Bea Cukai Gagalkan Penyelundupan Rokok Ilegal ke Makassar

Lina Herlina
17/8/2017 17:52
Bea Cukai Gagalkan Penyelundupan Rokok Ilegal ke Makassar
(Dok. MI)

PETUGAS Kantor Bea Cukai Wilayah Sulawesi menyita satu truk kontainer berisi sekitar 5,5 juta batang rokok ilegal di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.

Kepala Bidang Penindakan dan Penyidikan Bea Cukai Sulawesi, Agus Amijaya, Kamis (17/8), mengatakan, penyitaan dilakukan pada Rabu (16/8) kemarin.

"Rokok dengan pita cukai palsu ditengarai berasal dari pabrik di Jawa Timur sesuai tulisan di kemasan, dan akan diedarkan di berbagai daerah di Sulsel," katanya.

Rokok yang tidak dilengkapi cukai dan pajak alas rokok ini diperkirakan bernilai Rp3,6 miliar.

"Tidak hanya merugikan negara, tapi juga dapat mengganggu kesehatan masyarakat," lanjut Agus.

Agus menambahkan, temuan rokok ilegal berawal dari laporan masyarakat. Pihaknya kemudian melakukan penyisiran di lapangan, dan berhasil menemukan sebuah truk mencurigakan di kawasan Bonto Sunggu, Kecamatan Bantimurung, Kabupaten Maros.

"Saat itu, sopir truk dan rekannya, berinisial SF dan SR tidak bisa menjelaskan terkait barang bawaan mereka. Sang sopir oleh petugas kemudian diminta membuka sejumlah muatan yang terbungkus karung. Ditemukan lah bungkusan rokok berpita cukai palsu dengan merek Surya Indah. Dari lokasi, truk dan sopir langsung diamankan ke Kantor Bea Cukai di Makassar," ungkap Agus.

Menurut dia, temuan rokok ilegal ini sudah berulang kali. Sejak Januari hingga Juli 2017, jumlahnya telah mencapai 8 juta batang. Itu lebih besar jika dibandingkan dengan total temuan tahun lalu, yang mencapai 6 juta batang. Adapun pelaku rata-rata menggunakan modus yang sama.

"Yang didapatkan di lapangan selama ini berperan sebagai sopir yang bertugas per order. Mereka mengaku dibayar begitu barang antaran sampai. Pengirim dan orang tujuan kata mereka tak dikenali, dengan nomor telepon yang berganti-ganti," ujar Agus.

Bea Cukai Sulawesi mensinyalir daerah Sulsel sebagai pasar yang menjanjikan bagi pengedar rokok ilegal. Barang tersebut disukai masyarakat kelas bawah, terutama warga di daerah pegunungan, perkebunan, serta pesisir, karena harga yang lebih rendah dari pasaran.

Meski penyelidikan sering berakhir buntu, Agus optimistis dapat membongkar pelaku hingga ke tingkat produsen.

"Kondisi riilnya memang sulit menemukan orang di balik ini, tapi kita coba kejar sampai ke daerah produksi di Jawa Timur, bekerja sama dengan Bea Cukai setempat," pungkas Agus. (OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya