Festival Kota Tua Ampenan Kembalikan Kejayaan Masa Lalu

Yusuf Riaman
25/8/2017 20:18
Festival Kota Tua Ampenan Kembalikan Kejayaan Masa Lalu
(ANTARA FOTO/Ahmad Subaidi)

KOTA Toea Ampenan, yang terletak di Pulau Lombok, Nusa Tenggara Barat, terus didorong menjadi salah satu destinasi yang menarik bagi wisatawan yang bertandang ke daerah ini. Salah satunya melalui Festival Kota Toea Ampenan yang berlangsung selama tiga hari mulai hari ini hingga Minggu (27/8).

"Kegiatan ini merupakan rangkaian dari Bulan Pesona Lombok Sumbawa," kata Sekretaris Dinas Pariwisata NTB, Endah Setyorini, di sela-sela acara pembukaan Festival Kota Toea Ampenan, pada Jumat (25/8) sore, ditandai dengan penabuhan Gendang Beleq oleh Ketua DPRD Kota Mataram, H Didi Sumardi, bersama Hj Syamsiah, istri Wakil Gubernur NTB H Moh Amin.

Event tersebut dibuat menjadi menarik dengan adanya pawai kendaraan tua melibatkan mobil antik, sepeda motor antik, sepeda onthel yang melakukan pawai bergerak dari halaman Gedung Islamic Center Kota Mataram menuju Kota Tua Ampenan.

Para pengunjung Kota Tua Ampenan benar-benar diajak untuk mengenang kembali masa keemasan Kota Tua Ampenan dengan nuansa tempo dulu, antara lain adanya lomba lagu-lagu jadul, dan peragaan busana jadul.

Menurut Didi, even ini menjadi kesempatan strategis untuk lebih mengenalkan potensi Kota Tua Ampenan kepada wisatawan.

"Kota Tua Ampenan harusnya mendapat perhatian khusus, karena memegang peran penting dalam mewujudkan Kota Mataram sebagai kota pusaka," katanya.

Hingga saat ini, di Kota Tua Ampenan masih terdapat banyak bangunan dengan mempertahankan keaslian bangunan ala tempo dulu, letaknya sangat stategis karena berdampingan langsung dengan Kota Mataram.

Menengok sedikit ke belakang, Ampenan dulu merupakan pusat kota di Pulau Lombok bahkan merupakan pusat perdagangan terbesar di NTB. Di sebelah barat berbatasan dengan Selat Lombok (laut yang menghubungkan Pulau Lombok dengan Pulau Bali).

Di Ampenan terdapat banyak kampung yang merupakan perwujudan dari berbagai suku bangsa di Indonesia, di antaranya Kampung Tionghoa, Kampung Bugis, Kampung Melayu, Kampung Jawa, Kampung Arab, Kampung Bali, dan sebagainya. Multietnis tetapi hidup penuh toleransi.

Heterogenitas tidak menyebabkan perpecahan, justru warga Ampenan terekat dalam kehidupan yang rukun damai. Karena keunikan itu lah yang kemudian Ampenan dianggap sebagai potensi pengembangan wisata religius sehingga hendak dikembalikan Ampenan sebagai Kota Bandar.

Kota Bandar ini dalam perjalanannya sekitar 1973 tidak lagi menjadi pusat perdagangan, sebab Pelabuhan Ampenan yang merupakan pintu keluar masuk ke daerah ini ditutup dan aktivitas pelabuhan dialihkan ke Lembar, Kabupaten Lombok Barat, yang kemudian dikenal dengan sebutan Pelabuhan Lembar hingga sekarang.

Beberapa tahun lalu sempat muncul gagasan untuk dilakukan revitalisasi eks Pelabuhan Ampenan sekaligus upaya untuk mengembalikan kejayaan Ampenan puluhan tahun lalu sebagai pintu gerbang kedatangan para pedagang dan penyebar agama Islam di Lombok.

Namun, revitalisasi yang dikenal dengan pembangunan proyek Ampenan Harbour dengan rencana akan dibangun sejumlah fasilitas wisata publik mulai dari hotel berbintang, seaworld, waterboom, kuliner, mercusuar, dan masjid batal dilaksanakan, karena ketidakseriusan investor saat itu. (OL-2).



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya