Muhammadiyah: Jangan Hapus G30S/PKI Pernah Terjadi

Agus Utantoro
21/9/2017 20:08
Muhammadiyah: Jangan Hapus G30S/PKI Pernah Terjadi
(MI/Bary Fathahilah)

KETUA Umum PP Muhammadiyah Haedar Nashir menegaskan, revisi terhadap penulisan buku ilmiah merupakan hal yang wajar dilakukan. Hal yang sama juga bisa terjadi pada film sejarah bertajuk Pengkhianatan G30S/PKI.

Namun, kata Haedar, di sela-sela peresmian pembangunan masjid Kompleks RS PKU Muhammadiyah Gamping, Daerah Istimewa Yogyakarta, Kamis (21/9), dalam revisi itu tidak boleh menghilangkan objektivitas fakta sejarah.

"Silakan saja revisi, tetapi objektivitas sejarah bahwa PKI pernah mengudeta dalam banyak peristiwa dan bahwa G30S/PKI itu pernah terjadi, tidak boleh dihapus," ujarnya.

Menurut dia, keinginan Panglima TNI untuk memutar kembali film Pengkhianatan G30S/PKI yang dibuat pada zaman Orde Baru itu tidak perlu dipermasalahkan.

"Jadi tidak harus menjadi ribut gara-gara film ini," ujarnya.

Ia menyebutkan, film merupakan salah satu instrumen sejarah yang dapat menjadi kanalan, sebagaimana buku sejarah, ada fisik dan sebagainya.

Haedar menunjuk yang disebut fisik di antaranya ialah patung-patung tokoh yang didirikan agar masyarakat mengingat perjuangan yang pernah dilakukan. Dengan demikian, tambahnya, masyarakat mau menonton film tersebut dipersilakan, dan tidak mau menonton pun tidak apa-apa.

Lebih lanjut, ia mengemukakan, ideologi di negara mana pun selalu mengalami daur ulang.

"Daur ulang ini biasa muncul dan menjelma menjadi movement-movement kecil yang bisa menjadi terorganisasi, tetapi bisa saja tidak,"  katanya.

Hal yang sama, menurut Haerdar, juga terjadi pada komunisme di Indonesia. Ia melihat komunisme sebagai sebuah gerakan di Indonesia sudah muncul kembali.

"Tanda-tandanya sudah banyak terlihat," katanya.

Dikatakan, salah satu tanda kemunculan gerakan itu ialah, baik keluarga maupun yang terlibat dalam jaringan itu (komunisme), banyak yang muncul dan di antaranya mengajukan tuntutan hak, menuntut penghapusan jejak sejarah, dan sebagainya.

"Mereka juga menyatakan tidak bersalah, padahal ada banyak salah," tegas Haedar.

Ia menegaskan, kesemuanya itu merupakan tanda lahirnya gerakan komunisme. Meski demikian, Haedar memandang pergerakan itu masih terbilang kecil. Karena itum ia berharap Bangsa Indonesia sebagai bangsa yang memiliki ideologi Pancasila dapat memperkuat penghayatannya.

Agama dan Pancasila, ujarnya, menjadi kekuatan paling kokoh untuk membentengi. Yang terpenting, tegasnya lagi, objektivitas sejarah harus tetap dipertahankan.

"PKI pernah melakukan pemberontakan dan G30S/PKI itu nyata terjadi," ujarnya. (OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya