Santri Harus Mampu Kembangkan Teknologi Digital

Bayu Anggoro
29/10/2017 20:08
Santri Harus Mampu Kembangkan Teknologi Digital
(ANTARA)

PERAN serta santri dan pesantren dalam menghadirkan penggunaan teknologi informasi yang baik harus lebih ditingkatkan. Kemajuan era digital yang sudah menyentuh hampir seluruh masyarakat harus mendapat pendampingan yang baik agar tidak ada penyalahgunaan.

Hal ini diungkapkan Menteri Komunikasi dan Informatikan, Rudiantara, saat menghadiri 'Silaturahim Akbar untuk Nusantara, Berkah dari Santri untuk NKRI', di Universitas Islam Nusantara (Uninus), Bandung, Jawa Barat, Minggu (29/10).

Pada kesempatan ini juga dilakukan peresmian kembalinya Uninus di bawah naungan Nahdlatul Ulama (NU).

Rudiantara menjelaskan, saat ini terdapat 175 juta pengguna telepon seluler yang tersebar di seluruh penjuru Tanah Air. Dari 514 kabupaten/kota, tambah dia, 226 di antaranya sudah memiliki kecepatan internet yang tinggi.

"Artinya, teknologi seluler ada di mana-mana," katanya.

Namun, menurut Menkominfo, kemajuan teknologi ini memiliki dua sisi, yakni positif dan negatif. Dia menyoroti dampak negatif terutama yang menyangkut peredaran berita bohong (hoaks).

"Hoaks ini bahaya, karena literasi masyarakat kita tentang media sosial masih rendah," katanya.

Oleh karena itu, kata Rudiantara, santri dan pesantren harus berperan aktif untuk menjadi pemain utama teknologi digital ini. Sehingga mereka juga bisa berperan untuk menangkal hoaks.

Selain menangkal hoaks, penggunaan teknologi digital itu juga bisa untuk meningkatkan pertumbuhan ekonomi. Terlebih, dia menyebut pemerintah telah mencanangkan ekonomi berbasis digital pada 2020 mencapai Rp1.500 triliun.

"Ekonomi Indonesia 2030-an besarnya akan 2,5 kali lipat dari saat ini. Ini sama dengan gabungan ekonomi ASEAN," ujarnya.

Di tempat yang sama, Rois Aam PBNU yang juga Ketua Majelis Ulama Indonesia (MUI), KH Ma'ruf Amin, mengatakan, pesantren harus menjadi pusat pemberdayaan ekonomi. Santri dan pesantren harus melakukan terobosan agar mampu mewujudkan hal tersebut.

"Presiden sudah mendukung, dengan memberikan aset dan lahan-lahan yang tidak terpakai kepada pesantren," katanya.

Ketua PWNU Jawa Barat, Hasan Nuri Hidayatullah, menilai, pihaknya akan menjadikan Uninus sebagai kampus digital untuk menjadi mercusuar Islam Ahlussunah Wal Jamaah Annadliyah. Dengan kembalinya Uninus ke NU, pihaknya akan menakhodai kampus tersebut.

"Semoga peran santri akan semakin meningkat dalam mendampingi kemajuan teknologi informasi ini," katanya.

Sementara Wali Kota Bandung Ridwan Kamil (Emil) berharap, dengan bergabungnya Uninus ke NU mampu mengembangkan keilmuan Islam. Bahkan, dia pun berharap pengembangannya berdasarkan teknologi digital.

"Semoga mengarah ke universitas digital," katanya.

Emil menyebut, penggunaan digital bisa juga digunakan sebagai sarana dakwah. Pemerintah Kota Bandung, lanjut Emil, sudah mengembangkan program Dakwah Digital bersama NU Kota Bandung.

"Melatih dai-dai dan ustaz-ustaz untuk belajar media sosial. Agar dakwahnya tidak hanya hadir secara fisik, tapi juga digital," ujarnya. (OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya