboyong istri dan ketiga anaknya ke peng ungsian di Pos Tanah Ampo, Kabupaten Karangasem, setelah menerima pemberitahuan Gunung Agung memasuki fase kritis, kemarin.
Warga Desa Pidpid, Kecamatan Kubu, Karangasem, itu bersama ribuan warga lain sukarela beranjak ke peng- ungsian untuk menghindari bahaya erupsi bila gunung se-tinggi 3.142 meter tersebut melepaskan energi terbesarnya sewaktu-waktu.
"Begitu petugas bilang kami harus mengosongkan desa karena gunung akan meletus, kami cepat ke pengungsian atau ke rumah kerabat di daerah lain. Ndak usah menunggu evakuasi," kata Miyasa, tadi malam. Begitu halnya Ni Nyoman Silawati. Menurut warga Desa Sebudi, Karangasem, itu sebagian besar pengungsi melakukan evakuasi mandiri tanpa menunggu bantuan petugas untuk menghindari jatuhnya korban.
"Kami tidak membawa perlengkapan banyak. Nanti di pengungsian kami bergotong royong saling melengkapi kekurangan," ujar Silawati. Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG) kemarin mencatat aktivitas Gunung Agung memasuki fase kritis karena mengalami gempa yang terus-menerus pada pukul 13.30-14.00 Wita.
"Kepulan abu terus-menerus disertai erupsi eksplosif yang terdengar hingga radius 12 kilometer menandakan letus-an magmatik tinggal hitungan jam. Di Pos Pantau Desa Rendang, tinggi semburan abu vulkanis tampak mencapai 4.000 meter di atas puncak kawah," ungkap Kabid Mitigasi PVMBG, I Gede Suantika. Dari Desa Dukuh, Kecamatan Kubu, bahkan terpantau ada lontaran bebatuan yang menyertai erupsi pada pukul 13.40. Desa Dukuh berjarak sekitar 4 kilometer dari kawah Gunung Agung.
Kasubbid Mitigasi Pemantauan Gunung Berapi Wilayah Timur PVMBG, Devy Kamil Syahbana, menambahkan letusan kemarin merupakan krisis yang dialami Gunung Agung sebelum mengeluarkan energi terbesarnya.
Tadi malam, ratusan petugas dari BPBD Bali dan Kabupaten Karangasem terus memantau evakuasi warga dari 22 desa di sekitar lereng gunung. Belasan ribu warga berbondong-bondong meninggalkan desa mereka. Banyak di antara mereka kembali ke pos pengungsian sebelumnya. Akan tetapi, tidak sedikit yang mengungsi ke Denpasar atau Gianyar.
Pantauan Media Indonesia di pos pengungsian di Tanah Ampo menunjukkan ratusan tenda terpasang seperti sedia-kala, tetapi alas tidurnya dalam kondisi kotor atau robek.
"Laki-laki dewasa tinggal di tenda, sedangkan anak-anak dan perempuan di bale banjar, gedung serbaguna, dan balai pertemuan," jelas Silawati.
Kepala BPBD Bali Dewa Indera mengatakan hingga tadi malam jumlah pengungsi sudah mencapai sekitar 50 ribu, yang tersebar di 217 titik di sembilan kabupaten/kota.
"Kami mendengar dentuman dari kawah seperti ledakan dahsyat disertai lidah api. Beberapa warga melihat ada hujan batu," tandas seorang penduduk Desa Selat, Komang Ari. (Dhk/RS/FA/SM/HS/PO/YR/X-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved