Tinjau Banjir di Babel, Mensos Ajak Pemda Dirikan Kampung Siaga Bencana

Rendy Ferdiansyah
20/7/2017 20:28
Tinjau Banjir di Babel, Mensos Ajak Pemda Dirikan Kampung Siaga Bencana
(Menteri Sosial Khofifah Indar Parawansa mengunjungi lokasi banjir bandang di Belitung, Kepulauan Bangka Belitung, Kamis (20/7). ANTARA FOTO/HO/Humas Kemensos-Ikhwan)

MENTERI Sosial Khofifah Indar Parawansa mengajak Pemerintah Kabupaten Belitung Timur dan Kabupaten Belitung segera mendirikan Kampung Siaga Bencana (KSB) pascabanjir yang cukup parah melanda dua wilayah tersebut.

"Perubahan iklim tidak mudah diprediksi. Apalagi sebelumnya sudah pernah terjadi banjir. Tentu diperlukan kesiapsiagaan kita semua agar hal ini tidak terjadi kembali. Minimal sebagai upaya deteksi dini bencana," Kata Mensos saat menyampaikan arahan di Posko Penanggulangan Banjir Kabupaten Belitung Timur, Provinsi Bangka Belitung, Kamis (20/7).

Sebagai langkah awal, lanjut Mensos, Pemkab masing-masing didampingi tim dari Kemensos segera menentukan lokasi KSB.

"Tidak ada yang ingin tertimpa bencana tapi kalaupun ada bencana kita harus siap dan waspada. Saat ini tercatat ada 323 kabupaten/kota yang berisiko tinggi atau rawan bencana alam maka mari kita tingkatkan kewaspadaan dan kesiapsiagaan kita," papar Khofifah.

Mensos mengatakan, berdasarkan pengakuan Wakil Gubernur Babel Abdul Fatah, banjir kali ini terbilang cukup parah setelah sebelumnya banjir paling parah pernah terjadi pada 1957, atau 60 tahun yang lalu.

Ditambahkan Khofifah, keberadaan KSB di lokasi rawan bencana dimana Taruna Siaga Bencana (Tagana) sebagai fasilitator dan warga masyarakat setempat sebagai relawan terlatih sangat penting dan terbukti mampu melakukan antisipasi dan ketahanan masyarakat saat terjadi bencana alam. Sekaligus menambah jangkauan pemerintah pusat atau Kemensos dalam mengembangkan pendekatan Manajemen Kebencanaan Berbasis Masyarakat.

Jumlah KSB di Indonesia saat ini mencapai 497 dan akan terus ditambah jumlahnya. Pada 2017 ditargetkan akan ada 100 KSB lagi yang berdiri di berbagai wilayah rawan bencana.

Direktur Bencana Alam Kemensos, Adhy Karyono, mengatakan, pihaknya bersama Pemkab Belitung dan Belitung Timur tengah melakukan survei titik yang paling berisiko.

"Untuk Belitung Timur kemungkinan di Kecamatan Manggar dan Kecamatan Gantung. Sementara di Belitung rencanananya di Desa Kemiri Kecamatan Membalong," kata Adhy.

Seperti diberitakan sebelumnya, hujan deras yang berlangsung sejak Jumat (14/7) hingga Minggu (16/7) menyebabkan banjir yang luas di beberapa wilayah di Kabupaten Belitung dan Belitung Timur. Terdapat enam kecamatan di Kabupaten Belitung Timur yang terendam banjir yaitu Kecamatan Simpang Renggiang, Kepala Kampit, Dendang, Damar, Gantung, dan Manggar.

Di Desa Pangkalan, Kecamatan Gantung, Belitung Timur, ketinggian air bahkan sampai atap rumah. Akses jalan penghubung antarkecamatan di Kabupaten Belitung Timur juga terputus disebabkan salah satu bendungan jebol dan menyebabkan banjir hingga lebih dari 3 meter.

Usai menyampaikan arahan, Mensos menuju posko pengungsi di Masjid Al Makmur Kecamatan Gantung. Khofifah menemui beberapa warga lanjut usia (lansia) yang sedang sakit dan kehilangan rumahnya akibat diterjang banjir, meninjau Posko Kesehatan Ibu dan Anak, serta memberikan sapaan dan penguatan kepada pengungsi.

Mensos bersama rombongan kemudian meninjau salah satu lokasi terparah terdampak banjir yakni di Desa Pangkalan yang dikenal dengan Kampung Bugis Nelayan, Kecamatan Gantung, Kabupaten Belitung Timur. Di wilayah ini, air masih menggenangi sebagian besar rumah warga hingga setinggi lutut orang dewasa. Warga desa yang tengah membersihkan rumah dan mencuci perabot tampak menghentikan aktivitasnya. Mereka berduyun-duyun menyambut kedatangan Mensos.

"Sabar ya, Bu," ucap Mensos lirih kepada seorang ibu yang memeluknya. Perempuan berjilbab ini menangis mengisahkan rumahnya terendam banjir.

Kampung Bugis Nelayan merupakan salah satu wilayah yang cukup lama terendam banjir, yakni lima hari berturut-turut. Para kepala keluarga yang berprofesi sebagai nelayan kini tak bisa mencari ikan.

"Tempat penampungan ikan habis diterjang banjir, peralatan mencari ikan juga sudah hanyut semua. Sementara toko kelontong saya juga terendam banjir. tidak ada yang bisa diselamatkan," kata Antoni, 40, yang berprofesi sebagai nelayan.

Terkait hal tersebut, Mensos meminta Bupati Belitung dan Bupati Belitung Timur untuk segera melakukan pendataan warga terdampak bencana untuk persiapan menyaluran Jaminan Hidup (Jadup).

"Masa tanggap darurat bencana adalah 14 hari. Kalau bisa sebelum masa tersebut berakhir sudah ada data yang disahkan oleh bupati. Nanti Kemensos yang akan menyalurkan Jadup. Besarnya Rp900 ribu per jiwa. Bayi dan balita juga dihitung," papar Mensos.

Ia berharap dengan adanya Jadup akan dapat meringankan beban hidup korban banjir dan memberikan bekal untuk meneruskan hidupnya.

"Kepada para nelayan diupayakan mereka mendapat bantuan program Usaha Ekonomi Produktif (UEP)," katanya.

Terkait banjir di Belitung dan Belitung Timur, Kemensos telah menyalurkan bantuan dan santunan total sebesar Rp1.068.091.714. Bantuan tersebut terdiri atas Rp818.657.804 untuk Kabupaten Belitung Timur, dan Rp249.433.910 untuk Kabupaten Belitung. (OL-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya