Pengecer dan Petani Berselisih soal Pupuk

MI
12/3/2015 00:00
Pengecer dan Petani Berselisih soal Pupuk
(ANTARA/ZABUR KARURU)
DALAM sepekan ini petani dan pengecer pupuk di Kabupaten Sukoharjo, Jawa Tengah, terlibat perselisihan dalam penyaluran pupuk bersubsidi. Banyak petani mengaku kesulitan mendapatkan pupuk bersubsidi di tingkat pengecer dengan alasan habis atau ditolak.

Sejumlah petani mengeluh karena setiap kali mereka membeli pupuk bersubsidi selalu tidak ada. "Ya pokoknya stok habis," keluh Joko, petani di Kelurahan Bulukerto, Kecamatan Sukohar-jo, saat ditemui, kemarin.

Sebaliknya Sarimin, pengecer pupuk bersubsidi, menegaskan bahwa sebetulnya tidak ada kelangkaan pupuk. Namun, petani belum memahami sistem distribusi pupuk bersubsidi.

Pemilik toko pupuk Sari Tani di Kelurahan Bulukerto, Keca-matan Sukoharjo, itu menjelaskan pupuk subsidi dikirimkan setiap Selasa setelah pengajuan kuota kebutuhan pupuk kepada distributor. Sayangnya ketika jadwal pasokan belum saatnya tiba, pupuk subsidi yang dicari sudah kosong sehingga kemudian petani menyebut ada kelangkaan atau keterlambatan pasokan

Dia memaparkan, kuota pupuk, jumlah kelompok tani, dan luasan yang menjadi wilayah pendistribusian pupuk bersubsidi setiap pengecer sudah ditentukan.

"Kadang yang terjadi petani dari luar kelompok tani ikut minta dicarikan pupuk. Tentu saya menolak, ini juga menjadi masalah," kata Sarimin yang hanya melayani tujuh kelompok tani dengan luasan 240 hektare.

Heri, pengecer pupuk Mulya Tani, mengungkapkan hal senada sebagaimana dikeluhkan Sarimin. Ia menegaskan pihaknya selaku pengecer melayani berdasarkan rencana definitif kebutuhan kelompok yang dibebankan.

Kekisruhan antara pengecer pupuk dan para petani tersebut ditanggapi serius Sarjanto Jigong, koordinator petani pengguna air irigasi Dam Colo Timur.

"Pemkab Sukoharjo melalui dinas pertanian harus cepat turun ke lapangan, mengurai benang kusut terkait dengan pendistribusian pupuk subsidi yang sering terkendala," ujar Sarjanto.

Menurutnya, perselisihan tersebut tidak boleh dibiarkan berlarut-larut karena faktanya selama ini petani sering dihadapkan pada persoalan mendapatkan pupuk bersubsidi.

Kepala Dinas Pertanian Sukoharjo Netty Harjianti menyatakan akan merampungkan masalah salah paham tersebut agar target produksi beras tahun ini sebesar 360 ribu ton tidak terganggu.

"Pasti akan kita sikapi cepat," tegasnya. (WJ/N-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya