SEJUMLAH petani menyambut gembira musim panen padi. Tidak hanya petani penggarap dan pemilik sawah yang senang, para pengais padi sisa hasil panenan yang biasa disebut penggampung pun ikut senang dengan datangnya musim panen padi.
Para penggampung ini umumnya kaum perempuan dari kelompok warga kurang mampu.
Turah, 65, seorang penggampu yang ditemui di Desa Rengaspendawa, Kecamatan Jatibarang, Kabupaten Brebes, Jawa Tengah, Senin (9/3), tampak bersemangat mengais sisa-sisa batangan padi hasil panenan yang sudah diambil dengan cara dipukul (digepyoki) oleh para pemanen padi.
Terik matahari tidak menyurutkan semangat Turah untuk terus mengumpulkan sisa-sisa batangan padi. Ia terus saja memunguti batangan padi yang sudah digepyoki para pemanen. Ia kemudian memukul-mukul batangan padi tersebut di sebuah papan agar terlepas gabahnya yang masih tersisa.
Sesekali Turah berhenti sebentar untuk meneguk air sambil mengelap keringat, kemudian melanjutkan memukul-mukul batang padi.
Saat jam istirahat tiba, Turah menghabiskan bekal nasi bungkus, air putih, dan penganan yang dibawa dari rumah.
Turah hanyalah seorang di antara para penggampung yang selalu ada jika ada petani tengah memanen padi, seperti yang sedang berlangsung di Desa Rengaspendawa.
"Ya lumayan daripada menganggur. Saya tidak punya anak. Suami juga sudah meninggal, jadi mencari makan sendirian," tutur Turah, seraya mengusap wajahnya yang berkeringat.
Ada banyak penggampung selain Turah, tapi mereka bekerja terpencar agar mendapat sisa batangan padi lebih banyak dan tidak berebut.
Warga Desa Pemaron ini sebenarnya ingin menjadi buruh panen padi. Namun, tenaganya sudah menurun. Selama menjadi penggampung, dalam sehari bisa mendapatkan gabah 2 kilogram.
"Ini untuk persediaan makan," ujarnya.
Saat ini harga gabah di tingkat petani Rp4.700 per kilogram. Jika dalam sehari Turah mendapatkan 2 kilogram gabah, berarti penghasilannya dalam sehari kurang dari Rp10 ribu. Apalagi kualitas gabah sisa yang digampung Turah lebih rendah sehingga harga jual pun bisa di bawah harga pasaran.
Meski demikian, para penggampung tetap mendapatkan berkah dari panen padi saat ini.
Supirto, 47, petani penggarap di desa tersebut, juga mendapat rezeki lumayan dari panen yang diperoleh.
"Harga gabah lagi tinggi. Pinginnya harga gabah naik sampai Rp500 ribu per kuintal karena ongkos produksi juga naik terutama tenaga kerja," ujarnya berharap. (N-4)