Lebih dari Lima Pemangku Bertahan di Pura Besakih

Arnoldus Dhae
28/9/2017 22:48
Lebih dari Lima Pemangku Bertahan di Pura Besakih
(ANTARA FOTO/Nyoman Budhiana)

MESKI otoritas terkait telah menjelaskan bahwa kondisi Gunung Agung saat ini kritis, tetapi lebih dari 5 pemangku adat malam ini memilih tetap bertahan di Pura Besakih untuk melayani umat Hindu yang mau berdoa.

Padahal, kondisi Pura Besakih saat ini sangat sepi, sementara jarak pura terbesar di Bali itu dengan Gunung Agung sangat dekat karena kurang dari 12 kilometer.

Salah seorang pemangku bernama Mangku Made Wibawa mengatakan, malam ini akan lebih dari 5 pemangku bertahan di Pura Besakih.

"Para pemangku itu memiliki kontak tersendiri secara niskala. Kami masih merasa bahwa Gunung Agung masih aman. Namun, kalau secara ilmu pengetahuan dijelaskan seperti ini, kami berharap umat menaati arahan pemerintah. Namun para pemangku tidak akan merasa takut dengan hal tersebut," ujarnya di Pura Besakih, Kamis (28/9) malam.

Mereka meyakini, hidup ini harus ikhlas dan berserah kepada Ida Sang Hyang Widi Wasa. Saat letusan pada 1963 lalu, Pura Besakih tidak mengalami kerusakan yang berarti.

"Padahal yang turun itu batu mengandung api. Namun anehnya, atap pura yang berasal dari ijuk tidak terbakar. Sementara orang yang menggunakan payung saat itu malah mati tertimpa hujan batu," ujar pria yang juga Ketua Pecalang Dukuh Sakti Bali ini.

Sementara itu Kepala Sub Bidang Mitigasi Gunung Api Wilayah Timur Pusat Vulkanologi dan Mitigasi Bencana Geologi (PVMBG), Devy Kamil, menjelaskan, saat ini telah terjadi perubahan cukup signifikan pada Gunung Agung.

"Dari satelit kita sudah melihat perubahan energi thermal, luas area panas. Jadi, dari situ sudah kita lihat ada perubahan signifikan sejak September 2017 dan sejalan dengan seismik yang kita alami," papar Devy.

Saat mendeteksi kegempaan, Devy mengaku PVMBG menunggu hingga dua bulan lamanya. Selama dua bulan itu dilakukan penelitian apakah kegempaan itu bersumber dari pergerakan magma atau faktor lainnya.

"Setelah kita tunggu dua bulan akhirnya September pertengahan ini bukan lagi sinyal biasa, tetapi ada tingkat magma serius. Lalu dari satelit ada hot spot di tengah kawah gunung agung," urainya.

Pengamatan lantas dilanjutkan menggunakan citra satelit khusus yang dapat mengambil citra khusus baik foto udara maupun thermal.

"Setelah melihat kegempaan naik terus, maka kita naikan statusnya hingga 22 September 2017 pukul 20.30 Wita menjadi Awas," terang Devy.

Dari amatan citra satelit khusus itu juga terpantau jika di sisi timur laut ada citra panas. Bahkan, kata dia, di tengah kawah sudah muncul retakan baru.

"Ukurannya diperkirakan 60-80 meter. Untuk hot spot-nya sekitar 120 meter persegi. Ini kan indikasi magma di bawah Gunung Agung ini makin kuat," tutup dia. (OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya