DPD Golkar Jabar Ambil SK Pengusungan Emil ke DPP

Bayu Anggoro
08/11/2017 19:06
DPD Golkar Jabar Ambil SK Pengusungan Emil ke DPP
(Wakil Sekretaris DPD Partai Golkar Provinsi Jabar, MQ Iswara. ANTARA FOTO/Novrian Arbi)

DEWAN Pimpinan Daerah (DPD) Partai Golongan Karya (Golkar) Provinsi Jawa Barat akan mengambil surat keputusan (SK) pengusungan Ridwan Kamil (Emil) pada Pemilihan Gubernur Jabar 2018.

Wakil Sekretaris DPD Partai Golkar Provinsi Jabar, MQ Iswara, mengatakan, pada Kamis (9/11) besok pihaknya akan mengambil SK tersebut ke Kantor DPP Partai Golkar di Jakarta. Menurut dia, undangan pengambilan SK tersebut telah diterimanya dari DPP, hari ini.

"Kami besok akan ke DPP mengambil SK," kata Iswara di Bandung, Rabu (8/11).

Dia mengaku, DPD Partai Golkar Provinsi Jabar sudah menerima pengusungan Emil. Bahkan, menurutnya, Ketua DPD Golkar Jabar, Dedi Mulyadi, juga sudah legawa dalam menyikapi hal ini.

"Kami memuji kenegarawanan Pak Dedi Mulyadi," katanya.

Disinggung adanya penolakan Emil dari arus bawah, Iswara tidak memungkiri.

"Desakan itu sikap spontan yang masih ditunjukkan kader di grass root, mohon dipahami," katanya.

Lebih lanjut dia mengakui, hingga saat ini pihaknya belum berkomunikasi dengan Emil. Namun, dia memastikan pengusungan partainya akan penuh jika Wali Kota Bandung itu menggandeng kader Golkar sebagai calon wakil gubernurnya, yang dalam hal ini telah diajukan Daniel Muttaqien.

Iswara menjanjikan mesin partai akan solid memenangkan Emil jika anak mantan Bupati Indramayu Irrianto MS Syafiuddin itu dipilih sebagai pendamping.

"Kami punya banyak kepala daerah, legislator. Mesin partai utuh," katanya.

Selain itu, Iswara menyebut Daniel mampu menambal kelemahan popularitas dan elektabilitas Emil di kawasan utara Jawa Barat.

"Kami berharap Daniel dipilih sebagai calon wakil Kang Emil," katanya.

Menurut pakar politik dan pemerintahan dari Universitas Padjajaran Bandung, Muradi, terdapat tiga kriteria yang harus dipertimbangkan Emil dalam memilih wakilnya. Pertama, calon pendampingnya harus mampu menutupi kelemahan popularitas dan elektabilitas Emil di suatu wilayah.

"Cari wakil yang bisa garap kelemahan basis (pemilih) dia (Emil)," kata Muradi.

Kedua, lanjut dia, calon wakil harus memiliki jaringan yang kuat, salah satunya melalui partai. Dengan kekuatan jaringan partai yang dimiliki, wakil tersebut diyakini mampu meningkatkan sosialisasi yang baik sehingga berpotensi besar untuk menarik simpati pemilih.
"Ketiga, wakilnya harus bisa menopang kinerja dia (Emil). Bukan sebaliknya," ujarnya.

Melihat kandidat calon wakil Emil yang disodorkan partai pengusung saat ini, Muradi menilai Bupati Tasikmalaya Uu Ruzhanul Ulum lebih unggul jika dibandingkan dengan Daniel. Menurutnya, Uu mampu mendongkrak popularitas dan elektabilitas di Priangan timur.

Sebagai putra asli Priangan timur dan telah memiliki jaringan yang kuat, menurut dia, Uu bisa meraup suara untuk Emil.

"Uu relatif bisa mengambil suara di Priangan timur," katanya.

Sedangkan Daniel, meskipun berasal dari utara Jawa Barat, lanjut Muradi, belum tentu bisa meningkatkan popularitas dan elektabilitas di kawasan tersebut.

"Kalau Daniel, saya enggak yakin. Dia figur baru, belum bisa membangun. Paling juga hanya Indramayu saja, itu juga belum tentu," katanya.

Dari sisi jaringan partai pun, Muradi menilai Uu lebih unggul ketimbang Daniel. Dengan bulatnya dukungan PPP untuk Uu, mesin partai akan bekerja maksimal dalam menyosialisasikan Emil-Uu.

Hal berbeda terlihat pada Partai Golkar di Jabar. Meski partai tersebut memiliki logistik yang lebih kuat, tambah Muradi, hal ini belum tentu bisa diandalkan mengingat adanya persoalan di tubuh Golkar.

Muradi menjelaskan, pengusulan Daniel sebagai calon wakil gubernur menimbulkan kekecewaan di struktur dan kader Golkar di Jabar yang berharap Ketua DPD Partai Golkar Provinsi Jabar Dedi Mulyadi sebagai calon gubernur.

"Golkar punya tingkat resistensi yang cukup besar, karena ada Dedi Mulyadi," ujarnya.

Dengan begitu, Muradi menilai, Emil akan berisiko jika memilih Daniel sebagai pendampingnya.

"Semacam api dalam senyap, bisa terbakar. Karena ada kekecewaan dari kader Golkar," katanya.

Sehingga, Muradi berpendapat Daniel tidak akan mengangkat elektabilitas Emil pada Pilgub Jawa Barat 2018.

"Tidak akan mengangkat elektabilitas. Lebih banyak mudaratnya. Mesin Golkar tidak akan berjalan," katanya. (OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya