Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
TIGA narapidana kasus terorisme yang berada Lembaga Pemasyarakatan (Lapas) Wirogunan Yogyakarta hingga sekarang masih tidak mau mengakui Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) dan ideologi Pancasila walau sudah beberapa kali disodorkan surat pernyataan.
Ketiga napi tersebut ialah Chatimul Chaosan Bin Muhammad Toyib alias Beni, 38, Sali Bin Wasiyo, 59, dan Fahrudin Bin Wa Ali, 38.
Kepala Lapas Wirogunan Yogyakarta, Suherman, menyatakan, ketiga napi tersebut belum pernah mendapat pengampunan karena mereka tidak mau mengakui NKRI serta Pancasila. Selama napi berikrar mengakui NKRI dan ideologi Pancasila, napi tersebut dipertimbangkan mendapatkan remisi. Mereka tidak mendapatkan remisi karena terorisme termasuk kejahatan luar biasa.
"Baru Beni yang memenuhi syarat (mendapat remisi). Namun, ketika kita sodorkan pernyataan NKRI dan Pancasila, dia belum mau menandatangani. Artinya, kita tidak bisa mengusulkan (untuk memperoleh remisi)," kata Suherman di sela-sela kunjungan dari Divisi Humas Mabes Polri dan Polda DIY ke Lapas Wirogunan, Selasa (19/9).
Ia mengatakan, para napi teroris tersebut ditempatkan di sel khusus agar mudah dipantau, tetapi tidak diisolasi. Mereka terus dipantau jika berkumpul dengan napi-napi lain.
Di Lapas Wirogunan, lanjut Suherman, ada 446 penghuni, dengan 123 penghuni perempuan di blok khusus.
Kepala Sub Direktorat IV Keamanan Direktorat Intelijen Keamanan Polda DIY, AKBP Sigit Hariyadi, menjelaskan, Polda DIY rutin melakukan kegiatan deradikalisasi. Salah satu keguatan deradikalisasi yang dilakukan adalah menyerahkan Alquran kepada napi teroris agar mereka sadar telah menyimpang dari ajaran kitab suci agama Islam tersebut.
"Harapannya, mereka segera kembali ke paham yang baik, kepada hal-hal yang tidak menyalahi aturan dari negara ini," pungkas Sigit.
Sebelumnya, Buya Syafii Maarif mengatakan, persoalan terorisme, termasuk kelompok radikal Islamic State (IS) yang berbasis di Irak dan Suriah, tidak sederhana.
"Mereka yang tersesat jalan (menganut paham IS) arus disadarkan," kata Buya, Senin (18/9) kemarin.
Buya pun dengan tegas berpendapat, yang terlibat radikal dan mau merusak harus dihukum. Masyarakat pun diminta waspada aksi-aksi teroris.
"Seorang teroris pasti radikal," kata mantan Ketua PP Muhammadiyah tersebut, Senin (18/9).
Namun, yang radikal belum tentu ia seorang teroris. Terkait orang-orang yang bergabung ke IS, mereka pergi ke Irak dan Suriah memiliki motif macam-macam. Ada yang ingin memeperbaiki nasib setelah tertarik janji-janji palsu. Namun, setelah di sana, mereka kecewa dan memaki-maki IS.
"Mereka (yang bergabung ke ISIS) tidak mengerti Islam. Mereka menganggap Arab sama dengan Islam," kata dia.
Padahal, lanjut Buya, IS merupakan rongsokan dari peradaban Arab yang sudah jatuh, sedang kalah. Hal tersebut terjadi akibat penguasa Arab yang menindas rakyatnya sendiri. Di dalam negeri, mereka yang tertarik IS karena lapangan kerja terbatas dan melihat adanya ketimpangan ekonomi. (OL-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved