Untung Berlipat di Saat Rupiah Melemah

Nurul Hidayah/Kristiadi/N-4
12/3/2015 00:00
Untung Berlipat di Saat Rupiah Melemah
(MI/ADI KRISTIADI)
SEJUMLAH pekerja wanita sibuk menganyam bilah-bilah rotan, sementara pekerja laki-laki sedang membuat rangka mebel.

"Rangka mebel ada yang terbuat dari rotan, dan ada juga yang dimodifikasi dari kayu," kata Badrudin, Ketua Masyarakat Pekerja Pengrajin Rotan Seluruh Indonesia, saat ditemui Media Indonesia di daerah perajin rotan Desa Tegalwangi, Kecamatan Weru, Kabupaten Cirebon, Jawa Barat, kemarin.

Badrudin kemudian memperlihatkan sebuah pengesub yang mendapatkan order baik dari pembeli maupun eksportir.

Saat ini sedikitnya 30 pengesub yang ada di daerah Tegalwangi, Kecamatan Weru, sedang kebanjiran pesanan.

Mereka harus lembur untuk menyelesaikan orderan tepat waktu.

Saat ini pesanan mebel rotan asal Kabupaten Cirebon berkisar 1.500 hingga 2.500 kontainer setiap bulannya.

Pesanan sudah penuh hingga Oktober mendatang.

Adapun puncaknya pada Agustus dan September dengan pengiriman mebel rotan bisa mencapai 2.500 kontainer.

Seiring dengan melemahnya nilai tukar rupiah terhadap dolar, perajin mebel rotan dari Kabupaten Cirebon kembali menuai keuntungan.

Mebel rotan buatan Tegalwangi ini sudah diekspor ke negara-negara Eropa, Amerika Serikat, dan negara-negara eks Uni Soviet.

Nasib yang sama juga dialami petani manggis di Kecamatan Jatiwaras dan Puspahiang, Kabupaten Tasikmalaya.

Panen raya manggis akhir Februari hingga April ini menuai keuntungan lebih karena melemahnya rupiah.

Manggis super dari Puspahiang dan Jatiwaras selama ini diekspor ke sejumlah negara di Asia.

Selain rasanya manis dan asam, manggis Puspahiang juga memiliki kulit lebih keras, warna menyala, dan bentuknya lonjong. Kualitasnya tetap bagus meski disimpan dalam waktu lama.

Ujang, pemilik perkebunan manggis di Kecamatan Jatiwaras, mengatakan di kebunnya terdapat 1.000 pohon manggis ditambah 10 ribu pohon dari Puspahiang yang mampu menghasilkan 14 ton manggis dengan kualitas ekspor.

Harga jualnya pun sekitar Rp6.000-Rp8.000 per kilogram.

"Untuk upah pemetik manggis Rp100 ribu per pohon," kata Ujang.

Buah-buahan tersebut kemudian di-sortir dan dipaketkan ke Tiongkok, Singapura, Abu Dabi, Malaysia, Kutai, Hong Kong, dan Brunei Darusalam.

Ekspor dari dua kecamatan itu mencapai 140 ton.

"Untuk harga manggis super dijual Rp13 ribu per kilogram. Namun, saat Imlek harga manggis justru mahal sampai Rp28 ribu-Rp30 ribu per kilogram," ungkap Ketua Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Arta Mukti, Sumpena.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya