Indeks Kualitas Lingkungan Hidup Kalsel Terburuk di Kalimantan

Denny Susanto
12/11/2017 18:17
Indeks Kualitas Lingkungan Hidup Kalsel Terburuk di Kalimantan
(ANTARA FOTO/Syifa Yulinnas)

INDEKS Kualitas Lingkungan Hidup (IKLH) Provinsi Kalimantan Selatan merupakan terburuk dari lima provinsi yang ada di Kalimantan dan menempati urutan 26 dari 33 provinsi di Tanah Air.

Rendahnya IKLH Kalsel ini merupakan fakta yang tidak bisa diabaikan sehingga perlu berbagai upaya untuk memperbaikinya. Hal ini menjadi pokok bahasan dalam diskusi lingkungan bertema 'Menyoroti Rendahnya IKLH Kalsel' yang dibarengi kegiatan Pena Hijau Award 2017, Minggu (12/11).

"Kita ketahui penilaian IKLH dipengaruhi tiga komponen yaitu air, udara, dan tutupan lahan. Provinsi Kalsel terendah di Kalimantan sehingga menjadi pekerjaan rumah kita bersama," tutur Kabid Pengendalian Pencemaran dan Kerusakan Lingkungan Hidup, Dinas Lingkungan Hidup Provinsi Kalsel, Asbiani, yang menjadi salah satu pembicara.

Pena Hijau Award 2017 merupakan penyelenggaraan pemberian penghargaan kepada individu atau organisasi pegiat lingkungan atas dedikasinya dalam upaya pelestarian dan pemulihan kualitas lingkungan.

"Kita berharap melalui diskusi ini akan mendorong dan memicu pegiat lingkungan dan masyarakat untuk bersama-sama pemerintah memperbaiki kualitas lingkungan," katanya.

Melalui kebersamaan dari semua komponen masyarakat, katanya, diharapkan kualitas lingkungan hidup Kalsel akan semakin baik. Ketika menyinggung rendahnya IKLH, dia mengungkapkan, ada tiga komponen yang mempengaruhi IKLH tersebut yakni indeks kualitas air (IKA), indeks kualitas udara (IKU), dan indeks kualitas tutupan lahan (IKTL).

Dia menjelaskan, untuk peningkatan IKA di Kalsel, maka dibutuhkan partisipasi dari seluruh lapisan masyarakat agar tidak membuang limbah rumah tangga dan limbah industri ke sungai.

Secara terpisah, Wakil Sekjen Bank Sampah Indonesia, Fathurrahman, mengajak seluruh elemen masyarakat untuk melakukan gerakan penanaman pohon dalam rangka memperbaiki tutupan lahan di daerah ini. Sedangkan untuk mengatasi permasalahan pencemaran sungai, lanjut dia, perlu upaya penyadaran masyarakat di daerah ini untuk menjunjung adat terhadap sungai, antara lain tidak membuang sampah ke sungai.

Wakil Ketua Komunitas Jurnalis Pena Hijau Indonesia, Khaidir Rahman, mengungkapkan, diskusi publik ini untuk mencari solusi atas permasalahan degradasi lingkungan di Kalsel sehingga menyebabkan rendaknya IKLH. Pembicara lain dalam kegiatan diskusi lingkungan ini adalah Riam Faradigma, Dosen Planologi Universitas NU yang memaparkan masalah pembangunan tata ruang Kalsel.

Sementara itu, Pena Hijau Award 2017 diberikan kepada Sahabat Bekantan Indonesia (SBI), Gabungan Kelompok Tani (Gapoktan) Tinombala yang berhasil membuat pupuk organik dan Pengelola Bank Sampah Morse Indah. (OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya