Singkong Berpotensi Dorong Industri Nasional

Eva Pardiana
24/10/2017 19:07
Singkong Berpotensi Dorong Industri Nasional
(ANTARA FOTO/Prasetia Fauzani)

KOMODITAS ubi kayu atau singkong telah dibudidayakan di Indonesia sejak ratusan tahun lalu. Namun, komoditas ini belum berperan strategis bagi pembangunan ekonomi nasional dan kesejahteraan masyarakat.

Padahal, singkong memiliki peluang besar untuk diorbitkan menjadi komoditas unggulan nasional. Hal ini disampaikan oleh Wakil Ketua Dewan Riset Daerah (DRD) Provinsi Lampung, Andi Desfiandi.

Menurut Andi, singkong merupakan sumber pati yang sangat baik untuk bahan baku pangan, energi, dan industri. Hingga saat ini terus berkembang riset dan inovasi menuju diversifikasi produk pangan olahan yang menggunakan singkong sebagai bahan baku utama.

Semakin banyak industri yang menggunakan pati asal singkong dalam berbagai produk pangan olahan, termasuk roti, biskuit, dan kue basah.

"Penggunaan dalam industri non-pangan seperti kosmetik, bio-farmaka, bio-plastik juga semakin meningkat," kata Andi di Kantor Balitbangnovda, Bandar Lampung, Selasa (24/10).

Pada proses budi daya dan pengolahan singkong dihasilkan beragam produk samping dalam jumlah besar, seluruh bagian komoditas ini dapat dimanfaatkan. Daun dan batang ubi kayu dimanfaatkan sebagai bahan pakan ternak. Hasil samping pabrik tapioka berupa limbah padat onggok merupakan bahan pakan ternak potensial.

Limbah cair asal pabrik tapioka, yang selama ini menyebabkan pencemaran lingkungan, dapat dimanfaatkan untuk menghasilkan energi berupa gas bio. Selain itu, berdasarkan data Badan Pusat Statistik (BPS), share produksi singkong Provinsi Lampung mencapai 38% dari produksi nasional.

Artinya, lanjut Andi, Lampung layak dikembangkan menjadi pusat pengembangan inovasi teknologi dan hilirisasi agribisnis ubi kayu nasional.

"Produksi singkong yang sebagian besar dilaksanakan oleh petani juga berperan besar dalam penyerapan tenaga kerja dan penanggulangan kemiskinan," ujarnya.

Kepala Badan Penelitian, Pengembangan, dan Inovasi Daerah (Balitbangnovda) Provinsi Lampung, Mulyadi Irsan, menambahkan, keberagaan agribisnis ubi kayu di Indonesia masih tertinggal bila dibandingkan dengan negara lain yang serius menangani komoditas ini.

Produktivitas ubi kayu di Indonesia rata-rata masih berada pada kisaran 18-20 ton per hektare. Padahal, potensi genetik ubi kayu di Tanah Air termasuk tinggi, rata-rata di atas 30-40 ton per hektare.

"Rendahnya tingkat produktivitas dipengaruhi oleh banyak hal, termasuk daya dukung lahan, mutu bibit, input pupuk, aspek budi daya, umur panen, dan banyak faktor lainnya," katanya.

Belum lagi masalah yang dihadapi petani. Harga jual singkong di tingkat petani sangat rendah, bahkan menyentuh Rp500 per kilogram. Harus ada langkah bagi pemerintah daerah maupun nasional untuk menjaga harga singkong di tingkat petani agar petani tidak merugi.

Mulyadi melanjutkan, Pemprov saat ini tengah menyusun formulasi untuk menjaga suplai dan demand komoditas ubi kayu. Ia berharap Pemerintah Pusat juga turut mendukung dukung regulasi yang menguntungkan petani. Selain itu, petani juga harus diedukasi agar mampu memanfaatkan teknologi informasi dalam menjual hasil panennya.

Untuk menyusun formulasi dalam megembangkan komoditas ini, akan digelar Rapat Koordinasi (Rakor) Forum Dewan Riset Daerah Se-Sumatra I 2017 pada 26 Oktober dengan mengusung tema Revitalisasi Agribisnis Ubi Kayu Hulu-Hilir Menuju Kemandirian Pangan, Energi, dan Industri Nasional.

"Gubernur ingin ada kemandirian pangan, forum ini diharapkan menjadi think thank-nya gubernur untuk mendorong kebijakan berbasis riset agar efektif dan efisien," katanya. (OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya