Bocah 8 Tahun Meninggal Diduga setelah Divaksin di Sekolah

Dwi Apriani
14/11/2017 18:36
Bocah 8 Tahun Meninggal Diduga setelah Divaksin di Sekolah
(thinkstock)

VAKSINASI bagi seorang anak sangat penting, tidak hanya bagi kekebalan tubuhnya melainkan juga sebagai upaya menjaga kesehatannya. Namun di Palembang, Sumatra Selatan, seorang bocah berusia 8 tahun meninggal dunia diduga setelah melakukan vaksinasi cacar massal di sekolahnya di Madrasah Ibtidaiyah Yayasan Al Hikmah Palembang.

Kondisi putri kesayangan dari Juniarto dan Meisyah itu melemah hingga akhirnya menghembuskan napas terakhir setelah melakukan vaksinasi cacar massal di sekolahnya pada Jumat (10/11) pagi.

"Pada saat itu, keponakan saya semangat sekali dengan adanya imunisasi ini," kata Fitri, tante korban, saat ditemui di rumah duka di Jalan Panca Usaha Lorong Parlova RT 55 RW 15 Kelurahan 5 Ulu, Kecamatan Seberang Ulu I, Selasa (14/11).

Namun, sepulang sekolah dan divaksinasi, kondisi korban mulai melemah, meski tetap bermain dengan teman-temannya di lingkungan rumahnya. Kemudian saat korban istirahat, kondisi korban semakin memburuk, dengan suhu badan panas tinggi. Pada tangan korban juga terlihat membengkak serta kedua kaki yang seakan lumpuh tidak bisa digerakkan.

"Melihat kondisi anaknya itu, orangtuanya kemudian langsung membawanya puskesmas. Setelah dibawa ke puskesmas, korban sempat diberikan obat. Namun, kondisi korban tidak juga membaik, hingga akhirnya dirujuk ke Rumah Sakit (RS) Muhammadiyah pada Sabtu (11/11) sore," imbuh Fitri.

Di rumah sakit, kondisi korban belum juga menunjukkan hal yang positif, hingga akhirnya tadi pagi pada pukul 09.00 WIB, korban menghembuskan napas terakhirnya.

"Di rumah sakit keponakan kami ini sempat meminta pulang, padahal kondisinya belum membaik. Sampai akhirnya keponakan kami ini meninggal dunia," jelasnya.

Sekretaris Dinas Kesehatan (Dinkes) Sumsel, Alfaroby, mengatakan, kasus ini baru pertama kali terjadi di Sumsel.

"Sebenarnya ini bukan vaksin cacar tapi vaksin tetanus," katanya.

Kegiatan vaksin tetanus ini merupakan program bulan giat imunisasi yang merupakan program nasional untuk anak kelas dua dan tiga Sekolah Dasar. Ia mengaku memang vaksin tetanus ini memiliki dampak seperti suhu badan yang meninggi setelah disuntik.

Namun, kata dia, gejala tersebut tidak sampai menyebabkan kelumpuhan bahkan meninggal dunia. Karena itu, pihaknya masih mencari tahu penyebab kasus ini.

"Kami masih mencari tahu kenapa bisa sampai begitu. Padahal, anak lainnya sehat dan baik-baik saja," terangnya.

Ia mengaku berdasarkan informasi dari puskesmas, bahwa pihak puskesmas telah berupaya mengobati korban. Bahkan, sudah dirujuk ke Rumah Sakit (RS) Muhammadiyah. Meski begitu, pihaknya tetap melanjutkan kegiatan imunisasi di sekolah lantaran merupakan kegiatan nasional.

"Ini kan program nasional dan baru terjadi. Jadi kami masih menunggu instruksi dari pusat dahulu," tandasnya. (OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya