DARI Lereng Gunung Merapi, salak pondoh segar kini sudah berlayar hingga ke negara tetangga. Tidak hanya sampai di situ, berbagai inovasi pun terus agar salak pondoh bisa diolah menjadi berbagai jenis makanan. Tujuannya ada nilai tambah dari salak pondoh.
Dari sebuah bangunan di Dusun Trumpon, Desa Merdikoharjo, Kabupaten Sleman, proses mengekspor salak pondoh dimulai. Di tempat itulah salak hasil panen petani salak asal Kecamatan Turi dan Tempel dikemas dan diekspor ke negara-negara tujuan.
Para karyawan tidak setiap hari bekerja di situ. Mereka datang dan mengepak salak pada saat-saat tertentu, ketika ada permintaan dari eksportir.
Bisnis ekspor salak sudah berjalan sekitar tujuh tahun. Salak pondoh asal Sleman itu diminati banyak negara karena rasanya manis dan bisa tahan lama.
Buah salak segar bisa bertahan hingga satu minggu tanpa ada perlakuan khusus. Jika disimpan di tempat dingin, salak bisa bertahan hingga satu bulan.
''Kami mengekspor salak segar ke Tiongkok, Singapura, Malaysia, dan Hong Kong. Sedikitnya salak segar yang diekspor 200 ton per tahun,'' kata Iskandar dari Divisi Pemasaran Asosiasi Petani Salak Sleman Prima Sembada, Senin (23/2).
Walau mereka sudah mampu menembus pasar ekspor, volumenya terbilang masih kecil karena belum sampai 30% dari total produksi salak pondoh Sleman. Sebagian besar salak pondoh, lanjut dia, masih dipasarkan di Yogyakarta dan sekitarnya.
''Ekspor salak pondoh juga terus diperluas. Kami saat ini tengah promosi ke Jerman dan ke Dubai (Uni Emirat Arab),'' terang dia. Perluasan pasar ekspor terus dilakukan karena sejak Juli 2014 telah mengantongi sertifikat tanaman organik internasional dan fair trade.
Lantaran salak di Eropa belum begitu dikenal, pihaknya pun menyertakan petunjuk manual dalam pengemasan, seperti cara mengupas, memakan, menyimpan, dan kandungan gizi. Harga buah salak yang diekspor berkisar Rp8.000-Rp13.500 per kg, tergantung negara tujuan.
Iskandar menjelaskan salak khusus untuk ekspor sengaja dipilih salak pondoh dengan ukuran besar. Setelah dirotasi, salak pondoh tersebut dikemas dalam ukuran 500 kilogram. Olahan salak Selain salak segar, produk olahan salak juga potensial diekspor. ''Kami sedang melakukan promosi keripik salak dan kopi salak. Peminatnya dari Jerman dan Amerika Serikat,'' terang dia.
Namun, ekspor produk olahan salak itu belum bisa dilakukan segera karena pihaknya masih membereskan masalah administrasi. Dari dua produk tersebut, baru keripik salak yang sudah selesai proses administrasinya. Dalam waktu dekat ini keripik salak siap diekspor.
Hingga saat ini banyak sekali produk olahan salak yang dibuat dalam skala industri rumah tangga.
Selain keripik dan kopi salak, ada pula dodol salak, wajik salak, hingga sirup manisan salak. Namun, produk-produk tersebut masih sebatas dipasarkan di dalam negeri.
Kus Harjanti Purisada asal Turi, Sleman, salah satu pengusaha makanan olahan salak memproduksi dodol salak dan wajik salak sebagai andalannya dengan merek Alris.
Produk olahannya saat itu masih dipasarkan di toko-toko makanan sekitar Yogyakarta. ''Maklum masih gaptek (gagap teknologi), belum bisa promosi lewat internet,'' terang Kus yang memulai bisnis dodol salak sejak 2011.
Kus bercerita awalnya dia tertarik membuat olahan salak karena melihat banyak salak cacat akibat salah cara memanen sehingga dibuang begitu saja. Dari situ ia mulai mengembangkan ide berbisnis makanan olahan dari bahan buah salak.
Perjalanan awal berbisnis makanan olahan salak pondoh tidaklah mudah.
Walau makanan olahan salak pondoh sudah ada sebelum 2011, ia harus belajar sendiri membuat resep yang pas untuk dodol dan wajik produksinya.
''Saya hanya membaca komposisi di kemasan. Selebihnya saya melakukannya sendiri, termasuk cara pengemasan hingga pengurusan izin,'' terang dia.
Hingga saat ini produksi dodol dan wajiknya masing-masing baru sekitar 30 kilogram per bulan. Setiap kilogram dodol dijual Rp50 ribu, sedangkan wajik dijual Rp40 ribu.(AT/N-4)