Berburu Sertifikasi Meningkatkan Nilai Jual

Ardi Teristi Hardi
11/3/2015 00:00
Berburu Sertifikasi Meningkatkan Nilai Jual
(ANTARA/ANDREAS FITRI ATMOKO)
SEBAGAI produk pertanian andalan Kabupaten Sleman, berbagai cara dilakukan agar salak terus berkembang, baik dari kualitas, kuantitas, maupun harga jualnya.

Berbagai sertifikasi terus diupayakan agar harga jual salak bisa semakin tinggi, sehingga dapat menguntungkan petani, mulai dari sertifikasi hak atas kekayaan intelektual hingga sertifikasi organik internasional.

''Kami saat ini sedang konsentrasi pada peningkatan produksi dan sertifikasi salak organik,'' terang Kepala Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Kabupaten Sleman, Widi Sutikno, Jumat (27/2).

Sertifikasi salak organik penting dilakukan agar buah salak yang dihasilkan bisa diekspor ke luar negeri. Dengan cara itu, petani salak bisa lebih diuntungkan karena harga jualnya lebih tinggi.

Hingga saat ini, lanjut dia, jumlah kebun salak di Sleman yang sudah disertifikasi organik berlaku nasional seluas 150 hektare.

Sementara itu, kebun salak yang sudah mendapat sertifikasi organik secara internasional seluas 35 hektare. Edukasi tentang sistem pertanian organik yang benar dalam merawat pohon salak terus dilakukan, agar semakin luas kebun salak yang bisa mendapat sertifikasi organik internasional.

Ia mengakui alih fungsi lahan menjadi salah satu kendala yang dihadapi dalam pengembangan perkebunan salak di Sleman.

Namun, lanjut dia, alih fungsi lahan tanaman salak tidak besar, hanya untuk keperluan rumah petani salak.

Bagi Widi, alih fungsi lahan tidak akan terjadi secara masif jika komoditas salak masih mempunyai nilai ekonomis yang tinggi.

''Tujuan kami memfasilitasi agar salak bisa dieskpor ke luar negeri agar harganya bisa berlipat-lipat,'' terang dia.

Menurut dia, dengan banyak salak yang diekspor akan mendongkrak harga salak dan bisa menambah keuntungan petani salak. Manfaatnya, para petani juga akan bersemangat menanam dan merawat tanaman salak.

Semangat petani menanam salak tampak pada bertambahnya jumlah tanaman salak baru pada 2014.

Dari data Dinas Pertanian, Perikanan, dan Kehutanan Kabupaten Sleman pada 2014, total tanaman salak yang ditebang sebanyak 7.796 pohon, sedangkan yang ditanam jauh lebih besar, yaitu 344.801 pohon.

Dari sisi produksi, panen salak pada 2014 jauh lebih banyak daripada panen salak 2013. Jika pada 2013 produktivitasnya hanya 704.001 kuintal, pada 2014 produksinya mencapai 741.658 kuintal. Menurut dia, produksi tersebut belum maksimal karena banyak pohon salak masih berusia muda, terutama yang baru ditanam pascaerupsi Merapi 2010.

Masyhuri, peneliti di bidang pelayanan ketahanan pangan, mengungkapkan ada karakteristik istimewa salak pondoh. Menurut peneliti yang mendapat penghargaan Adhikarya Pangan Nusantara 2014 itu, salak pondoh memiliki nilai ekonomi tinggi. Meski jenis bibit sama, bila ditanam di tempat berbeda, hasilnya akan berbeda.

Dosen program agrobisnis Universitas Gadjah Mada itu menambahkan salak pondoh yang terbaik hanya ditanam di lereng Merapi wilayah Sleman.

Dengan adanya keistimewaan itu, Masyhuri pun tertarik mendampingi petani salak pondoh agar tidak hanya menjadi petani, juga bisa menjadi pengusaha dengan metode inkubator pada 1996.

''Pada 1996, kami mulai mendidik petani-petani salak kecil agar bisa menjadi besar dengan cara membangun kelompok,'' terangnya.

Setelah ada kemajuan, ia melepaskan para petani salak itu agar bisa berkembang sendiri.

Masyuri mengakui berkembangnya pertanian salak pondoh saat ini bukan semata-mata peran sertanya.

Pasalnya, sejak dulu pemerintah dan beberapa lembaga lain juga turut serta dalam mengembangkan salak pondoh di Sleman.

Kini, lanjut dia, di Sleman ada sekitar 33 kelompok petani salak pondoh yang dibina Pemerintah Kabupaten Sleman agar bisa menerapkan <>good agriculture practices (GAP). Sara berkebun yang baik diharapkan dapat menghasilkan varietas salak pondoh yang terbaik dan memenuhi standar ekspor.

''Pada akhirnya, dapat meningkatkan ekonomi petani salak,'' ujar Masyhuri. (AT/N-4) 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya