Tolak Angkutan Online, Empat Trayek Angkot di Cimahi Aksi Mogok

Depi Gunawan
25/9/2017 18:43
Tolak Angkutan Online, Empat Trayek Angkot di Cimahi Aksi Mogok
(MI/Dede Susianti)

ANGKUTAN kota di empat trayek di Kota Cimahi, Jawa Barat, melakukan aksi mogok, Senin (25/9). Aksi yang diikuti sekitar 400 unit pengusaha angkot ini dilakukan karena hingga saat ini Dinas Perhubungan setempat belum bersikap tegas terhadap angkutan berbasis aplikasi internet (online/daring).

Aksi berlangsung damai, meski demikian, peserta aksi sempat melakukan sweeping (penyisiran) angkot yang masih membawa penumpang dan memaksanya menurunkan penumpang.

Enam unit truk dari Polres Kota Cimahi, Kodim 0609, dan Polisi Pamong Praja Kota Cimahi diturunkan untuk mengangkut masyarakat yang terlantar karena aksi unjuk rasa sopir angkutan konvensional itu.

Ketua Organisasi Angkutan Darat (Organda) Kota Cimahi, Dida Suprinda, menyatakan, pihaknya menuntut realisasi usulan yang telah disampaikan kepada Dishub. Salah satunya pembenahan jalur bagi angkutan daring dan perpanjangan jalur trayek angkutan konvensional.

"Jika dilihat, trayek angkutan ini tidak visibel, yaitu hanya 4 kilometer dengan jumlah angkutan sebanyak 115 unit, apakah dengan jumlah ini memungkinkan? Dari pertemuan ini, kami menginginkan jawaban tertulis dari Dishub, diresume, dan ditandatangani, serta disepakati semua," ujarnya.

Selain usulan perpanjangan jalur trayek, lanjut dia, pihaknya juga menginginkan angkutan daring tidak menyerobot jalur angkutan umum.

"Kami menuntut kesanggupan secara tertulis dari pihak Dishub Cimahi untuk bagaimana menyelesaikan masalah ini," tuturnya.

Menanggapi itu, Kepala Dishub Kota Cimahi, Ison Suhud, menyatakan bahwa kewenangan trayek dan izin operasional angkutan merupakan ranah pemerintah provinsi. Meski demikian, pihaknya akan menyampaikan keluhan serta tuntutan pengusaha angkutan konvensional ini kepada pemerintah provinsi.

"Kami akan meminta Kemenhub untuk segera membuat aturan terkait permasalahan transportasi masyarakat ini, agar ada solusi yang bisa meredam gejolak di lapangan," katanya.

Terkait keinginan sopir untuk memperpanjang trayek angkutan umum, Ison mengaku, hal itu bisa saja diterapkan, sebab dengan perpanjangan jalur trayek bisa menyelamatkan para sopir angkutan umum.

"Harapan kami, dengan kajian perpanjangan jalur trayek, keberlangsungan angkatan konvensional bisa terselamatkan. Sebab, bagaimana pun juga masyarakat tetap butuh angkutan biasa," jelasnya. (OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya