Panas Ekstrem, Hutan Gunung Burangrang Terbakar

Depi Gunawan
25/8/2017 18:51
Panas Ekstrem, Hutan Gunung Burangrang Terbakar
(Areal hutan Gunung Burangrang, yang masuk dalam teritorial Kabupaten Purwakarta, Kabupaten Subang dan Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat terbakar. Mi/Reza Sunarya)

PETUGAS dari Kesatuan Pemangkuan Hutan (KPH) Padalarang, Badan Penanggulangan Bencana Daerah, Forum Kesiapsiagaan Dini Masyarakat, Polisi Hutan, anggota Pramuka, serta dibantu para relawan berjibaku memadamkan kobaran api yang terjadi di kawasan hutan Gunung Burangrang, yang berada di wilayah administrasi Desa Tugumukti Kecamatan Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, Jawa Barat.

Pemadaman dilakukan secara manual karena di sekitar lokasi tidak ada sumber air. Bahkan, petugas pun harus menempuh perjalanan selama tiga jam untuk sampai ke lokasi karena mereka tidak melalui jalur pendakian biasa dengan kemiringan di atas 45 derajat. Kondisi kemarau panjang, ditambah kencangnya hembusan angin, menjadi faktor penghambat petugas saat memadamkan api.

Informasi warga setempat, kebakaran sudah terjadi sejak lima hari lalu, tetapi belum begitu besar sehingga bisa langsung dipadamkan. Namun, kebakaran kembali terjadi pada Kamis (24/8) pagi. Sebelum meluas, petugas berhasil memadamkan api pada sore harinya. Total lahan yang terbakar sedikitnya mencapai 2.500 meter persegi atau sekitar 0,25 hektare.

Untuk memastikan agar api benar-benar telah padam, sejumlah petugas kembali menyisir lokasi kebakaran pada Jumat (25/8) pagi. Kuat dugaan, sumber api berasal dari semak belukar dan tanaman pakis yang tak kuat menahan panas sangat ekstrem.

"Mandor polisi teritorial yang pertama kali melihat kepulan asap, kemudian dia langsung menghubungi saya. Saya lalu minta muspika dari desa dan kecamatan untuk datang ke lokasi, memadamkan api," terang Asisten Perhutani KPH Padalarang, Ferry Yustianto, di lokasi, Jumat siang.

Total petugas yang dikerahkan mencapai sekitar 60 orang, pemadaman dilakukan dengan cara sekat bakar dan menggunakan dahan pohon. Idealnya, kata dia, pemadaman dilakukan dengan disiram air, tapi karena terkendala tidak adanya sumber air, akhirnya pemadaman dilakukan secara manual.

"Antara 1-2 meter dari sumber api, tanah digali atau dipacul supaya api tidak menyebar ke lahan sekitarnya. Kemudian sumber apinya itu dipadamkan dengan dahan pohon. Kami harap secepatnya turun hujan agar pemadaman bisa tuntas, tidak ada lagi ditemukan sumber titik api," tuturnya.

Dia mengaku, kejadian serupa pernah terjadi pada 2015 lalu. Ketika itu, hutan Gunung Burangrang seluas 2 hektare juga terbakar,
"Memang, di atas itu banyak dahan kering dan mudah terbakar pada saat musim kemarau panjang seperti sekarang," jelasnya. (OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya