Aher Optimistis Pembangunan Terowongan Curug Jompong Tuntaskan Banjir

Eriez M Rizal
13/11/2017 19:22
Aher Optimistis Pembangunan Terowongan Curug Jompong Tuntaskan Banjir
(ANTARA FOTO/Novrian Arb)

PEMERINTAH pusat tahun ini mulai membangun terowongan Curug Jompong, Bandung, Jawa Barat.

Gubernur Jabar, Ahmad Heryawan (Aher), mengatakan, jika pembangunan Curug Jompong dimulai tahun ini, maka ditargetkan bisa rampung pada 2019.

"Saya optimistis, terowongan Curug Jompong ini akan menyelesaikan banjir di Cieunteung karena dari simulasi air segera surut kalau ada Curug Jompong ini," ujar Aher kepada wartawan di Gedung Sate, Bandung, Senin (13/11).

Menurut dia, saat ini penetapan lokasi (Penlok) Curug Jompong sedang ditetapkan oleh Pemprov Jabar. Jika Penloknya sudah ada, pembangunan pun bisa segera dimulai.

Aher menilai, keberadaan Curug Jompong ini sangat dibutuhkan. Karena persoalan yang ada sekarang, di cekungan Bandung terdapat puluhan sungai. Namun, semuanya bermuara dan berkumpul di daerah Sapan karena semuanya masuk menuju Saguling.

"Selama ini kan air masuk ke Baleendah, Dayeuh Kolot ke Sapan, lalu menuju Saguling. Makanya saat curah hujan tinggi selalu banjir," katanya.

Aher menjelaskan, dengan adanya Curug Jompong akan mempercepat pengaliran air. Proyek ini pun didanai oleh pemerintah pusat karena Sungai Citarum pengelolaannya di bawah Balai Besar Wilayah Sungai (BBWS) Citarum.

"Selain Curug Jompong, pembangunan kolam retensi di Cieunteung pun terus kami dorong supaya cepat selesai," katanya.

Namun, kata Aher, untuk mencegah banjir dalam jangka panjang yang paling penting ialah bagaimana mengubah perilaku masyarakat di bagian hulu. Hal ini sangat penting bukan hanya terkait pengendalian banjir tapi untuk hidrologi air.

"Dengan berbagai perbaikan termasuk memperbaiki daerah hulu, saya berharap dari tahun ke tahun akan ada perbaikan," katanya.

Selama ini, kata Aher, pemicu kerusakan di daerah hulu adalah penanaman sayuran. Oleh karena itu, ke depan Pemprov Jabar akan menggalakkan penanaman kopi.

"Kopi menguntungkan secara bisnis dan bisa konservasi. Jadi, kami akan terus menanam kopi," katanya.

Dinas Lingkungan Hidup Jabar terus mengkaji pengajuan analisis dampak lingkungan (Amdal) pembangunan terowongan (tunnel) Curug Jompong yang akan dilakukan oleh pemerintah pusat melalui BBWS Citarum.

Menurut Kepala Dinas Lingkungan Hidup Jabar, Anang Sudarna, DLH tidak ingin pembangunan tunnel yang diharapkan sebagai solusi mengurangi genangan di Bandung Selatan menjadi masalah baru.

Saat ini, menurut Anang, proses amdal masih berjalan di komisi Amdal yang melibatkan BBWS yang sebagai kepanjangan tangan Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat. Jadi, kata dia, tahapannya harus bolak-balik.

"Ada pertanyaan mendasar. Setiap pembangunan tidak bisa dicegah, tapi bagaimana meminimalisir dampak negatif dari pembangunan itu. Hal ini yang sedang kami explore," ujar Anang.

Ia mengatakan, pada proses penyusunan Amdal nanti, pihaknya harus memetakan dan membaca kemungkinan-kemungkinan yang terjadi jika pembangunan terowongan tersebut terwujud. Di antaranya soal jumlah sedimen yang akan bermuara di Waduk Saguling. Padahal, waduk tersebut merupakan aset nasional yang berperan vital terhadap suplai listrik Jawa dan Bali.

"Berapa jumlah tambahan sedimen tadi kalau terowongan diopersikan. Ini, masuk objek vital nasional, penopang listrik Jawa-Bali," katanya.

Anang khawatir akan terjadi black out karena untuk proses pemanasan tubin perlu sampai 6-8 jam kemudian bisa menyuplai listrik.

"Kalau banyak sedimen akan menghambat," imbuhnya.

Anang menilai, yang paling penting dan harus diperhatikan kalau terjadi beban aliran air bisa membahayakan bendungan. Jadi, pihaknya perlu mengetahui jumlah volume debit ketika dioperasikan. Berapa jumlah kenaikan muka air waduk dan dalam berapa lama bisa meluap. Hal itu harus bisa diprediksikan.

Anang pun khawatir, nantinya bisa berpengaruh ke Cirata. Jika kondisi itu terjadi, kalau tak tertahan akan jebol. Limpasan-limpasan itu bisa lancar, tapi yang terancam Karawang, Purwakarta, dan Kabupaten Bekasi.

"Kami tidak ingin masalah baru, makanya Amdal harus cermat dan itu di semua proyek kita lakukan itu," katanya. (OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya