Headline
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Presiden perintahkan investigasi atas tragedi Bekasi Timur.
Kumpulan Berita DPR RI
KONDISI cuaca yang kurang bersahabat menyebabkan ratusan nelayan tradisional yang menggunakan kapal-kapal kecil di Kedonganan, Kecamatan Kuta Selatan, Kabupaten Badung, Bali, terpaksa menganggur. Mereka tidak bisa beraktivitas mencari ikan karena tidak bisa melaut.
Salah seorang nelayan, Ketut Swala, saat ditemui di Kedonganan, Rabu (19/7), mengatakan, ia dan ratusan nelayan lainnya sudah beberapa hari terakhir tidak bisa melaut. Pemilik 10 jukung nama perahu tradisional setempat ini menjelaskan, kondisi nelayan saat ini memang sepi dan banyak menganggur karena cuaca buruk, seperti hujan, mendung, angin, dan ombak besar.
"Ketinggian ombak di laut sudah mencapai 2 meter lebih. Jadi banyak nelayan kami tidak bisa melaut karena berbahaya jika memaksakan," ungkapnya.
Ia menambahkan, beberapa hari terakhir masih ada nelayan di wilayahnya yang memaksakan diri untuk melaut, tetapi pulang ke darat tidak membawa hasil apa pun. Padahal, operasional yang dikeluarkan cukup besar.
"Untuk satu jukung, kita harus mengeluarkan biaya sekitar Rp400-500 ribu sekali berangkat. Jumlah ini untuk modal ngerawi, bensin, pancing, dan umpan, tetapi hasil tangkapan nol," katanya.
Selain faktor alam, adanya aktivitas kapal besar di perairan Kedonganan dinilai berpengaruh besar pada pendapatan nelayan kapal kecil.
"Dengan fasilitas yang dimiliki kapal besar seperti alat tangkap ikan canggih, mereka bisa menghasilkan ikan berton-ton, sampai 10 ton untuk satu kapal. Sedangkan kita para nelayan kecil ini, berapa sih hasilnya," keluhnya.
Selain itu, menurut Swala, nelayan kecil di Kedonganan ditambah beban dengan biaya bensin yang mahal, harus menggunakan Pertamax. Bahan bakar itu diakuinya susah didapat.
"Katanya nelayan kecil akan mendapatkan subsidi, tapi mana? Selama ini kita tidak pernah tuh dapat yang namanya bensin subsidi. Itu semua omong kosong. Sempat ada selebaran kupon Rp6.500 jadi Rp6.000. Pas mau beli bensinnya tidak ada, sudah habis diborong oleh nelayan kapal besar," tambahnya.
Hal yang sama diungkapkan Hariyanto, nelayan kapal kecil asal Jawa. Kelompoknya sudah dua minggu terakhir tidak melaut dengan berbagai faktor, terutama cuaca buruk. Hal tersebut, menurutnya, sudah berlangsung cukup lama.
"Selain cuaca buruk, ikan juga susah didapat, dengan operasional yang cukup besar. Kalau memaksa melaut paling cuma dapat 20-50 kilo saja," ungkapnya.
Menurutnya, kondisi nelayan kapal kecil di Kedonganan sudah dalam kondisi 'menangis' dan memaksakan diri melaut di wilayah yang terjangkau, susah dapat ikan, karena sudah ditempati oleh nelayan kapal besar.
"Mas lihat sendiri, kapal besar kondisi seperti ini mereka ada di tengah laut. Sedangkan kita, para nelayan kapal kecil menganggur," keluhnya.
Meski begitu, kata Swala, selama ini kumpulan nelayan di Kedonganan selalu kompak, dan berusaha untuk bisa berdamai dengan sesama keluarga nelayan, baik nelayan kapal besar maupun nelayan kapal kecil.
"Ya mau dibilang apa mereka keluarga dan saudara kami juga. Mereka para nelayan kapal besar pastinya sudah mendapat izin resmi untuk berlayar," imbuhnya.
Ia mengaku di kelompok nelayannya ada sekitar 30 orang, dan diketahui untuk selauruh nelayan kapal kecil di Pantai Kedonganan mencapai ratusan nelayan. Bentuk kerja sama yang dibangun antara pemilik jukung dan nelayan bersifat kerjasama saling menguntungkan, bila hasil nelayan banyak, banyak juga hasilnya.
"Kalau hasil tangkapan nelayan berhasil kita jual dengan harga Rp20 ribu per kg atau Rp15 ribu untuk nelayan. Dari jumlah itu, Rp5 ribu ke pemilik jukung, tetapi sebelumnya dipotong modal opersional, karena kita harus kasih modal di depan untuk operasional, kalau tidak ada modal, nelayan tidak bisa melaut," terangnya. (OL-2)
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved