Berebut Batu Giok Martadah Andalan Tanah Laut

Denny S/N-4
10/3/2015 00:00
Berebut Batu Giok Martadah Andalan Tanah Laut
(ANTARA/RAHMAD)
DEMAM batu akik yang kini melanda masyarakat Indonesia memicu banyak kehebohan.

Apabila sebelumnya muncul kehebohan dengan ditemukannya batu giok dari Tanah Rencong dengan berat 20 ton, kini di Kabupaten Tanah Laut, Kabupaten Kalimantan Selatan juga ditemukan batu Giok.

Dua alat eskavator dikerahkan untuk membongkar dan memecah bongkahan batu besar yang diduga batu giok di Desa Martadah Baru, sebuah desa terpencil di Kecamatan Tambang Ulang, Kabupaten Tanah Laut.

Desa tersebut mendadak ramai dikunjungi warga setelah tersebar informasi ditemukan batu berwarna kehijauan.

Pengambilan bongkahan batu giok ini dipicu pada persoalan bisnis dan demam batu mulia yang sedang disukai masyarakat.

Wakil Bupati Tanah Laut, Sukamta pun tertarik ingin meninjau langsung penemuan batu giok tersebut.

Ia pun langsung menurunkan tim dari dinas terkait untuk meneliti apakah batu tersebut batu giok atau bukan.

"Sekaligus kami ingin memastikan lokasi penemuannya berada di dalam kawasan hutan atau bukan," kata Sukamta.

Meskipun belum ada kepastian apakah batu itu batu giok, warga sudah memberi nama batu giok Martadah.

Masyarakat pun yakin bahwa batu giok Martadah merupakan batu giok asli bernilai ekonomis.

Selain batu giok Martadah, istilah lain yang digunakan adalah Green Borneo untuk menyaingi batu akik Red Borneo yang kini banyak diburu para kolektor.

"Ratusan orang mulai mendatangi desa kami untuk mengambil batu giok itu," ungkap Kepala Desa Martadah Baru, Jamhusen.

Menurutnya sejauh ini diperkirakan sudah dua ton batu giok yang diambil warga.

Bahkan pecahan batuan dibagikan cuma-cuma kepada warga yang datang ke lokasi tersebut.

Jamhusen berharap dengan adanya temuan batu giok tersebut bisa membantu menaikkan taraf hidup masyarakat yang ia pimpin.

Apalagi sejak kedatangan warga dari luar desa, wilayah itu menjadi ramai. Warga pun memanfaatkan menjual makanan dan minuman untuk menjamu para pendatang.

Ada juga para perajin batu yang langsung mengolah atau mengasah batu, dan kemudian menjualnya kepada warga.

Batu giok Martadah ini pertama kali ditemukan warga di aliran Sungai Tarini, sekitar kawasan hutan Desa Martadah Baru, Kecamatan Tambang Ulang.

Warga menduga bebatuan giok yang tersebar di sepanjang aliran sungai dengan deposit cukup besar.

Desa Martadah Baru merupakan desa terpencil yang jaraknya 30 km dari Kota Pelaihari, ibukota Kabupaten Tanah Laut.

Untuk menjangkau lokasi itu harus melewati jalan tanah yang cukup berliku.

Namun rintangan jalan tidak menjadi soal bagi para kolektor demi mendapatkan Green orneo.



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Admin
Berita Lainnya