Terangi Kegelapan di Penghujung Sumsel

Dwi Apriani
24/10/2017 12:59
Terangi Kegelapan di Penghujung Sumsel
(MI/Dwi Apriani)

PROVINSI Sumatra Selatan merupakan daerah penghasil sumber listrik dan juga menjadi provinsi yang surplus listrik. Namun tak semua daerah wilayahnya yang menikmati listrik tersebut, di kawasan penghujung Sumsel sendiri seperti di Kabupaten Ogan Komering Ulu Selatan.

Di daerah yang terkenal dengan hasil bumi tersebut masih cukup banyak desa-desa yang belum teraliri listrik. Diantaranya Desa Merbau, Kecamatan Banding Agung, Kabupaten OKU Selatan.

Di desa ini terdapat banyak dusun yang berada di area perbukitan. Seperti di Dusun Sarwan Lima, dimana perlu naik turun bukit untuk dapat mencapai lokasi. Ternyata bukan area perkebunan dilokasi tersebut, ada puluhan rumah warga.

Karena akses menuju dusun tersebut cukup sulit, sangat wajar bila listrik dari PLN tidak bisa menerangi dusun itu. Berdasar data dari Kepala Desa Merbau, Ahmad Yani, ada 37 rumah di Dusun tersebut dimana 165 warga yang mendiami rumah-rumah tersebut.

"Aksesnya sulit, harus naik dan turun bukit untuk menuju lokasi. Warga disana tidak menikmati listrik. Mereka harus ke desa-desa tetangga hanya untuk menonton televisi dan melakukan aktivitas lainnya," ungkap Yani.

Yani menerangkan, warga sudah seringkali meminta kepada pemerintah daerah agar desanya juga mendapat aliran listrik. Pada 2012 lalu, warga pernah mengumpulkan dana sendiri untuk membangun pembangkit listrik tenaga mikro hidro.

Sayang karena belum didukung pemerintah, rencana itu pun belum berhasil. Tak berselang lama, bantuan dari Universitas Muhammadiyah Palembang pun masuk ke dusun tersebut dan membuat PLTMH dengan rakitan sederhana. Namun karena energi yang dihasilkan sedikit, warga hanya bisa menyalakan lampu rumah saja, itupun terbatas jumlahnya.

Untuk bisa menikmati listrik itu, warga membayar sukarela senilai Rp20.000 per kepala keluarga untuk operasional PLTMH itu. Sayang, karena energi yang dihasilkan PLTMH itu kecil, sehingga seringkali listrik padam, padahal warga sudah sangat minim menyalakan lampu dirumahnya.

PT Pertamina Refinery Unit III akhirnya berencana membangun PLTMH di dusun tersebut pada Mei 2017. Hal itu membuat warga lega. Setelah menunggu sekitar lima bulan, akhirnya PLTMH itu mulai dioperasionalkan.

"Warga disini baru bisa menikmati listrik secara leluasa pada Oktober ini. Itu setelah bantuan Pertamina masuk ke dusun ini. Tidak perlu lagi membagi jadwal pemakaian listrik, warga sudah bisa menonton TV, setrika baju dan menyalakan kulkas," kata dia.

Ada banyak aktivitas positif yang terbangun dengan adanya listrik dari PLTMH yang dibangun Pertamina ini. Diantaranya aktivitas di surau (masjid), anak-anak dapat menyerukan mengaji dengan bantuan pengeras suara.

Warga dapat menyaksikan tontonan sepak bola secara bersama-sama, mengetahui perkembangan dunia melalui siaran berita di televisi dan sebagainya. "Dampaknya banyak. Sekarang setiap rumah sudah tersambung listrik. Sudah bisa melek dunia. Tidak harus ke desa lain untuk nonton TV, tidak harus naik turun bukit lagi demi nonton bola," ungkap dia.

Ditambahkan, Suparman, warga Dusun Sarwan Lima, sebelum PLTMH yang dibangun pertamina ini ada, kehidupan warga cukup sulit. "Mau menyalakan lampu saja paling tidak hanya dua buah lampu saja, kalau lebih bisa langsung padam karena kekuatan pembangkit tidak mencukupi," ungkap dia.

Ia mengakui, listrik hanya bisa dinyalakan pada malam hari saja mulai pukul 18.00 WIB hingga 05.00 WIB. “Karenanya di dusun ini tidak banyak warga yang punya barang-barang elektronik. "Bukan karena tidak mampu beli, tapi energi listrik tidak memenuhi," kata dia.

Rata-rata warga di Dusun Sarwan Lima itu memiliki mata penghasilan sebagai petani kopi. Namun biasanya dikebunnya dilakukan sistem tumpang sari, yakni menanam kakao, petai, pisang, enau, dan sebagainya.

"Dengan adanya listrik ini, kami seperti terangkat. Peribahasa itu seperti nyata Habis Gelap Terbitlah Terang. Kami merasakan ini," terang Suparman.

Sementara itu, Djoko Priyono, General Manager Pertamina RU III mengatakan, membangun PLTMH di Dusun Sarwan Lima Desa Merbau itu merupakan salah satu tugas Pertamina dimana membangun energi untuk negeri dan menciptakan kemandirian energi.

Pertamina RU III dengan ini berupaya untuk membangun Desa Mandiri. "Kami membangun PLTMH yang menghasilkan 10 kilowatt untuk warga di dusun ini. Untuk pengelolaannya, kami serahkan penuh pada warga. Karenanya teknik dan mekanisme operasional kepada warga sudah dilatih. Warga bisa atur dan kelola sendiri," ujar dia.

Di PLTMH ini, Pertamina RU III menyambungkan listrik dari lokasi pembangkit ke dusun sejauh tiga kilometer. Hal itu karena pembangkit berada di ujung desa dan dibawah bukit, sementara dusun berada di atas bukit dan berjarak cukup jauh.

Karena akses dari dusun ke pembangkit masih merupakan tanah rawan longsor, Partamina pun melengkapinya dengan membuat jalan cor dari dusun menuju ke pembangkit.

"Desa Merbau dipilih untuk pembangunan PLTMH karena memang warga disini sangat membutuhkan listrik sementara listrik dari negara belum masuk. Aksesnya sulit dan itu mungkin jadi faktornya. Kami lakukan pengerjaan kurang dari lima bulan dan per Agustus kemarin sudah beroperasional," kata Djoko.

Pertamina membangun PLTMH ini dengan menggunakan dana CSR sekitar Rp850 juta. Bukan hanya membangun PLTMH dan akses jalan, Pertamina pun melakukan perbaikan surau, membangun gedung pertemuan warga desa dan melengkapi akses jalan dengan lampu penerangan.

Ia menyebutkan, PLTMH ini membawa efek pengganda (multiplier effect) berupa penguatan institusi sosial. Diantaranya pemanfaatan listrik dari PLTMH untuk pengepakan gula semut oleh kelompok usaha kecil mikro Desa Merbau yang digagas Pertamina.

Selain itu, listrik dari PLTMH juga untuk menerangi balai dusun bantuan Pertamina yang sekaligus dimanfaatkan sebagai Pusat Kegiatan Belajar Masyarakat (PKBM).

"PKBM ini dapat dimanfaatkan untuk kegiatan ibu-ibu mengolah gula semut. Anak-anak pun akan makin giat membaca buku-buku yang tersedia di perpustakaan PKBM. Kehadiran PLTMH ini pun membuka peluang untuk peningkatan ekonomi desa. Misalnya melalui pengolahan makanan maupun hasil kebun," tandasnya. (OL-7)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akhmad Mustain
Berita Lainnya