Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
ANGIN yang bertiup kencang membuat nelayan dengan kapal tradisional di Kabupaten Indramayu, Jawa Barat, tidak melaut.
Ketua DPC Himpungan Nelayan Seluruh Indonesia Kabupaten Indramayu, Dedi Aryanto, menjelaskan, sejak Lebaran, mereka sudah menganggur.
"Sejak Lebaran, hingga sekarang mereka sudah menganggur," katanya di Indramayu, Selasa (25/7).
Dijelaskan Dedi, jumlah nelayan tradisional di Kabupaten Indramayu yang kini menganggur sekitar 10 ribu orang. Nelayan-nelayan ini yang biasa melaut menggunakan perahu jenis sope yang berukuran kurang dari 5 gross ton (GT).
"Ada lebih dari 2 ribu perahu berukuran kurang dari 5 GT yang kini tidak digunakan melaut," kata Dedi.
Angin kencang yang berhembus hingga kini, menurut Dedi, menjadi penyebab nelayan tradisional tidak melaut. Angin kencang itu menyebabkan gelombang tinggi di laut. Kondisi tersebut membuat perahu kecil rawan mengalami kecelakaan sehingga mengancam keselamatan nelayannya.
"Angin kencang dan gelombang tinggi juga membuat penangkapan ikan menjadi sulit," imbuhnya.
Pasalnya, jaring yang ditebarkan kerap terbawa angin. Saat musim angin timur seperti, lanjut Dedi, nelayan tradisional di Indramayu memang mengalami paceklik. Untuk bisa memperoleh hasil tangkapan, para nelayan itu harus mencari ikan di area tangkapan yang lebih jauh dan mengeluarkan modal yang lebih besar.
"Namun hasil yang diperoleh seringkali tidak bisa menutupi modal yang telah dikeluarkan," kata Dedi.
Untuk kapal kecil berukuran kurang dari 5 GT, modal yang dikeluarkan sekali melaut berkisar Rp200 ribu hingga Rp600 ribu. Namun, dengan kondisi angin kencang dan gelombang tinggi seperti sekarang ini, hasil tangkapan yang diperoleh hanya berkisar Rp300 ribu hingga Rp500 ribu.
"Karena hasil yang didapat tidak menutup biaya modal, akhirnya banyak yang memilih istirahat," kata Dedi.
Selanjutnya untuk memenuhi kebutuhan hidup sehari-hari, nelayan terpaksa banting setir dengan menjalani pekerjaan lain. Di antaranya dengan menjadi buruh tani maupun kuli bangunan. Bahkan, ada pula yang tidak bekerja apa pun dan menggantungkan kebutuhan ekonomi keluarganya dari berutang di warung.
Wamin, seorang nelayan tradisional di Kecamatan Juntinyuat, mengungkapkan, jika sejak gelombang tinggi terjadi, dia sudah tidak lagi mencari ikan.
"Jadi tidak ada pemasukan untuk membuat asap dapur mengebul," kata Wamin.
Biasanya, lanjut Wamin, ia melaut untuk mencari ikan teri. Dengan perahu jenis sope, perahu tradisional, ikan teri yang diperolehnya kurang lebih 5 kg per hari. Setelah dipotong kebutuhan perbekalan melaut, uang yang bisa dibawa pulang sekitar Rp30 ribu hingga Rp40 ribu/hari. Namun sekarang, tidak sepeser pun yang didapatkannya. (OL-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved