Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
KOALISI partai pengusung Ridwan Kamil (Emil) berpotensi meninggalkan Partai Golongan Karya dalam Pemilu Gubernur Jawa Barat 2018. Pasalnya, partai berwarna kuning itu berpotensi menggerus suara Emil dalam ajang tersebut.
Pakar politik dan pemerintahan dari Universitas Katolik Parahyangan Bandung, Asep Warlan Yusuf, mengatakan, bukan tidak mungkin Partai Nasional Demokrat (NasDem), Partai Persatuan Pembangunan (PPP), dan Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) akan meninggalkan Golkar.
Hal ini sangat erat kaitannya dengan ditetapkannya kembali Ketua Umum Partai Golkar Setya Novanto sebagai tersangka korupsi kartu tanda penduduk elektronik (KTP-e) oleh Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK).
Menurut dia, masyarakat dipastikan marah akibat kasus tersebut. "Sudah muak oleh kasus korupsi," katanya.
Oleh karena itu, Asep menilai partai koalisi akan berpikir ulang untuk melanjutkan kerja sama dengan partai berlambang beringin tersebut.
"Pengaruhnya akan cukup besar terhadap pemenangan Ridwan Kamil," kata Asep saat dihubungi dari Bandung, Jumat (17/11).
Kondisi ini, lanjut dia, diperburuk oleh kualitas Daniel Muttaqien, kader Golkar yang diusulkan menjadi pendamping Emil sebagai calon Wakil Gubernur Jabar pada Pilkada 2018 mendatang.
Asep mengatakan, potensi Daniel untuk melengkapi sosok Emil justru masih dipertanyakan.
Secara terpisah, Emil tidak terlalu bereaksi atas adanya kasus Ketua Umum Golkar tersebut. Bahkan, saat dimintai konfirmasi mengenai banyaknya spanduk dan baliho dirinya bersama Setya Novanto, Wali Kota Bandung itu menilai biasa saja.
"Saya menjalani sudah sangat tenang, apa adanya, tidak reaktif. Nanti juga di hari pendaftaran, semua yang berdinamika juga akan berakhir," katanya.
Dia hanya memastikan pihaknya pun menyiapkan strategi-strategi untuk menghadapi ajang demokrasi tersebut.
"Dalam politik selalu ada dinamika, selalu ada strategi-strategi," katanya seraya menyebut dirinya berusaha tidak reaktif dalam menyikapi dinamika yang ada.
Emil pun menilai, dinamika yang terjadi pada Golkar saat ini belum tentu berpengaruh terhadap elektabilitasnya.
"Saya tidak terlalu mengkhawatirkan, karena satu teori yang namanya pilkada itu, adalah figur," katanya.
Hal ini juga, lanjut dia, terbukti dari hasil survei baru-baru ini.
"Dites saja di survei berikutnya. Jadi kekhawatiran itu tidak terjadi di benak saya," katanya. (OL-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved