Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
MESKI Badan Meteorologi, Klimatologi, dan Geofisika (BMKG) memprediksi musim penghujan akan dimulai Oktober mendatang, Pemerintah Provinsi Sumatra Selatan terus meningkatkan patroli udara mendeteksi titip api (hot spot) kebakaran hutan dan lahan di wilayahnya.
Staf Ahli Gubernur Sumsel Bidang Penanggulangan Bencana, Yulizar Dinoto, mengatakan, kondisi sekarang pihaknya tetap mempertahankan agar titik api tidak bertambah dan menimbuhkan asap.
"Sekarang kondusif, di mana BMKG memperkirakan pada Oktober ada perubahan dari panas ke hujan," kata dia.
Menurut Yulizar, pihaknya tidak ingin lalai sehingga terjadi kebakaran hutan dan lahan di Sumsel yang cukup besar. Alhasil, pihaknya mengambil langkah tegas, mulai dari satgas darat dan udara yang tetap bekerja maksimal, posko maksimal, penambahan alat-alat, serta peningkatan patroli.
"Kewaspadaan juga harus maksimal, jangan hari-hari terakhir menjelang musim hujan tapi ada kebakaran. Untuk patroli udara akan kita tingkatkan hingga dua kali lipat. Yang mana selama ini pagi dan siang, nantinya sore juga akan dilakukan. Jika ada titik api, maka akan dipadamkan melalui water boombing," jelasnya di Palembang, Kamis (21/9).
Sementara Satuan Komando Resor Militer 044/Garuda Dempo (Korem 044/Gapo) merancang tim operasi malam untuk menghalau kebakaran hutan dan lahan di malam hari.
Kelapa Staf Operasi Korem 044/Gapo yang sekaligus Komandan Satuan Tugas Suboperasi Darat, Mayor TNI Andik Siswanto, menyatakan, konsep ini muncul lantaran mendapati kenyataan di lapangan bahwa oknum warga pembakar lahan, dengan sengaja membakar lahannya pada malam hari.
Selain itu, tim pemadaman karhutla kerap kesulitan menjangkau titik api melalui operasi darat karena beratnya medan.
"Regu Mobile Night Rescue dirancang khusus menggunakan kendaraan fin komodo, sehingga tim dapat bergerak cepat mendatangi titik api, khususnya titik-titik yang sulit dijangkau dengan berjalan kaki dan bersepeda motor," ungkap Andik.
Ia menjelaskan, satu Regu Mobile Night Rescue ini dirancang beranggotakan 10 orang. Anggota tim akan menggunakan baju dan sepatu tahan api, masker pelindung, tabung oksigen, dan tabung berisi foam nusantara yang berfungsi untuk mematikan api secara kimia.
Adapun untuk alat transportasinya, regu akan menggunakan kendaraan fin komodo jenis damkar yang sudah diproduksi salah satu perusahaan di Bandung.
"Kami sudah cek harga per unit fin komodo damkar ini berkisar Rp300 juta, sehingga jika ditotal-total untuk membangun regu ini dibutuhkan kurang lebih Rp447 juta karena mencakup juga kamera thermal-nya," ungkapnya.
Terkait konsep membangun tim pemadam api khusus malam hari ini, Korem Gapo telah mengusulkannya ke Badan Nasional Penanggulangan Bencana (BNPB) serta Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK). Jika proyek ini disetujui, regu khusus ini dapat mulai disiagakan untuk penanganan karhutla pada 2018, yakni saat Palembang menjadi tuan rumah Asian Games.
"Sejak kejadian kebakaran hebat 2015, TNI terus memutar otak menemukan metode terbaik untuk penanganan karhutla. Sejauh ini, kami melihat persoalan terjadi di malam hari karena minimnya aset. Selain itu helikopter water bombing juga dilarang operasi malam demi keselamatan," bebernya.
TNI menjadi bagian dari Satgas Karhutla sejak 2015. Beberapa inovasi yang telah dilakukan TNI bekerja sama dengan para peneliti yakni penaburan cairan Bios 44 dan cairan foam nusantara.
Diberitakan, karhutla kembali terjadi di Sumsel dipicu oleh puncak musim kemarau pada 11-18 September 2017 di Ogan Ilir dan Muaraenim. Kali ini, kebakaran tidak hanya di lahan gambut tapi telah merembet ke tanah mineral di Muara Belida, Muaraenim, yang diperkirakan telah menhanguskan lahan seluas 150 hektare. (OL-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved