Gubernur Ganjar Ladeni Keluhan Nelayan

Akhmad Safuan
23/11/2017 12:56
Gubernur Ganjar Ladeni Keluhan Nelayan
(ANTARA/YUSUF NUGROHO)

GUBERNUR Jawa Tengah Ganjar Pranowo dan Direktur Jenderal Per-ikanan Tangkap Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) Sjarief Widjaja sempat dikepung puluhan nelayan pengguna alat tangkap cantrang.

Kejadian itu terjadi seusai penyerahan hasil bedah rumah dan bantuan alat tangkap di Rembang, Jawa Tengah, kemarin.

Dalam kesempatan itu KKP menyerahkan hasil program bedah rumah dan bantuan alat penangkap ikan sebanyak 125 paket, terdiri atas 112 gillnet permukaan, 6 bubu lipat rajungan, 4 gillnet dasar, 2 trammelnet monofilamen, dan 1 bubu lipat ikan kepada nelayan rembang.

Seusai penyerahan bantuan, Ganjar yang hendak keluar dari lokasi acara tiba-tiba dikepung puluhan nelayan yang mempertanyakan nasib mereka akibat pelarangan penggunaan cantrang oleh KKP.

"Kami ingin dialog untuk mencari jalan keluar tentang kebijakan peraturan Menteri (Permen) Kelautan dan Perikanan. Terutama nasib nelayan cantrang yang tinggal menunggu hari," kata seorang nelayan cantrang yang disambut teriakan puluhan nelayan lain.

Dalam menghadapi kondisi itu, Ganjar kesulitan menjawab satu per satu. Apalagi, banyak suara teriakan dari berbagai sudut.

Akhirnya, Ganjar harus naik ke kursi untuk angkat bicara dan menenangkan massa.

"Tidak usah berteriak-teriak karena kami mendengar. Mumpung di sini ada Dirjen Perikanan Tangkap Sjarief Widjaja dan Kepala Dinas Kelautan dan Perikanan Jateng Lalu M Syafriadi, silakan disampaikan dan berdialog di ruang sebelah," kata Ganjar.

Dalam dialog tersebut, nelayan antara lain mengungkapkan persoalan permodalan dan keterampilan. Pasalnya, pergantian alat tangkap akan berkonsekuensi pada perubahan jenis kapal dan musim tangkap ikan.

Apalagi, nelayan tidak mempunyai kemampuan menggunakan alat tangkap yang baru.

Ditambah lagi, upaya pemenuh-an kebutuhan finansial nelayan selama proses adaptaasi penggunaan alat tangkap baru.

Ganjar menjamin pemerintah akan mengupayakan solusi bagi persoalan nelayan.

"Jika masalah permodalan, kita akan carikan solusi terbaik. Demikian juga jika masalah keterampilan akan dilakukan pelatihan sehingga semua dicarikan jalan keluar," kata Ganjar.

Seorang nelayan cantrang asal Rembang, Jumadi, mengatakan pelarangan penggunaan cantrang membuat ribuan nelayan di pantai utara (pantura) Pulau Jawa kesulitan.

Apalagi, sambung dia, pemerintah tidak pernah menanggapi tantangan uji petik jaring cantrang yang dianggap merusak lingkungan.

Menjaga alam

Sjarief Widjaja menegaskan bahwa penggantian alat tangkap juga sebagai perwujudan religiositas.

"Alih alat penangkapan ikan dari yang tidak ramah lingkung-an ke yang ramah lingkungan merupakan perwujudan religiositas masyarakat serta mewujudkan misi keberlanjutan dan kesejahteraan. Agama mengajarkan kita untuk menjaga alam dan lingkungan dengan sebaik-baiknya," kata Sjarief.

Selain bantuan alat tangkap, lanjut dia, pemerintah juga telah melakukan bedah rumah nelayan, menyerahkan klaim asuransi nekayan, memberikan kartu asuransi, memberikan bantuan permodalan, dan sebagainya.

Sjarief menambahkan, selama 2017 Kementerian Kelautan dan Perikanan telah mendistribusikan 7.255 paket bantuan alat penangkapan ikan ramah lingkungan ke nelayan.(N-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Kardashian
Berita Lainnya