Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
BELASAN rumah di Kampung Babakan Salam RT 04/11 Desa Citalem, Kecamatan Cipongkor, Kabupaten Bandung Barat, retak-retak dan terancam ambruk akibat pergerakan tanah yang terjadi selama beberapa hari terakhir ini.
Berdasarkan penghitungan aparat desa setempat, terdapat 12 rumah yang sudah mengalami retak di bagian temboknya. Lima rumah di antaranya telah ambruk dan dirobohkan sendiri pemiliknya karena bahaya jika tetap ditinggali.
Salah seorang pemilik rumah, Nanang, 45, mengatakan, sudah mengungsikan anggota keluarganya ke tempat yang lebih aman karena sebagian rumahnya sudah ambruk akibat pergerakan tanah tersebut.
"Anak-anak saya sudah dipindah ke rumah neneknya, sambil menunggu bantuan dari pemerintah, saya kumpulkan bahan-bahan bangunan yang masih bisa dimanfaatkan jika seandainya nanti mau bangun kembali rumah," katanya, Minggu (15/10).
Nanang menyebut, pergerakan tanah mulai terjadi pada Rabu (11/10) lalu. Awalnya, kawasan sekitar tempat tinggalnya aman-aman saja. Namun beberapa tahun terakhir, pergerakan tanah sering terjadi.
"Saya sudah 12 tahun tinggal di sini, dulunya kondisi tanah di sini masih datar. Namun beberapa tahun ini sering ada penurunan, baru paling parah terjadi pada minggu lalu, turunnya sampai 1 meter lebih," ucapnya.
Maskuroh, 40, warga lainnya, mengaku, retakan tanah yang telah terjadi sekitar seminggu lalu akibat hujan deras. Padahal, rumah yang ditempatinya ini belum lama diperbaiki.
"Karena turun hujan, lantai rumah jadi retak-retak lagi. Kalau setiap hujan deras, saya sering merasakan pergerakan tanah, apalagi di malam hari di saat suasana sepi, saya dan anak-anak sering dengar suara retakan tembok dan pergeseran di bagian atap rumah," ujarnya.
Maskuroh bersama warga lainnya berharap bisa pindah rumah lantaran khawatir pergerakan tanah ini terus terjadi. Kekhawatiran makin bertambah karena hujan akan terus turun dalam beberapa hari ke depan.
"Inginnya sih pindah, tapi enggak tahu harus pindah ke mana. Apalagi akan masuk musim hujan, siapa yang tahu, saat kami tidur tahu-tahu rumah ambruk dan menimpa kami," jelas Maskuroh.
Kepala Desa Citalem, Mauludin, menyatakan, sudah melaporkan kejadian tersebut kepada kepolisian dan Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD). Ia berharap korban yang terdampak bisa direlokasi. Namun begitu, pihaknya masih menunggu jawaban dari pihak BPBD.
"BPBD sudah ke sini, mengecek lokasi. BPBD rencananya akan melibatkan ahli geologi untuk mengkaji kondisi lahan apakah masih layak huni atau tidak," ungkap Mauludin.
Ia mengatakan pihaknya hanya tinggal menunggu hasil kajian tim geologi dan BPBD yang akan mengecek ke lokasi pada Senin (16/10) besok atau Selasa (17/10). Jika memang tidak layak huni, pihaknya akan menyiapkan lahan desa sebagai tempat relokasi.
"Kalau memang harus direlokasi, kami akan siapkan tanah desa, tapi terserah warga saja mau direlokasi ke mana. Kalau memanfaatkan pengajuan rutilahu sebesar Rp5 juta, saya kira tidak akan cukup," tuturnya.
Kepala Bidang Kedaruratan dan Logistik BPBD Bandung Barat, Dicky Maulana, menyatakan, akan menunggu hasil kajian geologi untuk memutuskan apakah warga harus direlokasi atau tidak dari tempat tersebut.
"Hasil pantauan sementara BPBD, memang di kawasan tersebut disinyalir ada sumber resapan air sehingga menimbulkan pergeseran tanah," beber Dicky.
Pergeseran tanah, tambah Dicky, tidak hanya terjadi di Kampung Babakan Salam saja, tetapi juga terjadi di Desa Cintaasih yang masih bertetangga.
"Kita telah menyarankan warga di sana, manakala hujan besar harus mengungsi. Karena khawatir tanahnya bisa bergeser akibat terus menerus tergerus air," tambahnya. (OL-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved