Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
KEMENTERIAN Sosial memfasilitasi keluarga narapidana teroris (napiter) untuk mengembangkan potensi bisnis dan kewirausahaannya. Caranya, dengan memberikan keterampilan dan keahlian hingga memadai. Mereka juga dipersilakan untuk memilih program pemberdayaan yang tepat dan strategis.
Hal tersebut disampaikan Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa dalam acara yang digagas Badan Nasional Penanggulangan Teroris (BNPT) dan Kemensos di Tanjung Kodok Beach Resort (TKBR), Lamongan, Jawa Timur, Minggu (20/8). Pertemuan itu untuk membahas masa depan dan kelangsungan hidup para napiter dan mantan kombatan.
"Kami mempersilakan untuk mencari format yang tepat bagi mereka. Dan kami akan memberikan pendampingan," ungkap Khofifah di Lamongan, Minggu siang.
Kemensos, kata dia, akan memberikan keterampilan agar dapat mengembangkan potensi bisnis dan melatih jiwa kewirausahaan untuk para napiter bersama keluarga mereka. Namun, Mensos mempersilakan memilih pemberdayaan bidang apa yang akan ditekuni.
"Kami mendukung mereka untuk mandiri. Karena, mereka adalah keluarga besar kami. Kita bisa memfasilitasinya," tambahnya.
Khofifah mengharapkan, pilihan pemberdayaan tersebut bisa fokus satu pilihan materi peningkatan keterampilan. Hal ini agar upaya pendampingan yang nanti diberikan pada keluarga besar napiter bisa dilakukan secara maksimal.
Kemensos juga bisa bisa memfasilitasi keluarga napiter untuk mendapatkan Kartu Indonesia Sehat (KIS) dan Kartu Indonesia Pintar (KIP). Sebab, Kemensos juga diberikan kewenganan untuk mendistribusikan dua kartu tersebut. Termasuk, dapat memfasilitasi untuk mendapatkan Kartu Keluarga Sejahtera (KKS) yang merupakan bagian dari Program Keluarga Harapan (PKH).
Dan saat ini, lanjut dia, KKS batasnya hanya hari ini 13.600 lembar dan KIS 400.000 lembar. Namun, jumlah itu dimungkinkan bisa terus mengalami penurunan. Sebab, proses pendistribusian kartu jaminan tersebut masih terus berlangsung.
"Kami berharap, melalui yayasan agar segera bisa diajukan. Dan nanti pada bulan selanjutnya sudah bisa didistribusikan," ujar Mensos.
Sementara, Khoirul Ihwan, salah satu mantan napiter, mengatakan, sebagai mantan kombatan tidak mudah baginya bersama keluarga untuk bisa mengawali hidup dan berbaur dengan masyarakat luas.
"Kami butuh pendampingan dan pelatihan keterampilan agar bisa mandiri," katanya.
Dengan keterampilan itu, lanjut dia, menjadi bekal untuk hidup dan berinteraksi dengan baik masyarakat luas. Ia juga merasa terbantu dengan adanya Yayasan Lingkar Perdamaian.
"Berat berjuang sendiri. Dan sangat ingin dapat pelatihan membuat fasilitas hidroponik," pungkasnya. (OL-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved