Mencapai Swasembada Garam itu Mudah

24/10/2017 23:16
Mencapai Swasembada Garam itu Mudah
(Ist)

UNTUK mencapai swasembada garam pemerintah bisa menerapkan teknologi media isolator. Dengan teknologi tersebut, musim hujan tidak menjadi kendala yang berarti.

Biasanya pegaram dan industri garam kekurangan bahan baku air laut. Sebab tercampur dengan air hujan dan penurunan kualitas bahan baku garam.

"Teknologi tersebut hak patennya dimiliki Kementerian Perindustrian dengan inventornya saya sendiri. Sayang belum diterapkan diseluruh sentra garam di Indonesia," ungkap Kepala Balai Besar Teknologi Pencegahan Pencemaran Industri, Semarang, Dr Ir Sudarto, MM, Selasa (24/10).

Kondisi garam saat ini, ungkap doktor garam jebolan Universitas Diponegoro ini, lahan garam yang dimiliki pegaram rakyat cukup luas, sekitar 20 ribu sampai 25 ribu hektare (ha). Sedangkan lahan yang dimiliki PT Garam hanya berkisar 5.500 ha.

Sayangnya, produktivitas lahan pegaraman rendah, rata-rata di bawah 70 ton/ha/musim. Kualitas garam yang dihasilkan di bawah standar bahan baku (NaCl < 94,7%). Selain itu kualitas garam juga tidak homogen.

"Akibatnya harga garam di sentra garam rakyat rendah, sebab kualitasnya kurang. Karena itu tidak dilirik bank untuk bantuan permodalan. Mereka juga terbatas aksebilitas inovasi teknologi, infrastruktur, sarana produksi," jelas Sudarto.

Dengan kendala yang dihadapi pegaram rakyat antara lain keterbatasan teknologi, sarana dan prasarana, infrastruktur, dan kualitas SDM pegaram, dia menyarankan pemerintah turun tangan melakukan pembenahan industri pegaraman nasional dan pegaram rakyat.

Sebab, kualitas pegaram rakyat belum sepenuhnya memenuhi standar kualitas garam produksi. Yaitu harus memiliki kadar NaCl (Natrium Klorida) 90–97. Untuk mendukung kebutuhan garam nasional dengan kadar tersebut diperlukan sistem produksi pegaraman yang lebih baik.

“Harus dipenuhi standar produksi pegaraman yang baik untuk memperoleh kualitas dan kuantitas garam yang baik,” ujarnya.

Sudarto yakin, dengan teknologi media isolator masalah di atas bisa terjawab. Dari hasil penelitian dan uji coba sejak 2011 di Sumenep (Madura), Demak, Jepara, Rembang dan Pati (Jawa Tengah) hasilnya produktivitas garam naik dua sampai tiga kali lipat dengan kualitas homogen yang memenuhi standar.

"Saat ini tinggal bagaimana pemerintah pusat menerapkan teknologi ini. Patennya atas nama Kementerian Perindustrian, pemangku kepentingan tinggal berkordinasi saja. Saya yakin Indonesia bisa mencapai swasembada garam nasional," ujarnya.

Sebelumnya, ungkap Sudarto, pihak swasta sudah mengajaknya menerapkan teknologi tersebut. Namun, dia menolak karena penelitiannya dibiayai Kementerian Perindustrian. Karena itu hasilnya dipatenkan atas nama Kementerian Perindustrian. (OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Eko Suprihatno
Berita Lainnya