Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
HAMPIR mendekati setahun sejak terjadinya musibah banjir bandang yang melanda Garut pada 26 September 2016 lalu, rumah bantuan untuk para korban banjir bandang yang berlokasi di Kampung Papanggungan Desa Lengkongjaya, Kecamatan Karangpawitan, Kabupaten Garut, selesai dibangun dan diserahterimakan kepada Pemerintah Kabupaten Garut, mewakili para korban.
Pembangunan Rumah Rakyat Ramah Lingkungan (Rural), yang dibangun Dompet Dhuafa ini menggunakan teknologi Rumah Instan Sehat Sederhana (Risha) dari Indocement yang dipadukan dengan teknologi pengolahan limbah melalui biodigester, yang kemudian disalurkan kembali ke setiap rumah dalam bentuk energi terbarukan.
Rural yang dibangun merupakan rumah tipe 36. Sebanyak 30 unit Rural yang pembangunannya dikerjakan Dompet Dhuafa, 11 unit di antaranya merupakan sumbangan dari warganet yang menyumbang melalui platform kitabisa.com yang digagas Wali Kota Bandung Ridwan Kamil.
Emil --sapaan sang Wali Kota-- yang memiliki jumlah pengikut mencapai 11 juta orang di media sosial, memanfaatkan media sosial miliknya untuk menggalang donasi melalui laman crowfunding kitabisa.com.
Lewat inisiatifnya itu, terkumpul donasi sebesar Rp1.070.301.490 hasil sumbangan dari 3.235 warganet. Penyaluran donasi dilakukan melalui Dompet Dhuafa yang dinilai telah berpengalaman dalam menyalurkan bantuan tanggap bencana.
Menurut Yudha Abadi, selaku Direktur Program Dompet Dhuafa Filantropi, sumbangan dari warganet yang terkumpul melalui kitabisa.com didistribusikan dengan perincian sebesar Rp118.127.636 untuk membangun fasilitas umum korban banjir dan longsor Sumedang, Rp882.363.854 untuk pembangunan Rural, dan sisanya sebanyak Rp69.810.000 digunakan dalam pendampingan pemberdayaan ekonomi korban banjir Garut.
Peresmian dan penyerahan secara simbolis dilaksanakan langsung oleh Yudha Abadi, selaku Direktur Program Dompet Dhuafa Filantropi, mewakili Dompet Dhuafa, dan juga Ridwan Kamil, selaku inisiator pengumpulan donasi, kepada Wakil Bupati Garut Helmy Budiman.
Prosesi peresmian disimbolkan dalam bentuk penyerahan atap rumah berbentuk 'Julang Ngapak' yang merupakan nama dan model rumah yang dikenal dalam adat sunda. Julang Ngapak sendiri mempunyai arti burung yang merentangkan sayap. Simbol atap rumah berbentuk Julang Ngapak dimaksudkan sebagai sebagai refleksi penghormatan dan pelestarian budaya sunda.
Salah seorang korban banjir bandang Garut yang menerima bantuan rumah, Rahmat, 43, mengaku bersyukur dengan sumbangan rumah ini. Menurutnya, banyak korban banjir bandang seperti dirinya yang ingin segera menempati rumah bantuan karena suasana di kawasan penampungan sementara di Islamic Centre Garut sudah tidak kondusif, baik untuk tinggal maupun usaha.
"Alhamdulillah, bersyukur dengan adanya bantuan rumah ini, karena kami bisa secepatnya pindah dari lokasi penampungan sementara. Di sini kami bisa tinggal dengan tenang dan menjalankan usaha," ungkap Rahmat.
Ia menambahkan, usai peristiwa banjir bandang yang melanda Garut pada September 2016 lalu, banyak pihak yang menjanjikan bantuan rumah yang umumnya disampaikan pejabat pemerintah dan pengurus partai politik. Namun, kata dia, hanya rumah yang dibangun Dompet Dhuafa-lah yang benar terwujud dan diserahkan kepada para korban.
Dalam catatan, selain Emil, sejumlah pejabat juga turut menjanjikan pembangunan rumah untuk disumbangkan kepada para korban. Salah satunya ialah Bupati Purwakarta Dedi Mulyadi yang melalui laman Facebook-nya, sempat menjanjikan bantuan pembangunan kembali rumah untuk perkampungan warga dengan desain khas sunda.
Pembangunan rumah yang sudah direncanakan ini, menurut Dedi, atas keinginan para relawan untuk membantu sesama warga yang sedang dilanda musibah. Total biaya bantuan yang dialokasikan oleh Dedi Mulyadi untuk korban banjir Garut sebesar Rp2 miliar.
Sebelumnya, saat berkunjung ke lokasi musibah, Dedi telah menyumbang sebanyak 10.000 paket sembako senilai Rp1,5 miliar, 1.000 paket alat tulis dan peralatan sekolah senilai Rp300 juta, dan alat kebersihan juga senilai Rp300 juta, yang disebutnya sebagai bantuan dan kepedulian, para pelajar, warga, dan para pegawai di Purwakarta.
Namun, berdasarkan pantauan di lapangan, sudah setahun sejak terjadinya musibah banjir Garut, rumah yang rencananya akan dibangun Dedi Mulyadi untuk para korban, belum terwujud. Padatnya aktivitas dan kesibukan Dedi Mulyadi yang berencana maju dalam kontestasi Pilgub Jabar 2018, nampaknya membuat rencana pembangunan rumah untuk korban banjir bandang Garut sedikit terlupakan. (RO/OL-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved