Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
TAHUN 1999 silam, Yanto Supardi yang masih berusia 22 tahun memantapkan hatinya untuk meninggalkan Desa Panusupan, Kecamatan Rembang, Purbalingga, Jawa Tengah (Jateng). Dia pergi merantau ke Negeri Jiran, Malaysia. Alasannya, kalau bertahan di desa kelahirannya dia tidak akan mendapatkan penghasilan.
Mengadu nasib dengan merantau ke luar negeri atau kota besar di dalam negeri ternyata tidak hanya menjadi pilihan Yanto saja, tetapi juga puluhan pemuda desa setempat.
Pada umumnya, mereka beralasan Desa Panusupan tidak akan mampu memberikan penghasilan yang cukup. Desa terpencil yang letaknya 20 kilometer (km) dari pusat Kota Purbalingga tersebut termasuk daerah minus waktu itu.
Bahkan, semasa Orde Baru (Orba), Panusupan dikategorikan sebagai desa IDT (Inpres Desa Tertinggal). "Banyak pemuda, termasuk saya memilih untuk merantau. Tahun 1999 saya berangkat ke Malaysia untuk menjadi tenaga kerja Indonesia (TKI). Meski sebetulnya, di Malaysia saya juga hanya kerja sebagai kuli bangunan. Tetapi itu menjadi pilihan, karena kalau bertahan di Desa Panusupan, sangat berat menanggung hidup," ungkap Yanto.
Kondisi tertinggalnya Desa Panusupan juga diakui oleh perangkat Desa Panusupan Windarto. Dia menceritakan dulu Desa Panusupan merupakan desa IDT. Apalagi wilayahnya begitu terisolasi dengan kondisi jalan yang rusak.
"Panusupan yang terletak di perbukitan Ardi Lawet terpencil dan jalannya rusak. Jelas, waktu itu masuk desa IDT. Aspal saja, baru masuk sekitar tahun 1997 lalu," kata Windarto.
Dengan kondisi semacam itu, maka tidak mengherankan jika banyak pemuda yang kemudian merantau ke kota-kota besar, bahkan sampai ke luar negeri. "Mereka memilih merantau, sebab kalau hidup di desa tidak ada pekerjaan. Umumnya, di sini hanya bertani saja dan buruh kasar," ungkapnya.
Sebagai wilayah dengan topografi berbukit-bukit, Panusupan menjadi daerah yang sulit dijangkau, apalagi sebelum tahun 2000. Tingkat pendidikan masyarakat juga masih seadanya. Sehingga warga yang tidak merantau paling hanya menjadi buruh tani untuk memenuhi kebutuhan hidupnya.
Kembangkan Wisata
Yanto yang merantau di Malaysia, kembali ke desanya pada 2002. Dia merantau hanya sekitar tiga tahun sebagai kuli bangunan di Negeri Jiran.
"Saya memutuskan untuk tidak berangkat lagi dan memilih bekerja di desa. Terus terang, awalnya saya juga bingung mau kerja apa di Panusupan. Desanya terpencil dan infrastrukturnya masih kurang mendukung. Tetapi setelah beberapa tahun di Panusupan, akhirnya muncul ide mengenai pengembangan wisata. Salah satu pemicunya adalah wisata religi Ardi Lawet yang sejak lama dikunjungi para peziarah. Dari situlah, kami mulai melakukan eksplorasi wisata di desa ini," ujar Yanto.
Pengembangan wisata di Panusupan bukan tanpa alasan, karena ternyata banyak lokasi yang patut dijadikan obyek wisata. Yanto yang kemudian menjadi Ketua Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Ardi Mandala Giri Desa Panusupan, mengatakan paling awal pengembangan wisata sekitar tahun 2013 lalu.
"Paling awal yang kami kembangkan adalah Air Terjun Pengantin. Lokasinya berada di perbukitan dan ditempuh dengan berjalan kaki. Dari sinilah, kami terus mencari potensi-potensi wisata yang ada di Panusupan. Ternyata, Panusupan yang berada jauh di perbukitan justru menyimpan surga wisata yang tersembunyi," ungkapnya.
Kini, sejumlah destinasi wisata sudah dikembangkan di Desa Panusupan di antaranya adalah Jembatan Cinta, Air Terjun Pesantren, Rumah Pohon Kenangan, Igir Wringin, Puncak Sendaren dan lainnya. "Seluruh destinasi wisata digarap secara mandiri. Pokdarwis mengkoordinasikan pengembangan masing-masing obyek wisata tersebut," kata Yanto.
Dalam pengembangan obyek wisata itu, tentu membutuhkan keterlibatan para pemuda di dalamnya. "Sejumlah pemuda memutuskan tidak merantau karena berkomitmen mengembangkan pariwisata untuk kemajuan desa. Alhamdulillah, ada puluhan pemuda yang terlibat. Belum lagi efek domino wisata berupa warung-warung yang didirikan warga. Termasuk di dalamnya adalah mengenalkan makanan khas Panusupan seperti manisan dari salak serta kerajinan berupa kaligrafi," ujarnya.
Selama dua tahun terakhir, berbagai obyek wisata di Desa Panusupan mencapai ratusan ribu orang. "Untuk tahun 2015 lalu, jumlah kunjungan mencapai sekitar 100 ribu orang lebih selama setahun. Kemudian pada 2016, jumlah kunjungan mencapai 150 ribu lebih. Dengan kunjungan sebanyak 150 ribu lebih, maka uang yang beredar di Desa Panusupan
mencapai Rp1 miliar lebih," ungkapnya.
Dengan perolehan sebesar itu, pendapatan desa juga meningkat drastis. "Dulu, desa ini sama sekali tidak memiliki pendapatan. Namun, sejak wisata di Panusupan banyak dikunjungi wisatawan, ada pendapatan yang masuk. Misalnya, dari Rp5 ribu harga tiket masuk, maka Rp1.000 di antaranya masuk ke dalam pendapatan desa. Tahun 2016 lalu, misalnya, desa mendapatkan masukan dari pengelola obyek wisata secara total mencapai Rp150 juta lebih. Pendapatan tersebut digunakan untuk memberdayakan masyarakat desa, di antaranya adalah pengembangan sumber daya desa, peningkatan keterampilan warga, simpan pinjam dengan bunga rendah dan lainnya," tutur Windarto, seorang perangkat yang juga Ketua Badan Usaha Milik Desa (BUMDes) Panusupan.
Tak hanya untuk desa, keberadaan sejumlah destinasi wisata mampu menjadi efek domino bagi penguatan ekonomi rakyat. Koordinator Pengelola Wisata Jembatan Cinta Panusupan, Edi Wahyono, mengatakan bahwa obyek wisata yang berupa jembatan bambu wulung di atas areal persawahan dan dibentuk lambang cinta tersebut mampu menjadi magnet wisata.
"Dampaknya juga dirasakan oleh warga sekitar. Misalnya saja, kerajinan bambu jadi terangkat. Makanan khas desa seperti cimplung dan tempe produksinya mengalami peningkatan. Warga juga ada yang membuka warung di sini untuk melayani para pengunjung. Ini yang saya katakan dampak bagus bagi ekonomi masyarakat sekitar," jelas Edi.
Kini, desa terpencil yang dulunya sepi dan tertinggal berubah menjadi sebuah kampung yang menyajikan beragam obyek wisata. Desa yang dulunya terbelakang telah bermetamorfosa menjadi desa berdaya dengan mengembangkan sumberdaya lokal yang ada, destinasi wisata. (OL-3)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved