Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
FENOMENA equinox akan terjadi pada Sabtu (23/9) besok. Peristiwa itu terjadi saat posisi matahari berada tepat di atas garis khatulistiwa. Meski pasti akan melintasi daerah di garis khatulistiwa, pengaruh equinox hanya akan tergantung oleh cuaca di daerah itu sendiri.
Dr Moedji Raharto, anggota Kelompok Keahlian Astronomi, sekaligus Staf Pengajar Program Studi Astronomi Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) Institut Teknologi Bandung, menerangkan, fenomena equinox sebenarnya tidak mempengaruhi musim secara signifikan karena pengaruh posisi dan sorotan matahari.
Namun, banyak negara luar merespons fenomena tersebut, tidak seperti di Indonesia. Menurut dia, energi dan sorotan matahari pada saat equinox, baik yang terjadi pada 21 Maret lalu maupun besok, jaraknya masih tetap sama. Namun, hal itu dipengaruhi juga oleh respons biosfer terhadap energi matahari yang disorotkan ke bumi.
"Puncak equinox kira-kira terjadi antara setengah sampai 1 jam ketika mendekati waktu zuhur, tanda peralihan posisi matahari menyeberang dari belahan langit utara ke belahan langit selatan. Pada 22 Desember, matahari berada di selatan sehingga wilayah selatan bumi akan akan sangat panas, dan sebaliknya di utara akan dingin sekali," ucap Moedji, yang juga Staf Peneliti di Observatorium Bosscha ITB ini.
Arman Abdulrahman, peneliti Astronomi di Obsertovarium Imah Noong, mengungkapkan, salah satu daerah yang bakal mengalami gejala akibat equinox ialah Pontianak, Kalimantan Barat. Fenomena alam yang terjadi di daerah itu yakni masyarakatnya tidak akan bisa melihat bayangan mereka sendiri sebelum jam 12 siang atau menjelang zuhur.
"Zuhur itu pada saat tergelincirnya matahari dari atas, jadi sekitar 2-3 menit sebelum zuhur, kita akan melihat daerah yang terlewati garis khatulistiwa itu tidak nampak bayangan. Walaupun ada, bayangannya akan sangat kecil. Misalkan ketika kita berada di daerah khatulistiwa seperti Pontianak, bayangan kita itu tidak akan ada," ungkapnya.
Dengan adanya fenomena ini, dia mengaku, masyarakat tidak perlu takut dengan membatasi kegiatan di luar rumah meski suhu udara lebih panas daripada biasanya karena akan berbeda dengan jika terjadi di luar negeri. Sebab, di Indonesia jarang sekali ada kawasan seperti gurun karena posisinya dekat dengan equator yang udaranya relatif lembap.
"Di Indonesia itu musimnya bergantung pada tingkat panas dari dua samudra, Hindia dan Pasifik. Efeknya akan ke daerah subtropis seperti Australia Amerika bagian selatan yang memiliki puncak musim gugur, di mana hewan biasanya harus mengumpulkan makanan lebih banyak untuk persiapan musim dingin," tuturnya.
Arman menambahkan, fenomena equinox juga tidak terlalu dikhawatirkan akan menimbulkan penyakit. Namun, memang saat fenomena itu terjadi, sinar ultraviolet pada siang hari akan sangat tinggi sehingga membahayakan kulit dan mata. Karena penyaringan atmosfer bumi terhadap posisi matahari berpengaruh terhadap penyaringan sinar ultraviolet yang membahayakan kulit dan mata, dan bisa menyebabkan katarak dan kanker kulit. Namun demikian, itu adalah hal normal dampak sinar ultraviolet terhadap manusia.
"Puncak equinox memang terjadi di saat bulan-bulan terakhir menuju musim kemarau, makanya suhu udara akan terasa lebih panas," bebernya.
Kepala Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) Kelas I Bandung, Tony Agus Wijaya, menjelaskan, equinox merupakan fenomena biasa yang terjadi setahun dua kali di mana posisi matahari berada tepat di atas garis khatulistiwa. Pada saat fenomena ini terjadi, durasi siang dan malam di seluruh bagian bumi relatif hampir sama.
"Setiap tahun, equinox ini terjadi antara kisaran 20-21 Maret dan 22-23 September. Salah satu dampak yang kerap muncul akibat fenomena equinox adalah terjadinya peningkatan suhu udara," ungkap Tony.
Hal ini ditandai dengan hasil monitoring suhu udara maksimum berkisar antara 34,0 sampai dengan 37,5 derajat Celsius. Menurut dia, suhu udara ini dikatakan masih dalam kisaran normal. Berdasarkan pantauan alat pengukur suhu udara di Stasiun Geofisika Bandung, di September ini, suhu udara paling tinggi mencapai 33,4 derajat Celsius.
Tony mengatakan, cuaca yang panas dan terik merupakan fenomena alamiah yang biasa terjadi. Seiring dengan adanya penambahan tingkat kelembapan pada lapisan atmosfer yang berkontribusi pada pembentukan awan-awan hujan, sehingga diperkirakan suhu udara di wilayah Bandung dan sekitarnya pada 23 September berkisar antara 18,6 sampai 30,1 derajat Celsius dengan wilayah yang relatif lebih panas cenderung terjadi di pusat kota.
"Suhu maksimum di Bandung saat siang hari sekitar 31 derajat Celcius. Angka itu masih normal, masih sama dengan rata-rata suhu udara di September. Menanggapi fenomena ini, masyarakat diimbau untuk tetap beraktivitas seperti biasa, tapi harus juga bisa menjaga daya tahan tubuh dengan asupan makanan dan minuman yang sehat," tambahnya. (OL-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved