Jalan Tol Membelah Sumatra, Upaya Mengatasi Ketertinggalan

Yose Hendra
26/9/2017 20:18
Jalan Tol Membelah Sumatra, Upaya Mengatasi Ketertinggalan
(ANTARA FOTO/Septianda Perdana)

KONEKTIVITAS Sumatra semakin dekat kala pengerjaan jalan bebas hambatan (tol) Sumatra terus dikebut. Seturut itu, produktivitas daerah pun kian terangsang.

Hingga saat ini, Kementerian Pekerjaan Umum dan Perumahan Rakyat (PUPR) melansir jalan tol Trans Sumatra sudah terbangun 30% dari 2.704 kilometer panjang secara keseluruhan.

Sekjen Kementerian PUPR, Anita Firmanti Eko Susetyowati, mengatakan, pengerjaan yang selesai per segmen, misalnya dari Bakauheni-Terbanggi Besar sepanjang 140 km. Ruas Medan-Binjai 17 km, Palembang-Indralaya 21,93 km.

"Secara total sudah selesai 600 km atau 30% dari 2.704 km," ujar Anita dalam talkshow 'Saatnya Mengambil Manfaat Pembangunan Tol Sumatra' di Auditorium Kampus Universitas Andalas (Unand), Padang, Sumatra Barat, Selasa (26/9).

Dalam waktu dekat, sebutnya, bakal beroperasi ruas Medan-Kuala Namu, dan juga Palembang-Indralaya. Dia mengakui pembebasan lahan menjadi kendala dalam percepatan pembangunan Jalan Tol Trans Sumatra.

Tol Trans Sumatra yang dimaksud ialah ruas tol sepanjang 2.704 melipir di sisi timur Pulau Andalas, kemudian 700 km jalan feeder.

Sementara untuk kota besar di sisi barat seperti Padang, juga dihubungkan dengan kota terdekat di sisi timur. Artinya, Padang bakal terhubung dari Bukittinggi, kemudian tersambung ke Pekanbaru. Panjangnya 240 km.

Menurut Anita, proyek Tol Padang-Bukittinggi-Pekanbaru, bakal dimulai dibangun pada 2018. Biayanya ditaksir Rp34 triliun.

"Tol melewati Sumbar masih Detail Engineering Design (DED). Masih mempersiapkan desain dan Amdal (Analisis mengenai Dampak Lingkungan)," bilang Anita.

Asa jalan bebas hambatan (tol) segera membelah Pulau Sumatra tentu saja menjadi pengharapan. Bukan saja mengatasi ketertinggalan dari Pulau Jawa, tapi terpenting konektivitas via tol merangsang tumbuhnya titik produktivitas baru, sekaligus mengalirkan distribusi barang dengan lancar.

Seiring itu juga, efesiensi terutama di sisi ekonomi bakal terjadi. PT Semen Padang misalnya, sebagai perusahaan yang memproduksi semen menilai efesiensi akan meningkat jika infrastruktur jalan semakin membaik.

Direktur Komersil PT Semen Padang, Pudjo Suseno, mengatakan, jika infrastruktur dari Aceh hingga Lampung lancar dan bagus, tentu harga semen produksi Semen Padang bisa lebih murah di wilayah Sumatra.

"Tahun kemarin, kita melakukan efesiensi, tapi tidak transportasi saja, sekitar Rp400 miliar. Kalau jalan tol, tentu lebih bagus," ujarnya dalam acara yang bekerja sama dengan Harian Umum Media Indonesia itu.

Pudjo optimistis, dengan adanya tol, bisa efesiensi distribusi barang sekitar 40%. Karena pengiriman dengan truk lebih enteng.

Anita menambahkan, terpenting dari keberadaan jalan tol adalah bagaimana pemanfaatan jalan tol sebagai pusat prosuktivitas daerah. Untuk itu, perlu sinergisitas. Artinya, jangan hanya mengandalkan pemerintah pusat.

"Kita harus pikirkan distribusi barang. Tidak semua bisa kita lakukan lewat laut. Padang sisi barat Sumatra, hubungan pelabuhan mungkin dengan Jakarta, tapi susah. Kalau darat, lewat jalan tol misalnya, dari Pekanbaru kita bisa angkut barang ke Padang lebih cepat," tandasnya.

Jalan Tol Sumatra merupakan bagian proyek strategis nasional di bawah kepemimpinan Presiden Joko Widodo (Jokowi). Era Jokowi 2015-201, ditargetkan penambahan jalan tol sepanjang 1.000 km. Hingga tahun ini, sebut Anita, sudah selesai 583 km, atau lebih dari separuhnya. Maka itu, akhir 2019, dia memperkirakan akan mencapai 1.895 km.

Rektor Unand, Tafdil Husni, mengungkapkan bahwa pihaknya sangat mengapresiasi dengan digelarnya talkshow itu, dan berharap kegiatan itu menambah wawasan bagi mahasiswa yang mengikuti.

"Saya apresiasi kepada Kementerian PUPR dengan memilih Kampus Unand sebagai kampus kedua yang dikunjungi dalam program talkshow yang bermanfaat ini," katanya.

Menurut dia, infrastruktur ialah fisik dan nonfisik. Fisik perlu SDM. Dan Unand, tegas Tafdil, menyiapkan SDM untuk itu.

Deputi Direktur Pemberitaan Media Indonesia, Gaudensius Suhardi, yang hadir dalam acara tersebut, mengatakan, pembangunan jalan tol jelas pelaksanaan dari Nawacita yakni meningkatkan produktivitas dan daya saing.

Menurutnya, pembangunan era Jokowi menjawab asumsi selama ini yang Jawasentris, dan menegaskan bahwa pembangunan infrastruktur indonesiasentris.

"Membangun Indonesia dari pinggir, karena itu peran PUPR sangat besar," ujarnya.

Infrastruktur, kata Gaudensius, meskinya menjadi cerminan bangsa.

"Teladan yang bagus bukan kata-kata, tapi bagaimana prilaku kita mencintai infrastruktur. Hal ini tentu bersinggungan dengan semangat membangun infrastruktur era Presiden Jokowi. Pembangunan infrastruktur, baik tol maupun ketahanan pangan dan air, bukan hanya konektivitas mengatasi disparitas, melainkan juga meningkatkan kualitas hidup sekaligus mengatasi ketertinggalan bangsa ini," pungkasnya. (OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya