Penggunaan Siliwangi dan Padjadjaran sebagai Nama Jalan di DIY Diapresiasi

Bayu Anggoro
03/10/2017 18:09
Penggunaan Siliwangi dan Padjadjaran sebagai Nama Jalan di DIY Diapresiasi
(ANTARA)

BUDAYAWAN Sunda, Hawe Setiawan, mengapresiasi peresmian nama Jalan Siliwangi dan Padjadjaran di Daerah Istimewa Yogyakarta. Menurutnya, hal ini merupakan sikap baru dalam melihat sejarah di masa lalu.

Hawe menjelaskan, ini merupakan perspektif baru dari kedua belah pihak, dalam hal ini masyarakat Jawa dan Sunda, dalam merawat kebinekaan. Pengalaman kolektif di masa lalu memang bukan untuk dilupakan, tapi tidak juga untuk selalu diingat-ingat.

"Jangan sampai beban masa lalu dibawa hingga sekarang," kata Hawe di Bandung, Jawa Barat, Selasa (3/10).

Terlebih, kata dia, saat ini bangsa kita dituntut untuk menyadari pentingnya merawat persatuan dan kesatuan.

"Kita diingatkan akan pentingnya merawat kerukunan Nusantara. Jadi perlu langkah kultural untuk merawat kebinekaan," ujarnya seraya menyebut beban perseteruan Jawa-Sunda di masa lalu itu lebih terlihat dari sisi tekstual, sedangkan dari sisi sosial saat ini tidak berdampak apa pun.

Hal ini, kata dia, terlihat dari banyaknya orang Jawa-Sunda yang menjalin kerja sama dalam berbagai bidang.

"Yang banyak terlihat juga perkawinan antara orang Jawa dengan orang Sunda. Artinya, memang beban masa lalu ini sudah enggak ada," ujarnya seraya menyebut perlu juga adanya penamaan jalan di Jawa Barat yang menggunakan nama-nama kerajaan di Jawa.

Lebih lanjut Hawe mengatakan, saat ini memang membutuhkan langkah kolektif untuk merawat persaudaraan Nusantara. Salah satunya dengan memberi peran dan ruang yang sama bagi suku lain dalam mengisi pembangunan. Selama ini, dia menyebut kesan Jawa sentris masih sangat terasa di Indonesia.

"Jadi yang di luar Jawa juga perlu diapresiasi, diberi ruang dan peran yang sama," katanya.

Sosiolog Universitas Padjadjaran Bandung, Budi Rajab, berharap semua pihak tidak mengingat-ingat sejarah permusuhan Jawa-Sunda. Sehingga, menurutnya, penamaan jalan seperti di Yogyakarta ini merupakan hal yang biasa.

"(Permusuhan) itu masa lalu. Jadi sebenarnya sekarang enggak perlu rekonsiliasi. Itu sudah lama sekali," katanya.

Dia menyebut, selama ini hubungan masyarakat Jawa dengan Sunda sudah sangat baik dan tidak ada masalah sedikit pun.

"Ini bukti dengan sendirinya masyarakat berekonsiliasi," katanya.

Dia pun menyebut, jika beban sejarah masa lalu masih terasa, hal itu hanya ada di tataran elite saja, sedangkan di masyarakat sudah cair sejak lama. Dia pun menyebut, selama ini sudah banyak nama jalan di Jawa Barat yang menggunakan nama-nama berbau Jawa. (BU/OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya