Batu Dinding Runtuh Lukai Lima Mahasiswa ITB Usai Wisuda

Budi Mulia Setiawan
22/7/2017 22:15
Batu Dinding Runtuh Lukai Lima Mahasiswa ITB Usai Wisuda
(Dok. IWAN KURNIAWAN)

DINDING salah satu tiang bangunan Gedung Center of Art Design and Language (CADL) di Institut Teknologi Bandung (ITB) runtuh dan menimpa mahasiswa yang tengah duduk-duduk di bawahnya.

Insiden itu terjadi Sabtu (22/7) pukul 15.15 WIB. Saat kejadian diketahui, banyak mahasiswa yang duduk-duduk di tangga dekat tiang. Mereka baru saja mengikuti acara wisuda di kampus tersebut.

Berdasarkan informasi yang diperoleh, batu-batu yang menempel pada salah satu tiang di pojok gedung tiba-tiba runtuh. Batu tempel tersebut berukuran variasi antara 15 sentimeter, 20 cm, dan 25 cm.

Lembaga Kemahasiswaan ITB, Bambang Setia Budi, memprediksi jatuhnya batu-batu tersebut karena tidak menempel dengan baik ke bidang beton kolom-kolomnya.

"Ini ada kesalahan teknis dalam pengerjaan dan mungkin juga dalam speknya. Mestinya menempelkan batu tidak begitu saja ke beton yang sudah kering dan dalam kondisi mulus. Harusnya dibuat tidak rata atau diberikan angkur atau besi-besi beton sehingga merekat," kata Budi saat dimintai konfirmasi, Sabtu (22/7).

Setelah kejadian ini, semua batu tempel yang runtuh tersebut dikumpulkan dan dipasang ulang. Bila tidak, dikhawatirkan batu-batu pada sisi tiang lainnya akan terjadi hal yang sama. Akibat kejadian itu, lima mahasiswa terkena musibah. Salah seorang mahasiswa, Litha, harus kehilangan jari manis sebelah kiri. Potongan jari manis Litha yang putus, ditemukan kemudian. Selain itu, Litha juga mengalami luka lecet.

"Sewaktu saya menjenguk, Litha dalam kondisi sadar tetapi hanya bisa menangis," kata Bambang dalam laporan tertulisnya yang disampaikan kepada Wakil Rektor Bidang Akademik dan Kemahasiswaan ITB, Prof Bermawi Priyatna Iskandar MSc, Wakil Rektor Bidang Sumberdaya dan Organisasi ITB, Prof Irawati MS, dan Sekretaris Bidang Kesejahteraan dan Pengembangan Karakter pada Lembaga Kemahasiswaan ITB, Dr Eng Sandro Mihradi.

Adapun korban kedua, Angelica, mengalami luka ringan kaki dan tangannya dan sudah pulang setelah mendapatkan perawatan medis. Kemudian, Annisa Arida yang mengalami retak pada tengkorak kepala akibat tertimpa batu alam yang terlepas dari dinding. Selanjutnya, Dafina Mazaya menderita luka lecet di punggung akibat kejatuhan batu.

"Dafina sempat sadar ada yang runtuh saat serpihan batu berjatuhan. Saat berlari menghindar, batu-batu makin banyak berjatuhan. Satu batu besar menimpa punggungnya," ujar dia.

Korban kelima, Agniatun Nissa, mengalami luka paling parah. Batu alam mengenai kepala Agniatun. Saat ini, korban dalam kondisi tidak sadar. Kemungkinan kepalanya terluka parah akibat kejatuhan batu.

"Saat ini sedang di-scan," tutur Bambang. "Kami semua berduka dengan kejadian ini. Bahkan gedung CADL harus dievaluasi menyeluruh. Jika tidak, khawatir kejadian serupa berulang atau bahkan bisa lebih parah dari kondisi ini," pungkas dia.

Sementara itu, Kapolsek Coblong, Kompol Kasmilan, membenarkan insiden di Kampus ITB tersebut. Untuk sementara, kata dia, kasus ini masih dalam penyelidikan, terutama terkait kelalaian dalam pemasangan batu-batu dinding yang terlepas sehingga mencelakai sejumlah mahasiswa. Para korban kini ditangani secara medis di RS Boromeus.

"Tetap akan kami minta konfirmasi. Terutama masalah kelalaian. Ini harus saya selidiki dulu Namun kami sementara menilai ini bukan suatu kesengajaan. Batu-batu tempel di tembok bangunan terlepas lalu menimpa sejumlah mahasiswa yang sedang istirahat, makan. Berdasarkan fakta di lapangan seperti itu. Kemungkinan biaya pengobatan korban ditanggung ITB,” ujarnya. (OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya